JATIMPOS.CO/TUBAN - Belum selesai kasus sengketa tanah warga Desa Gaji, Kecamatan Kerek dengan PT Semen Indonesia, kini kembali muncul masalah serupa.




Gus Maksum Pengasuh Ponpes Langitan, Widang, Tuban pada Rabu (5/12/2018), bersama Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Al Hikmah dan ahli waris pemilik tanah mendatangi Kantor Pengadilan Negeri (PN) Tuban untuk mendaftarkan gugatan. Diketahui selama 24 tahun tanah penggugat dikuasai PT Semen Indonesia, sedangkan pemilik maupun ahli waris tidak pernah merasa menjual.

Maghfur, ahli waris tanah selaku penggugat menceritakan, bapaknya Haji Umar yang dulu pengusaha palawija memiliki belasan sertifikat tanah. Salah satunya sertifikat No. 50 gambar situasi No. 1436 tahun 1987. Dengan luas tanah 8390 M2 di Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban.

Saat itu sertifikat tersebut diagunkan di Bank BRI bersama belasan sertifikat hak milik tanah lainnya untuk kebutuhan modal. Posisi agunan berupa sertifikat diambil pada 2007 karena baru dilakukan pelunasan.

"Posisi sertifikat diambil dari Bank BRI tahun 2007, dan setelah itu diperiksakan di Badan Pertanahan Nasional (BPN) Tuban. Hasilnya pada 27 Agustus 2007 dinyatakan masih sesuai pemilik dalam sertifikat," kata Maghfur.

Lebih lanjut Mahgfur mengkomunikasikan ke perusahaan dengan sejumlah cara. Hingga akhirnya mendapatkan tanggapan tertulis dari pihak legal perusahaan nomor 008714/HK/SUP/50045217/2000/09.218 tertanggal Gresik, 12 September 2018.

Disebutkan tanah sertifikat nomor 50 sudah dibeli perusahaan pada tahun 1991. Berdasarkan berita acara dengan kuasa jual dan penerima pembayaran melalui salah satu perangkat desa bernama Sadari. Atas dasar yang dianggap kuat, melalui surat tersebut perusahaan meminta ahli waris menyerahkan SHM No. 50 tersebut.

"Sertifikat (SHM) masih diagunkan di bank apa bisa dijual tanahnya. Posisi sertifikat masih dinyatakan sah oleh BPN kok tanahnya dikuasai pihak lain. Bahkan pada Agustus 2018 dilakukan cek lapangan dan masih dinyatakan sertifikat tersebut hak milik Haji Umar belum berpindah," katanya tegas.

Gus Maksum yang mendampingi penggugat menyampaikan langsung dengan sejumlah alasan kuat. Ia menyampaikan jangan sampai masyarakat terdzolimi. BUMN seharusnya menjadi garda terdepan dalam mengayomi dan mensejahterakan masyarakat sekitar perusahaannya.

Dalam gugatan itu terdapat tergugat utama PT Semen Indonesia dan sejumlah pihak turut tergugat, yang dimungkinkan terlibat dalam proses jual beli tanah melalui Tim Pembebasan Tanah dengan tuntutan ganti rugi materiil dan imateriil.

"Kita datang ke pengadilan negeri ini terkait dengan pengajuan gugatan tanah dimana tergugatnya adalah PT. Semen Indonesia  atau Semen Gresik dan penggugatnya adalah ahli waris Maghfur. Kedatangannya ingin memperjuangkan hak tanahnya dan saya juga akan memperjuangkan untuk para ahli waris yang selama ini sudah berjuang tapi tidak ada titik temu," ungkap Gus Maksum. (min)