JATIMPOS.CO/SAMPANG - Jelang Pemilihan Umum (Pemilu) serentak pada 17 April mendatang, sejumlah ulama dan habaib perwakilan Kabupaten Sampang mendatangi Mapolres Sampang, Jumat (5/4/2019).

JATIMPOS.CO//PASURUAN - Dua wartawan yang bertugas di wilayah Pasuruan mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan dari oknum anggota polisi saat liputan di Polres Pasuruan Kota, Senin (25/3/2019) siang. 

Mereka adalah Ary Suprayogi, wartawan TV One dan Iwan Nurhidayat, wartawan online lokal, Suara Publik di wilayah Pasuruan.

Ary Prayogi m.engungkapkan sekitar pukul 09.12 WIB, sedang mengambil gambar halaman Polres Pasuruan Kota. Mereka mengambil suasana Mapolres Pasuruan kota siang itu. Kedua wartawan ini ingin melanjutkan berita kaburnya empat tahanan narkoba yang ada di Polres Pasuruan Kota, Jumat lalu.

Awalnya, proses pengambilan gambar berjalan biasa. Karena hanya mengambil gambar suasana dan kondisi Mapolres Pasuruan termasuk lorong dan board papan tulisan Polres Pasuruan Kota.

Pukul 09.18 WIB Ary Suprayogi dan Iwan Nurhidayat bertemu dengan Kasatreskrim Polres Pasuruan Kota AKP Slamet Santoso dan wartawam JTV, Abdul Majid.

Pukul 09.20 WIB, Ary Suprayogi dan Iwan Nurhidayat selanjutnya melanjutkan pengambilan gambar di jalan depan ruang tahanan laki-laki Mapolresta, jarak sekitar 7 meter dan tidak masuk ke dalam ruang tahanan.Pukul 09. 21 WIB, saat sedang mengambil gambar, tiba - tiba dua orang oknum anggota Polresta satu berseragam dan satu berpakaian preman, berteriak teriak ke arah wartawan.

"Hei ! Ngapain ini ambil gambar. Sudah ada ijinnya ya dari propam. Hapus!." teriak mereka bersamaan ada anggota yang berseragam propam di dekat lokasi.

Mereka menegur dua wartawan yang sedang melakukan kegiatan peliputan itu. Mereka memarahi kedua wartawan ini. Bahkan, mereka pun membentak keduanya dengan nada tinggi.

Selanjutnya, tiba - tiba dua oknum anggota Polres Pasuruan kota tersebut merampas alat perekam atau smartphone milik wartawan Iwan Nurhidayat dan Ary Suprayogi yang berisi gambar hasil liputan tadi.

Tak hanya itu, mereka bahkan menghapus seluruh gambar - gambar video suasana Polres Pasuruan kota yang sudah direkam. Ary Suprayogi sempat melayangkan protes dari aksi yang dilakukan oleh oknum anggota Polres Pasuruan Kota tersebut. Namun tidak diindahkan

"Intinya mereka memarahi kita, kalau melakukan peliputan dan pengambilan gambar harus ada izin dulu. Mereka menganggap itu rumah mereka dan privasi mereka, jadi harus ada izin dulu," kata Ary Suprayogi, kepada Surya.

Yogi, sapaan akrabnya, menjelaskan, ia dan temannya ini juga tidak ngawur saat mengambil gambar. Masih ada batasan - batasan normal dan tidak sampai keluar batas kewajaran.

"Ya handphone saya dirampas. Diambil dan dihapus semua file saya. Mulai dari gambar awal sampai akhir. Jadi dikembalikan dalam kondisi kosong tidak ada gambar sama sekali," tambahnya.

Yogi sempat menjelaskan dan memperkenalkan dirinya. Namun, penjelasannya tak digubris anggota dan memaksa menghapus file itu. Kata dia, mereka memaksa meminta pin handphone, dan gambar itu dihapus sendiri oleh mereka.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pasuruan Joko Hariyanto mengaku sangat prihatin dengan kondisi ini. Ia tidak menyangka, rekan seprofesinya mendapatkan perlakukan seperti ini.

Sementara itu, Humas Polres Pasuruan Kota AKP Endy P mengaku sudah menjelaskan ke anggota, dan anggota ini tidak paham bahwa yang ditegur adalah wartawan.

Ia juga menyampaikan bahwa dua wartawan ini tidak ngomong kalau mau gambar suasana Mapolres Pasuruan Kota. Padahal, mereka baru saja wawancara sama dirinya.

"Kalau teman-teman media bicara ke saya, pasti saya fasilitasi. Akhirnya tadi saya dampingi mengambil gambar. Sudah beres kok tadi, tadi sempat salah paham sedikit saja," pungkasnya.(Yon)

 

JATIMPOS.CO/JOMBANG - Ahmad Zamroni (35 tahun) warga Dusun/ Desa Pagerwojo RT 04 RW 04 Kecamatan Perak Kabupaten Jombang tewas akibat gantung diri. Diduga lantaran depresi karena telah diberhentikan dari tempat kerjanya.

JATIMPOS.CO//MOJOKERTO- Dalam rangka mewujudkan rasa syukur atas melimpahnya ketersediaan air di Kota Mojokerto serta  memperingati Hari Air Sedunia,  Pemerintah Kota Mojokerto  menyelenggarakan  “Mojotirto Festival 2019”. 

Perhelatan Mojotirto yang merupakan Event pertama diadakan selama dua hari di buka langsung oleh Walikota Mojokerto Hj. Ika Puspita sari  di Area Jembatan Rejoto Kecamatan Prajurit Kulon Kota Mojokerto, Jumat (22/3/2019).

Ketua Panitia Penyelenggara Novi Rahardjo yang juga Kadis Pariwisata Kota Mojokerto mengatakan, bahwa Event Mojotirto ini diselenggarakan selama dua hari dengan diadakan berbagai jenis perlombaan. 

Diantaranya lomba mewarnai, lomba baca puisi untuk anak – anak, lomba perahu dayung karet l, lomba permainan anak  lomba fotografi English Vlog competitif“ tadi pagi perlombaan mewarnai di gelar di Hutan Kota dan Dibuka oleh Wawali Ahmad Rizal Zakaria,” terangnya

Lanjut Novi, pihaknya berusaha menghadirkan Nuansa Mojopahit. Namun, belum bisa persis, tapi kami terus berusaha agar nantinya bila ada eventbertemakan Mojopahit akan lebih baik, ”Kami terus belajar  lagi  bila ada event terkait Mojopahit agar perekonomian di Kota Mojikerto wilayah barat bisa meningkat, “ katanya

Perlu diketahui event Mojotirto festival sangat banyak pengunjung dari warga Mojokerto karena event tersebut  diramaikan dengan adanya pasar rakyat dan beberapa seni budaya, ada kenduri banyu, tari budoyo air dan ada kegiatan  Tabur ikan di sungai. Pembukaan event Mojotirto Festival dihibur dengan tari budoyo air yang di perankan oleh pelajar Kota Mojokerto

Walikota Mojokerto Hj.Ika Puspitasari mengatakan, Mojotirto Festival  pertama kali di laksanakan di wilayah Mojokerto barat.  Tepatnya lingkungan Pulorejo dan Blooto. 

Event ini bertepatan dengan hari air sedunia yang jatuh pada tanggal 22 Maret.Sebagai rasa syukur kita kepada sang pencipta karena Kota Mojokertotidak kekurangan air, airnya melimpah sepanjang masa. 

Selain itu, event Mojotirto Merupakan  penanda bahwa Kota Mojokerto masih melestarikan budaya Mojopahit, uri- uri budaya Mojopahit.  Perlu di ingat Kota Mojokerto merupakan bagian dari kerajaan Mojopahit. Pada abad 13 Kerajaan  terbesar di Pulau jawabahkan wilayahnya sangat luas Nusantara,

 “Dengan spirit of Mojopahit  kita ajak warga, Forkopimda.semua elemen Masyarakat  untuk bersinergi mewujudkan Kota Mojokerto yang kecil, menjadi Kota yang maju. Pembangunan pesat yang bisa disandingkan dengan Kota Surabaya,” terangnya. ( din )

 

JATIMPOS.CO/MOJOKERTO - Bupati Mojokerto Non aktif H. Mustofa Kamal Pasa tampak hadir pada acara pemakaman anak sulungnya Jiansyah Kamal Pasa (20) yang meninggal akibat kecelakaan di  jalan tol Solo – Ngawi  di Km 565.600, Kamis (21/3).