JATIMPOS.CO//SURABAYA- Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI Tahun 2018, pasien penderita HIV/AIDS, Provinsi Jawa Timur menduduki peringat I (Pertama) di Indonesia dengan jumlah pasien 67.658 orang.

Demikian dikemukakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jatim, Sinarto, S.Kar, MM pada acara Pelatihan Bahaya HIV/AIDS dan NAPZA Bagi Komunitas Pariwisata di Jawa Timur Tahun 2018 bertempat di Hotel Great Diponegoro, Surabaya, Selasa (4/12).

Peserta Pelatihan dari Duta Wisata Raka-Raki Jatim foto bersama. Nomor 7 dari kiri depan  Kabid Industri Pariwisata Disbudpar Jatim, Suriaman, SH.MSi.
-----------------------
Sedangkan penyalahguna narkota, Provinsi Jawa Timur menduduki peringkat kedua nasional. “Menurut Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Timur penyalahguna narkotika di Jawa Timur tahun 2018 menduduki peringkat kedua di Indonesia setelah Jawa Barat sebanyak 492,157 orang. Jenis narkoba yang paling sering diedarkan di Indonesia adalah shabu, ganja, dan ekstasi,” kata Kadisbudpar dalam amanat yang disampaikan Kabid Industri Pariwisata Disbudpar Jatim, Suriaman, SH.MSi.

Penderita HIV/AIDS di Jawa Timur dari tahun ke tahun mengalami kenaikan yang cukup siginifikan sehingga Dinas Kesehatan Provinsi JAwa Timur membuka pelayanan melalui Puskesmas di 6 (enam) Kabupaten yaitu : Bondowoso, Situbondo, Lumajang, Trenggalek, Madiun dan Pacitan.

“Oleh karena itu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur melalui kegiatan ini berharap kepada peserta untuk ikut serta mensukseskan pemberantasan HIV/AID dan NAPZA dengan cara membekali diri dengan pengetahuan tentang bahaya HIV/AIDS dan NAPZA sehingga nantinya dapat mensosialisasikannya kepada semua elemen masyarakat dan stakeholder Pariwisata lainnya,” ujarnya.

HIV/AIDS dan NAPZA merupakan suatu kasus yang saling berkaitan. Dan Jawa Timur dengan jumlah penduduk yang hampir menyamai Ibukota Jakarta menjadi lokasi strategis bagi sindikat narkoba Internasional untuk meluaskan pangsa pasarnya.

Dengan berkembangnya zaman maka makin banyak berkembang pula jenis-jenis narkotika/NAPZA yang dijumpai dipasaran dengan segala bentuk dan rasa yang sudah tentu sangat meresahkan bagi kita, dan sangat berbahaya bagi generasi muda yang memiliki rasa keingintahuan yang tinggi terhadap segala hal yang baru.

“Oleh karena itu melalui kegiatan ini saya berharap kita dapat bersama-sama bergandeng tangan untuk bersinergi dalam menekan laju perkembangan jumlah HIV/AIDS dan pencegahan NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif),” ujarnya.

Duta Wisata
Pelatihan Bahaya HIV/AIDS dan NAPZA Bagi Komunitas Pariwisata di Jawa Timur Tahun 2018 yang berlangsung di Hotel Great Diponegoro, Surabaya, Selasa (4/12) diikuti  sejumlah 100 ( seratus ) orang terdiri : Duta Wisata Raka Riki Jawa Timur, Anggota Hiperhu, HPI Jawa Timur Saka Pariwisata.

Sedangkan materi pembekalan diantaranya : Metode Pencegahan Dalam Upaya Pemberantasan Penyalagunaan  Peredaran Gelap Narkoba ( P4GN ) dari Badan Narkoba Nasional Prov Jawa Timur. Program Rehabilitasi Pencandu Narkoba Bagi Generasi Pariwisata oleh Badan Narkoba Nasional Prov.Jatim.

Proses Penanggulangan kasus Narkoba yang terjadi pada kegitan rekreasi dan hiburan oleh Ditserse Polda Jatim. Obat-obatan HIV /AIDS dan perkembangannya di era sekarang, oleh Dokter RSU Dr.Soetomo Surabaya. Dan  Testimuni ODHA oleh ODHA.

“Kegiatan ini dimaksudkan untuk membekali pengetahuan bagi para pelaku dan Stakeholder Industri Pariwisata tentang bahaya penyalagunaan Napza ( Narkotika dan zat adiktif ) serta HAIV/AIDS,” ujar Ketua Panitia Suriaman, SH.MSi yang juga Kabid Industri Pariwisata Disbudpar Jatim.

Selain itu untuk menindaklanjuti intruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2018  tentang pemberdayaan masyarakat dengan mengembangkan potensi masyrakat pada kawasan rawan dan rentan norkotika dan prekursor narkotika.

“Dan membekali komunitas Pariwisata Jawa Timur tentang pengetahuan dalam hal HIV /AIDS dan Napza, agar mereka dapat mensosialisasikan kepada masyarakat terutama anggota komunitas pariwisata lainya. Serta mencegah penyebarab kasus HIV/AIDS dan Napza di Jawa Timur terutama bagi generasi muda Jawa Timur,” ujarnya. (nam)