Pancake Durian dan Durpas

JATIMPOS.CO. Bagi penggemar durian tapi tak  mau repot bergelut dengan kulitnya, mungkin pilihannya adalah durian siap santap. Nah, kini bisnis rumahan (home industry) lagi demam bikin Pancake Durian. Salah satunya adalah Pancake Durian buatan ibu muda Nyemas Rona yang akrab disapa Mbak Uci, warga Rungkut Mapan Timur, Surabaya.


Mbak UciLewat tangannya ia mulai menciptakan Pancake Durian yang kini mulai digemari banyak orang. Bukan hanya pancake, tapi ada pilihan lainnya. Bagi yang suka dengan rasa original, tersedia Durian Kupas (Durpas) yang masih ada bijinya. Atau bagi yang tak ingin repot dengan bijinya, tersedia Daging Durian (Dagdur). Semuanya enak-enak, manis, dan nikmatnya serasa tinggal di leher. Untuk rasa tak perlu khawatir, dijamin manis. Bahkan, Uci menggaransi, jika tak manis uang kembali. “Tapi, jangan setelah habis setengah box terus bilang gak manis,” ujar Uci bercanda. 

Soal bahan baku, Uci mengaku, memang tidak sembarangan. Durian yang diperolehnya didatangkan langsung dari Medan. “Durian yang terkenal enak kan dari Medan, terutama dari Sidikalang. Kalau Siantar tuh biasanya berair,” jelas Uci.

Uci mengaku, bisnis Pancake Durian ini ia mulai sekitar tiga tahun lalu. Saat itu, ibunya menyarankan mencobanya mumpung Pancake Durian lagi booming. Merasa mendapat ide, Uci mulai mencari tahu tentang bisnis Pancake Durian. Ia mulai mencari tahu tentang sumber bahan baku dari mana, paling tidak untuk menekan biaya produksi.
 

Pancake DurianSetelah mengetahui semua, ia mulai browsing di internet tentang resepnya. Uci juga ikut berbagai seminar, seperti yang diselenggaran Blueband. Dari resep Blueband kemudian di mix, akhirnya jadi juga. Setelah merasa cocok, hambatan lain muncul, bagaimana membikin kulitnya. Maksudnya, lapisan atas Pancake Durian yang warna-warni itu. Akhirnya browsing lagi, Uci penasaran orang-orang koq bisa ya. Ternyata di kemudian hari ia tahu kalau untuk membuat kulit itu menggunakan Teflon. Akhirnya dapat alatnya, namanya lucu, “Wajan Kebalik”. Caranya dibuat adonan kemudian ditaruh di atas api. Pertama kali bikin agak tebal dan kelihatan kurang cantik, terus dikomen sama orang-orang. “Ini koq bentuknya kayak gini sih, rasanya sih udah lumayan, tapi kulitnya agak tebelan,” kata si customer.

Waktu itu, pokoknya banyak komplinan, mulai dari bentuknya sampai warnanya. Terus ada yang bilang, mbak saya ingin nyoba sekalian jualan. Uci memang mengawali bisnis ini dengan maksud mempelopori Pancake Durian dengan harga lebih murah. Biar untung sedikit tapi kuantitinya (jumlahnya) banyak. Tantangan baru datang, karena waktu itu Uci belum punya modal. Freezer saja tidak punya, bagaimana mau produksi banyak. Bahkan, ada reseller datang ke rumah, dia bilang “Duh, agen koq gak punya freezer.”

Saat itu, Uci memang benar-benar prihatin, freezer kulkas yang digunakan sudah tidak muat. Bahkan, tengah malam kadang terbangun karena lampu mati, gara-gara kulkasnya sudah tidak muat. 

Tak lama kemudian, Uci mendapatkan pinjaman uang Rp 800 ribu. Dengan dana itu ia gunakan untuk membeli daging durian. Jadi, kalau ditanya modal awal bisnisnya, ya Rp 800 ribu itu. Pertama kali beli daging durian masih mahal. Waktu itu, di Surabaya kalau mau dapat murah harus beli minimal 30 Kg. Kalau dulu, Uci belinya masih di Surabaya karena belum punya link, tapi sekarang beli langsung dari Medan. Uci juga jual durian kupas (durpas), tapi ada yang nanya koq ada pahitnya. Loh, durian yang asli memang begitu. Durian Sidikalang itu bentuknya bulat-bulat, tidak lonjong.

Durpas atau Durian KupasSeiring dengan berjalannya waktu, bisnis Pancake Durian milik Mbak Uci makin maju. Meski ia juga menjual secara eceran, tapi lebih banyak yang pemesan dari resellernya. Boleh dikata bisnisnya mengarah ke pasar grosir. Ia pun akhirnya mampu membeli empat unit freezer karena pesanan makin banyak.

Konsumennya bukan saja di area Surabaya dan Jawa Timur, tapi sudah merambah sampai Jakarta, bahkan Nusa Tenggara. Produksinya, jika dirata-rata sekitar 25 box per hari. Bagaimana dengan daya tahan, menurut Uci, pancake bisa bertahan sampai 1 bulan, dan itu justru lebih nikmat. Bahan-bahan yang digunakan pun tanpa pengawet, asli semua, mulai dari susu murni, kalau ada campuran airnya itu biar tidak terlalu nek saja, dan biar tidak terlalu tebal di kulitnya. Selain itu, menggunakan gula dan garam asli.

Awal kemunculan Pancake Durian adalah keinginan orang untuk makan daging duriannya saja tapi dengan sensasi yang berbeda. Dulu, awal-awalnya bikin Pancake Durian, Uci pernah mencoba tanpa krim. Sebab, ada yang komlain, Pancake koq pake krim. Padahal penggunaan krim itu sebagai toping saja. Seperti orang minum kopi di atasnya dikasih krim, sehingga ada sensasi disitu.

Sampai saat ini, Uci hanya membuat satu macam pancake, meski sebenanrnya bisa dibuat macama-macam, misalnya Pancake Durian Ice cream, bisa juga pakai buah-buahan, atau coklat juga enak. Soal warna-warni pada Pancake Durian itu adalah kulitnya saja sebagai perisai. Warnanya bisa kuning, hijau, coklat, sesuai selera.

Pancake Durian buatan Uci dibagi dalam tiga ukuran, yakni Mini isi 21 biji harga Rp 60 ribu, Medium isi 10 harga Rp 50 ribu, dan Jumbo isi 10 harga Rp 70 ribu. Selain itu, ada Durian Kupas (Durpas) harga Rp 55 ribu, dan Daging Durian (Dagdur) harga Rp 70 ribu.

Menurutnya, ini adalah harga grosir untuk reseller. Karena ini makanan beku biar tidak cepat lembek, maka pengirimannya minimal satu koli. Per koli itu sama dengan 25 box. Tentu saja itu di luar ongkos kirim, karena itu dihitung berdasarkan jumlah dan jarak tempuhnya. Untuk pemesanan bisa menghubungi Mbak Uci di telepon 08755042030 ataun Pin BB 2B1379F7.

Obsesi Mbak Uci, suatu ketika ia ingin mempunyai gerai Pancake Durian di Surabaya. Untuk mewujudkan mimpinya itu ia tak memasang target, tapi terus berusaha dan belajar untuk menjadi lebih baik. Suatu ketika terbersit keinginan untuk mensuplai para pedagang Pancake Durian di tepi-tepi jalan, tapi urung ia lakukan karena sadar tak ingin merebut rezeki orang lain. Nyemas Rona alias Mbak Uci yakin bahwa Tuhan telah mengatur rezeki masing-masing orang. | jufri yus