JATIMPOS.CO/KOTA MADIUN – Ini merupakan kabar baik bagi pecinta kuliner yang ada di Madiun. Kini, warga Madiun tidak perlu jauh – jauh ke Surabaya untuk menikmati menu – menu Yoshinoya yang memang citarasanya asli dari Jepang. Karena, Store Yoshinoya yang berada di Plaza Lawu Madiun sudah resmi dibuka.

Grand Opening Store Yoshinoya yang berada di Plaza Lawu Madiun pun digelar pada Sabtu (20/4/2019). Ditandai dengan potong tumpeng oleh Wali Kota Madiun, Sugeng Rismiyanto. Kemudian, potongan tumpeng diberikan kepada perwakilan Store Yoshinoya Madiun, Agustin Wigin.

Diantara yang hadir dalam Grand Opening Yoshinoya Madiun itu diantaranya, Wali Kota Madiun, Sekda Kota Madiun, Ketua MUI Kota Madiun, Kapolres Madiun Kota dan tamu undangan lainnya.

Senior Marketing Activation Manager Yoshinoya Indonesia, Zuhdan Kamal mengatakan, dibukanya Store Yoshinoya di Plaza Lawu Madiun ini diantaranya untuk mendekatkan masyarakat madiun agar bisa menikmati menu makanan dengan citarasa asli dari Jepang hanya di Yoshinoya. Sehingga momen kebersamaan dengan keluarga atau pun teman semakin lengkap dan tidak perlu jauh – jauh ke Surabaya.

“ Kita ingin mendekatkan dengan masyarakat Madiun agar bisa menikmati menu – menu Yoshinoya yang memang citarasanya asli dari Jepang, “ terangnya.

Lebih lanjut dia katakan, salah satu menu andalan Yoshinoya adalah Beef Bowl, irisan daging sapi gurih yang disajikan diatas nasi dengan resep asli Jepang yang sudah lebih dari 100 tahun. Beef Bowl Yoshinoya sudah terbukti sebagai makanan khas Jepang yang sangat digemari karena selalu menggunakan pilihan bahan terbaik 100 persen daging sapi USA dan sayuran segar.

Selain itu, Yoshinoya juga menyajikan berbagai varian menu ayam dengan menggunakan kualitas ayam terbaik dan diracik dengan bumbu pilihan khas Yoshinoya. Dan yang terpenting lagi semuanya dijamin halal. Karena, Yoshinoya Indonesia telah mendapatkan sertifikat halal dari Majlis Ulama Indonesia (MUI).

“ Komitmen Yoshinoya untuk memberikan makanan halal yang berkualitas baik tidak perlu diragukan lagi, semua variasi menu di Yoshinoya bertujuan memberikan pilihan halal bagi seluruh anggota keluarga Indonesia agar dapat menikmati varian daging ayam maupun daging sapi, “ jelasnya.

Zuhdan Kamal menambahkan, pembukaan Yoshinoya di Plaza Lawu Madiun ini akan memberikan tiga promo besar. Diantaranya, diskon 76 persen menu Beef Bowl dari harga Rp. 43 ribu menjadi Rp. 10 ribu saja. Promo berlaku mulai jam. 14.00 wib – 17.00 wib untuk 200 pembeli pertama mulai 21 April hingga 4 Mei 2019.

Kemudian, untuk 100 konsumen pertama akan mendapatkan gratis payung reversible Yoshinoya setiap pembelanjaan minimal Rp. 125 ribu untuk menu apapun. Promo ini berlangsung selama seminggu, mulai 21 April hingga 28 April 2019.

Selain itu, Yoshinoya Plaza Lawu Madiun juga memberikan gratis fasilitas Birtday Party untuk 150 pendaftar pertama dengan minimal 20 anak. Fasilitas komplit Birtday Party yang diberikan secara gratis diantaranya, hadiah, souvenir, balon stick, backdrop, dekorasi, meja, kursi, pembawa acara, sound system, kartu undangan dan topi birthday.

“ Yoshinoya ini berdiri sejak tahun 1899 di Tokyo, Jepang. Ada lebih 2000 lokasi Store Yoshinoya. Sedangkan di Indonesia telah memiliki hampir 100 Store Yoshinoya. Dan di Madiun merupakan Store Yoshinoya yang 99 yang ada di Indonesia, “ pungkasnya. (jum).

 

JATIMPOS.CO/PONOROGO - Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Ponorogo, Hj. Sri Wahyuni Ipong Muchlissoni, mengahadiri sekaligus membuka Lomba Kreasi dan Inovasi jajanan yang berbasis pangan lokal non beras dan terigu, tingkat Kabupaten Ponorogo tahun 2019. Acara berlangsung di Hall Ponorogo City Centre Jl. Juanda No.19, Rabu (20/3/2019).

JATIMPOS.CO//SURABAYA - Keinginan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk mengemas tampilan Festival Rujak Uleg 2019 yang lebih heboh dan menarik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, benar adanya. Agenda tahunan yang digelar untuk menyemarakkan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-726 ini benar-benar “wow”.

Kawasan jalan legendaris, Kembang Jepun Surabaya yang menjadi lokasi Festival Rujak Uleg 2019, pada Minggu (17/3/2019) pagi, berubah menjadi lautan manusia. Warga Kota Surabaya dan para wisatawan tumplek-blek di kawasan tersebut. Bahkan, festival itu sukses memecahkan dua Rekor MURI sekaligus, yaitu cobek terbesar dan peserta terbanyak.

Pada kesempatan itu, Wali Kota Risma dan para tamu undangan dari konsulat jenderal negara sahabat yang ada di Surabaya, Organisasi Perangkat Daerah (OPD), dan tamu VIP nguleg bareng di cobek “raksasa”. Setelah itu, Wali Kota Risma membagikan rujak yang diulegnya itu kepada salah satu warga yang menyaksikan festival itu.

Wali Kota Risma mengajak kepada seluruh warga Kota Surabaya untuk bergandengan tangan. Sebab, dengan cara bergandengan tangan itu akan bisa maju lebih cepat lagi. “Ayo kita bersama-sama melupakan perbedaan. Mari kita tingkatkan persamaan, kita buat persamaan itu menjadi kekuatan kita untuk lebih maju lagi ke depannnya,” kata dia.

Wali kota perempuan pertama di Kota Surabaya itu juga menjelaskan bahwa Rujak itu sudah mendapatkan penghargaan dari pemerintah pusat karena gizinya sudah lengkap. Di dalam rujak itu terdapat sayuran, daging, dan kacang-kacangan, sehngga rujak itu termasuk makanan yang gizinya sudah lengkap. “Rujak uleg ini sudah masuk dalam hak paten, hak merk di Kota Surabaya. Jadi insyallah tidak ada yang bisa ngambil,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surabaya Antiek Sugiharti mengatakan Festival Rujak Uleg kali ini sukses memecahkan dua Rekor Muri sekaligus, yaitu cobek terbesar dan peserta terbanyak. Khusus untuk cobek terbesar, Pemkot Surabaya kali ini menggunakan cobek raksasa yang terbuat dari Batu Gunung dengan diameter 250 cm, berat 1,5 ton, tinggi cobek 30 cm, tinggi dudukan cobek 140 cm. Cobek ini dapat digunakan sebanyak 20-25 orang. “Rekor cobek terbesar ini baru pertama yang didapatkan oleh Pemkot Surabaya,” kata Antiek seusai acara.

Sedangkan Rekor MURI kedua adalah peserta terbanyak. Khusus untuk peserta yang ikut dalam festival kali ini ternyata membengkak. Awalnya, panitia hanya menerima sebanyak 1.692 orang, namun karena antusiasme para peserta yang tinggi, akhirnya dibuka lagi hingga mencapai 1.800 lebih. “Kalau kita tidak tutup, pesertanya pasti lebih banyak lagi. Rekor peserta terbanyak ini, kami memecahkan Rekor MURI sebelumnya, yang mana dulu tahun 2013 kami sudah mendapatkan Rekor MURI dengan peserta 1.300, tapi kali ini 1.800 lebih,” kata dia. (fred)

 

JATIMPOS.CO//TUBAN- Umumnya Kue lumpur adalah penganan ringan dengan berbahan utama santan, kentang, tepung terigu, dan telur. Sebagai pewangi digunakan vanila dan seringkali diberi hiasan kismis dan kelapa muda iris di permukaannya. Kue ini tergolong kue basah sehingga tidak tahan disimpan lama.

Kue lumpur ini sekarang di Bumi Wali, sebutan Kota Tuban, yang dikenal merupakan jajanan tradisional Indonesia. Tapi berkat kreatifnya tangan seorang wanita asal Sidoarjo ini berubah wujud menjadi panganan milenial dipadu bumbu rahasia.

 “Tidak hanya dari asalnya kini mulai banyak diminati muda-mudi dan pada umumnya oleh warga di Kabupaten Tuban Bumi Wali langsung diburu banyak pembeli juga dari segala usia,” kata Ernawati, Owner toko kue ‘Muda Mudi Jaya’ saat ditemui jatimpos.co, Minggu, (17/03/2019)

Paparnya lagi, jajanan tradisional yang bercitarasa seperti makanan Internasional ini, sekarang juga sudah menjafdi viral dan banyak diminati masyarakat di Jawa Timur pada khususnya dan daerah lain pada umumnya.

Kehadiran toko Kue Lumpur cabang di Kabupaten Tuban, yang berlokasi di Jalan Basuki Rahmad nomer 299 Tuban itu pun langsung ramai dikunjungi pembeli, baik dari warga tuban sendiri maupaun luar kota.

"Rasanya enak mas, dan beda dengan kue yang lain. Saat di makan juga seperti ada lumeran lumpur yang lembut di lidah dengan cita rasanya yang khas," kata Pelanggan kue lumpur ini, Dwi Kana Endra Yanti, (51), seorang wanita asal Kecamatan Turen, Kabupaten Malang yang kebetulan sedang liburan di Tuban kepada media ini.

Cara pembuatan kue lumpur tersebut juga tergolong unik, setelah semua bahan adonan tercampur, adonan tersebut dimasukkan ke dalam cetakan dan di masak menggunakan alat masak tradisional seperti tungku yang berisi arang yang diletakkan di atas dan bawah cetakan.

Alat masak unik itu, membuat kue lumpur milik Ibu Ernawati yang memiliki tujuh cita rasa matang sempurna dengan tekstur padat diluar dan lembut seperti lumpur saat dimakan.\

"Kita menyediakan sejumlah cita rasa, seperti, Original, Nangka, Kelapa, Green Tea, Durian, coklat, dan keju," kata Ernawari.

Selain itu, toko kue juga menyediakan dua rasa khas lokal Tuban yang tidak ada di cabang kota lainnya.

"Kita ada rasa buah Siwalan dan Waluh yang menjadi ciri khas kue lumpur muda-mudi Tuban. Sedangkan untuk cabang yang di Malang kita pakai ciri khas Nangka dan Durian," imbuhnya.

Menurutnya setelah nanti sukses di Tuban akan dikembangkan untuk daerah Bojonegoro dan lainnya. Untuk harga, kue lumpur muda-mudi ini tergolong cukup murah, yaitu seharga Rp 25.000 untuk satu box berisi 10 butir kue lumpur dengan rasa Original. Kemudian Rp 30.000 untuk satu box berisi 10 butir kue lumpur varian rasa. Kini, hadir di Tuban Bumi Wali.

Keunikan di toko ini juga bisa ditemukan jajanan khas daerah Tuban lainnya, seperti Bongko, Nagasari, Gethuk Lindri dan lain-lain. “Biar pembeli juga bisa menikmati jajanan khas daerah, sehingga mereka selain membeli kue lumpur kami juga dan tentunya kami kemas semenarik mungkin dan higienis,” pungkasnya.(met)

 

JATIMPOS.CO/BOJONEGORO - Pasar Ngat, sebuah pasar wisata di Bojonegoro yang menyediakan aneka jenis kuliner khas ‘ndheso’ dengan penyajian suasana tempo dulu.