JATIMPOS.CO/KOTA BLITAR - Puluhan pedagang pasar tradisional Kota Blitar melakukan demo di depan Kantor Wali Kota Blitar, Kamis (9/5).
Mereka menuntut untuk mencabut izin Bazar Ramayana yang terletak di gedung Graha Patria, Jalan Cokroaminoto Kota Blitar.


 

Susilo, salah satu pedagang kain di Jalan Mastrip mengungkapkan seharusnya Pemkot Blitar mencabut izin dan segera menutup bazar ramayana. Sebab, pedagang yang sudah berjualan di Mastrip selama puluhan tahun saja ditutup.

Dengan keberadaan bazaar ramayana tersebut dagangannya menurun drastis dan sepi, penghasilan pun tidak didapat. "Kami menganggap Pemkot Blitar tidak adil. Kita yang berjualan puluhan tahun digusur, sedangkan bazaar ramayana baru saja," ujar Susilo.

Sementara itu koordinator aksi demo tersebut yakni aksi cinta damai mata rantai, Feri Yuswanto Vanese mengatakan aksi ini menurut dia terus dilakukan karena adanya bazaar ramayana di Gedung Graha Patria Blitar.

Ia mengungkapkan para pedagang merasa sepi membuat para pedagang kehilangan penghasilan disebabkan adanya bazar ramayana tersebut.

Terkait aksi demo itu, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMPTST), Suhariono menjelaskan, pihaknyalangsung menggelar rapat dan nanti hasilnya segera disampaikan ke Plt Wali Kota.

Menurut dia, izin gedung Graha Patria oleh PT Ramayana Lestari Santoso Tbk sudah melalui prosedur dan sudah benar. "Suudah memenuhi proses kalau gedung bisa disewakan untuk semuanya," jelasnya.

Sedangkan menurut Ketua Aksi Feri Yuswanto, kebijakan yang dibuat Pemkot Blitar telah menciderai hati para pedagang pakaian kecil. Sedangkan perusahaan pakaian besar seperti Ramayana diizinkan oleh Pemkot Blitar. Apalagi seperti Ramayana telah membuka bazar besar-besaran di Gedung Graha Patria Blitar. 

Perbedaan Pandangan
Perbedaan pandangan tentang daya beli masyarakat dengan pelaku usaha juga berbeda. Pelaku usaha merasa ada pelemahan daya beli, sementara di pihak lain masih percaya daya beli masyarakat masih kuat.

Pengakuan pedagang lokal yang lokasinya di stan Pasar Legi Arjono Fashion Blitar, daya beli menurun bahkan sampai merugi sekitar 40 juta perhari.

Kerugian itu disebabkan adanya Bazar Ramayana. Apalagi beban semangkin berat karena harus membayar karyawan. "Penghasilan kami menurun terus karena daya beli berkurang di bulan puasa ini. Di sisi lain, di tempat bazar Ramayana selalu ramai," keluh Hj Sari.

Sama halnya dialami Stevi, pemilik Store Pelangi Blitar. Stevi mengaku tidak keberatan adanya Ramayana, tapi harus yang sehatlah. "Jangan main diskon besar-besaran, ini kan jelas menjatuhkan pengusaha lokal," kata Stevi.

Lain lagi kata pemilik Apollo Super Store, chandra. Ia katakan, kita tidak dapat mencegah pembeli datang ke bazar Ramayana. Toh, banyak juga yang mampir ke tokonya.

"Kita gak mungkin melarang mereka masuk ke Ramayana. Justru dengan adanya Ramayana kita termotivasi supaya konsumen itu tetap belanja di tempat kami dengan harga dan pelayanan yang lebih baik," ujar Chandra.

Dengan adanya Ramayana di Blitar kadang pedagang lokal juga diuntungkan. "Belum tentu konsumen cocok belanja di Ramayana," ucap chandra yang juga buka cabang di Tulungagung.

Salah seorang pembeli di bazar Ramayana mengungkapkan, bahwa kualitas barang di Ramayana memang lebih bagus dan harganya murah. Belum lagi dapat diskon, diskonya besar sekali. (sk)