Restoran Al Hamra di Jalan jaksa Agung Suprapto, Surabaya.

JATIMPOS.CO. Kuliner Timur Tengah kini tak lagi didominasi oleh kawasan Sunan Ampel. Sebuah restoran  Timur Tengah yang dikemas dengan nuansa Kerajaan Maroko bernama Al Hamra, kini hadir di Jalan Jaksa Agung Suprapto, (tepatnya seberang jalan samping Balai Kota) Surabaya. Menu utamanya sajian ala Timur Tengah yang tak kalah enaknya. Restoran ini buka mulai pukul 10.00 sampai 22.00 WIB.


Menu nasi mandi atau Mandee Rice adalah favorit di tempat ini. Menggunakan beras Basmati yang berasal dari India dan Pakistan. Sesuai dengan namanya 'Basmati' yang dalam bahasa Sansekerta  berarti harum atau wangi, beras ini memang aromanya sangat harum. Keistimewaan lainnya, butiran atau buliran beras ini panjang dan kecil melebihi ukuran beras yang biasanya agak pendek dan montok.

“Beras basmati ini kadar gulanya rendah. Jadi, kalau orang punya penyakit diabetes atau kolesterol, cocok mengkonsumsi beras jenis ini,” kata Rhino James, Manager Restoran Al Hamra.  Beras Basmati, meskipun tidak terlalu pulen namun enak disantap dengan lauk daging kambing yang hangat dan empuk. Selain empuk, bumbunya meresap sampai ke dalam. Hemm… nikmatnya.
 
Nasi Mandi atau Mandee Rice.Makanan yang berasal dari Yaman ini memiliki bentuk dan rasa yang mirip seperti nasi kebuli, hanya saja warnanya lebih putih. Harganya tidak terlalu mahal, 70 ribu per porsi. Makan Mandee Rice membuat perut Anda tidak cepat kenyang, seperti nasi putih di rumah. Meski demikian, makan di tempat ini jangan terburu-buru. Sisakan ruang di perut, sebab masih ada makanan lainnya yang harus disantap.

Jika suka dengan daging yang berkuah, pesanlah Soup Maraq. Saat mencicipi, dijamin Anda tak bosan untuk terus menyeruputnya. Apalagi cuaca dingin yang menginginkan makanan yang panas-panas. Harga untuk semangkuk Soup Maraq hanya Rp 34 ribu.

Selain itu, ada Haneed yang lebih akrab disebut kambing oven. Menurut James, panggilan akrab Rhino James, Haneed harafiahnya adalah Sup Kambing. Hanya proses masaknya saja yang berbeda. Bumbu-bumbunya seperti kapulaga, jinten, cengkeh. Setelah direbus setengah matang, dibungkus aluminium foil lalu di oven. Saat disajikan, kuahnya dipisah tersendiri. Menu ini, di Surabaya lebih dikenal dengan kambing oven. Harga untuk satu porsi Rp 74 ribu.
 
Sebagai makanan penutup ada camilan bernama Sambosa, semacam gorengan Timur Tengah yang isinya daging kambing. Dalamnya hampir mirip seperti martabak telur. Makanan ini enak banget dicocol sama sambel yang agak-agak asem. Satu porsi Sambosa terdiri dari tiga buah dengan harga Rp 23 ribu.

Setelah menikmati semua makanan berlemak itu, mungkin Anda takut dengan naiknya kolesterol. Makanan Timur Tengah memang didominasi oleh lemak. Tapi jangan khawatir, sebab seperti halnya restoran Timur Tengah lainnya, Al Hamra juga menyediakan penangkalnya.

Ada minuman yang ditawarkan, yakni Syai Adeni, berupa teh yang dicampur susu dan rempah-rempah dengan aroma yang tajam, harganya Rp 28 ribu/poci. Ada pula Syai Bil Na’na, yakni teh yang direndam dengan daunnya, harganya Rp 22 ribu/poci. Ini juga yang menjadi kebiasan orang-orang di Timur Tengah, biasanya setelah makan kambing, disudahi dengan minum kedua teh tersebut untuk menetralisir.
 
Haneed atau kambing oven.Mengenai resep, pemilik Restoran Al Hamra, Muhammad Saleh Bobsaid mengatakan, ini semua merupakan resep keluarga. Resep dari  dari Yaman dan Syria, kemudian dikolaborasi untuk menyesuaikan dengan lidah orang Indonesia, tentunya tidak lepas dari arahan sang Ummi (Ibu). Namun bumbu-bumbunya merupakan impor langsung dari Timur Tengah. Kambingnya diperoleh dari wilayah Jawa Timur saja, seperti Pare-Kediri, Malang dan Madura, namun pemotongan dilakukan sendiri.

Namun, pemilihan kambing benar-benar yang muda, usianya sekitar 5-6 bulan. Itu makanya, dagingnya benar-benar empuk dan lezat. Tapi, yang lebih istimewa karena saat menyantap dagingnya, tak ada aroma amis kambing sama sekali.

Sebagai restoran baru, Al Hamra boleh dikata cukup berhasil. Sejak soft opening pada 13 April 2015 lalu, pengunjungnya tak pernah sepi. Pengunjung yang datang rata-rata 100 orang per hari, bahkan di malam hari, terutama saat weekend, restoran seluas 600 m2 dengan kapasitas 150 orang itu full booked.

James menggambarkan, di hari pertama buka, pihaknya menyediakan 25 kg daging kambing, dan ludes. Hari kedua ditingkatkan 30 kg, lalu 35 kg, dan ludes terus. Saat ini, ia menyediakan rata-rata 40-45 kg per hari. Tapi, saat weekend ia menyediakan sampai 70 kg atau sekitar 8 ekor kambing.

Ada daya tarik lain yang membuat pengunjung penasaran untuk mampir di restoran baru ini. Arsitekturnya, kata sang owner Muhammad Saleh Bobsaid, adalah gaya Kerajaan Maroko, sebuah negara Islam di Afrika Utara.

Anda akan makin merasa seperti berada di Kerajaan Maroko, saat berada di dalam, karena ornamen, meja, dan bilik-biliknya, benar-benar nuansa Kerajaan Maroko. Tinggal pilih, mau duduk di meja atau lesehan. Untuk keluarga yang ingin lebih santai biasanya memilih lesehan di atas karpet Turki yang tebal dan empuk.

Muh, panggilan akrab Muhammad Saleh Bobsaid, mengatakan semua desain restoran ini dibuat sendiri. Hal itu bisa dilakukan karena kebetulan dirinya memang suka menggambar. Selain itu, untuk menyuruh orang lain tentu biayanya sangat mahal.
 
Syai Adeni, berupa teh yang dicampur susu dan rempah-rempah.Muh juga mengatakan, pihaknya ingin memanjakan tamu-tamunya dengan menyediakan barang-barang yang mahal namun tetap terjangkau. Bahkan, kata Muh, alat makan seperti piring, sendok, dan gelas, adalah barang-barang berkualitas yang bisa dinikmati para pengunjung yang makan disini.

Restoran Al Hamra juga menyediakan ruangan VIP dengan kapasitas 6-8 orang. Ruangan kedap suara dengan desain kerajaan ini dibandrol Rp 3,6 juta. Harga itu sudah lengkap, mulai dari makanan pembuka, makanan utama, sampai makanan penutup. Ada juga meeting room yang dilengkapi fasilitas proyektor dengan kapasitas 12 orang. Untuk ruangan ini dibandrol Rp 170 ribu/orang per 4 jam.

Pengunjung yang datang saat ini masih didominasi tamu dari daerah Ampel atau sekitar 75-80 persen. Sisanya adalah warga lokal Surabaya, ada juga dari sejumlah pesantren dari Sidoarjo, Malang. Yang menarik adalah etnis Tionghoa dan orang asing juga tertarik untuk menikmati masakan Timur Tengah ini. | jufri yus