JATIMPOS.CO/TRENGGALEK - Plt. Bupati Trenggalek, H. Mochamad Nur Arifin, sebut metode pembelajaran di Active Learning Classroom mengajak siswa untuk aktif dan tidak monoton dalam kegiatan pembelajaran serta metode yang terbaik.



Hal itu disampaikan Plt Bupati Nur Arifin saat meninjau pelaksanaan UNBK tingkat SMP/MTs dan sederajat bersama dengan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Selasa (22/4).

"Biasanya pembelajaran di kelas ini monoton seperti biasanya, sehingga siswa-siswa ini pasif, biasanya mereka datang ke sekolah tidak membawa data," ucap Plt. Bupati Nur Arifin.

Metode pembelajaran Active Learning akan berimbas kepada keaktifan seorang siswa yang akan mendorong daya nalar yang akan menjadikan sistem pembelajaran itu hidup dan mengena.
"Memang mereka dipersiapkan untuk mendengar dan guru menjelaskan, kemudian mereka mengulangi apa yang dijelaskan oleh para guru," imbuhnya.

Sedangkan dengan Active Learning Classroom, menurut Plt. Bupati Nur Arifin, siswa lebih aktif. Siswa dapat mendownload data yang dibutuhkan di internet dan sebagainya. Dan ketika fasilitator menyampaikan materi, para siswa sudah mempunyai data pembanding sehingga akan ada diskusi.

"Menurut pengakuan guru tadi, katanya siswanya lebih aktif dan tidak sepasif ketika di kelas konfensional," tutur Nur Arifin.
Plt. Bupati Nur Arifin mengatakan bahwa dirinya memang sengaja ingin meninjau sejauh mana pembelajaran di Active Learning Classroom. Sehingga tahu bedanya dengan pembelajaran konvensional dan kemudahan apa saja yang didapat dari metode pembelajaran tersebut.

“Dulu saya belum merasakan metode ini saat di bangku sekolah, makanya pumpung ada kesempatan ini saya coba,”katanya.
Tak hanya itu, Arifin menegaskan Active Leraning Classroom akan diprogramkan untuk pengembangan di sekolah-sekolah di tiap kecamatan. Hal ini sesuai praktek yang diberlakukan yaitu zonasi tingkat fasilitas pendidikan bisa diterima masyarakat secara merata.

“Pemerataan pendidikan harus terjadi di Trenggalek dikarenakan salahsatunya zonasi,” tegasnya.

Dia berharap anggaran pendidikan yang telah ditetapkan pemerintah pusat sebesar 30 persen agar bisa dimaksmalkan pelaksanaannya di Trenggalek. Sebab kebutuhan akan pendidikan sangat terasa di era kepemimpinannya kini.

“Jika melihat dari kinerja sektor pendidikan, Trenggalek kini telah hampir semua anak usia sekolah bisa menikmati pendidikannya mulai dai PAUD hingga SMU,” tandasnya.

Untuk itu sesuai dengan semangat Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), pihaknya akan juga segera megoptimalkan program pusat seperti halnya SMK mini melalui kelembagaan pesantren.

“Trenggalek sudah bisa berjalan sekolah SMK di podok-pondok yang nantinya mampu melahirkan ilmuan yang masih menjadikan agama sebagai pegangan dalam mengamalkan ilmunya di dunia kerja,” pungkasnya. (ham)