JATIMPOS.CO//PONOROGO - Mendapat kabar kiamat segera datang, warga Desa Watu Bonang Kecamatan Badegan Ponorogo, ngungsi/pergi dari desanya. Setidaknya 50 warga dari 16 Kepala Keluarga (KK) tersebut kabarnya berhijrah ke sebuah Pondok Pesantren di Dusun Pulosari Desa Sukosari Kecamatan Kesambon Kabupaten Malang.

Kabar adanya kiamat oleh warga yang pergi dari desa tersebut diketahui setelah mengikuti  pengajian di Padepokan Gunung Pengging yang berada di Dusun Krajan desa Watu Bonang.

Pengajian tersebut digagas oleh Katimun (48) salah satu warga RT 05, RW 01 Dusun Krajan desa Watu Bonang, yang telah berdiri sejak 3 tahun lalu. Dalam kesehariannya aktifitas Katimun dan pengikutnya tidak diketahui dengan pasti, namun beredar kabar padepokan ini memgajarkan ajaran Thoriqoh Akmaliyah Ash Sholihiyah.

Dimata warga, Katimun merupakan seorang pemuka agama. I di ketahui pernah menjadi santri 18 tahun di salah satu pondok pesntren di Malang. Dalam kesehariannya Katimun dikenal ramah dengan warga sekitar, bahkan ia kerap mengajak warga untuk beribadah bersama. 

"Awalnya saya senang dengan adanya Katimun, karena ya baik, sering mengajak anak-anak dilingkungan sini untuk sholat berjamaah, ya tidak ada yang aneh, " ujar Sogi, Kepala Dusun Krajan.

Sogi mengaku terkejut, saat mengetahui seluruh jamaah Katimun memilih meninggalkan Desa Watu Bonang dan pindah ke malang. Ia pernah mencoba bertanya, salah satu warga memberi jawaban, bahwa kepergian mereka untuk menimba ilmu di pondok pesantren. " Saya kaget, saat saya tanya alasan mereka pergi dari desa untuk nyantri di malang, itu saja, saya ndak tahu kalau ada doktrin atau isu akan datangnya kiamat," ungkapnya.

Masyarakat Ponorogo geger setelah beredar kabar puluhan warga desa Watu Bonang pergi dari desa secara misteri. Kepergian 50 warga dua dusun, yakni : dusun krajan dan dusun gulun diketahui belakangan dengan adanya doktrin Kiamat serta akan datangnya bencana alam dari pimpinan pengajian yang mereka ikuti. (nur)