KRIMINAL

JATIMPOS.CO/KABUPATEN MADUN  - Pasangan Suami Istri (Pasutri), Rudiansah alias Tama warga Lampung dan Monica warga Bandung tersangka kasus pencurian ATM dengan modus mengganjal ATM terancam sembilan tahun penjara.  Hal ini setelah mereka berdua ketahuan melakukan pencurian ATM dan berhasil ditangkap oleh jajaran Polres Madiun.

JATIMPOS.CO//SAMPANG- Sidang kasus pembunuhan gara-gara bertengkar di Medsos terhadap Subaidi, warga Kecamatan, Sokobanah, Kabupaten, Sampang yang dilakukan oleh Idris (32) warga Desa Tamberu Laok Kec. Sokobanah Sampang akhirnya di putus Majelis Hakim PN, Sampang, kemarin (2/4). 

Hakim menjatuhkan vonis seumur hidup terhadap terdakwa Idris, karena terbukti melanggar pasal 340 KUHP, tentang pembunuhan berencana.

Dalam agenda sidang putusan, hakim menyatakan terdakwa Idris terbukti melanggar pasal 340 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tentang pembunuhan berencana. Dalam putusan seumur hidup itu, terdakwa Idris menyatakan ingin pikir-pikir.

Arman Syahputra. SH, kuasa Hukumn Idris, menyatakan bahwa dirinya masih berkoordinasi dengan pihak keluarga kliennya, karena menurut Arman, masih ada tenggang waktu 7 hari dari putusan Majelis Hakim, dirinya merasa keberatan karena eksepsi kliennya tidak jadi pertimbangan oleh Majelis Hakim PN Sampang.

Vonis Hukuman seumur hidup dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Budi Setyawan, hakim ke-2 I Gede Perwarta dan Hakim ke-3 Hakim Afrizal. Putusan Majelis Hakim tetsebut, Selasa (02/04/2019. Sekitar pukul 10.30 WIB.

Sebagaimana diketahui, kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Idris terhadap korban Subaidi dengan senjata menggunakan senjata api, terjadi pada 21 November 2018, di Desa Sokobanah Tengah. Penyebabnya terpidana Idris dan korban Subaidi terlibat pertengkaran di media sosial (Medsos).

Terpidana Idris berpura-pura mau pasang gigi karena profesi korban sebagai tukang gigi. Ditengah perjalanan terpidana Idris menimbak Subaidi dengan senpi jenis bareta buatan Italia, tepat didadanya hingga tembus ke perut korban.

Korban saat itu masih mendapat perawatan medis namun korban tidak bisa diselamatkan dan meninggal di salah satu Rumah Sakit Surabaya. Dan kini Idris sebagai pelaku pembunuhan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya mendekam di penjara seumur hidup. (dir)

 

JATIMPOS.CO/MOJOKERTO - Kasus tindak pidana prostitusi dan tindak pidana perdagangan orang berhasil diungkap jajaran Polres Mojokerto Kota Jawa Timur.

JATIMPOS.CO/JOMBANG - Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Jombang kembali membongkar pabrik pembuatan minunan keras (Miras) jenis Arak putih yang ada di Dusun Gedangkeret, Desa Banjardowo, Kecamatan/Kabupaten Jombang.

JATIMPOS.CO//KOTA MALANG-Aisha Kurnia Widyastuti diduga melakukan penipuan terhadap beberapa orang yang menjual tanah di beberapa daerah di kota Malang. Salah satu korbannya adalah Lyla Herawati, SH., MHum seorang notaris.

Lyla berkapasitas sebagai notaris untuk transaksi jual beli tanah kavling yang dibeli oleh Aisha Kurnia Widyastuti. "Saya ini hanya perantara penjual dan pembeli tanah, karena tugas notaris ya sebagai pejabat pembuat akta tanah. Tetapi kok saya jadi korban?," ujarnya, Minggu (17/03).

Ia menyebut bahwa Aisha ini sebagai pembeli tanah dan membuat kesepakatan jual beli tanah tersebut dengan penjual tanah bahwa diberi kuasa dijual kembali tanah tersebut sebagai tanah kavling untuk perumahan.

Lyla melanjutkan, setelah dibayarkan uang muka terlebih dahulu dan sisa uang tanah tersebut dibayarkan setelah kavling - kavling tersebut terbayarkan, tetapi setelah terbayarkan semua, si pelaku kabur membawa uang yang telah dibayarkan.

"Bu Aisha Kurnia Widyastuti itu malah lari dengan membawa uang tersebut. Mau tidak mau saya harus membayarkan kekurangan pembayaran tanah itu karena para penjual tanah datang ke kantor saya dengan membawa wartawan," katanya.

"Padahal saya tidak tau keberadaan Bu Aisha Kurnia Widyastuti itu dan posisinya saya ini cuma pejabat pembuat akta tanah saja," tambahnya.

Ditempat terpisah, pengacara yang mendampingi korban merasa geram atas perbuatan pelaku yang menipu kliennya.

Menurutnya, tidak seharusnya Lyla membayarkan uang tanah tersebut karena dia hanya sebagai pejabat pembuat akta tanah bukan sebagai pembeli dan penjual. 

"Notaris itu kan tidak tau apa apa, dan tidak semua alamat keberadaan tempat tinggal semua kliennya dia tau betul," ujar Pengacara korban.

Ia memastikan bahwa tanah tersebut yang diperjual belikan tidak dalam sengketa, ketika aman maka terjadilah proses jual - beli. Akibat penipuan ini, Lyla harus membayar 1 milyar lebih dari perbuatan yang dilakukan oleh Aisha.

"Bu Aisha Kurnia Widyastuti harus bertanggung jawab atas perbuatannya itu. Dia itu punya anak dan punya keluarga besar, apa tidak malu ketika anak dan keluarga besarnya tau tentang ini?," tutur advokat muda itu.

Menurutnya, sudah banyak yang menjadi korban dari pelaku, dan beberapa sudah membuat laporan di Polres Kota Malang. Ia pun tak mau ketinggalan, pihaknya akan melaporkan Aisha ke pihak yang berwajib.

"Kami juga akan menyusul membuat LP di Polda Jatim, semoga segera tertangkap pelaku tersebut dan mempertanggung jawabkan perbuatannya," ujar pria berkacamata itu.(yon)