JATIMPOS.CO/TRENGGALEK - Sontak kaget raut wajah siswa Klas IX SMPN 1 Trenggalek, Jawa Timur saat kedatangan Plt Bupati Moch Nur Arifin yang sedang melakukan peninjauan kesiapan pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) secara serentak.

 JATIMPOS.CO//BONDOWOSO – United Nations Children's Fund (UNICEF) bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso mengembangkan  pendidikan inklusif di Kabupaten Bondowoso. Hal ini sesuai keinginan Pemkab Bondowoso yang ingin memastikan anak-anaknya dapat mengakses pendidikan, tanpa kecuali. 

UNICEF merasa di Bondowoso, sistem layanan pendidikan sudah memfasilitasi agar anak-anak tersebut dapat dilayani di sekolah terdekat. Mereka bahkan belajar di kelas reguler bersama-sama teman seusianya, tanpa dipisahkan dan tanpa diskriminasi

“Melihat semangat dan komitmen ini, kami kembali lagi ke Bondowoso untuk terus mendukung inovasi kebijakan yang fokus investasinya adalah anak, semua anak,” ujar  Kepala Perwakilan UNICEF Pulau Jawa Arie Rukmantara Arie usai pertemuan dengan Bupati dan Wakil Bupati Bondowoso di Ijen View, Kamis (11/4/2019).

Menurutnya, masih ada beberapa anak yang belum memiliki akses ke Pendidikan, salah satunya anak-anak difabel, berkebutuhan khusus, atau anak  yang punya kelebihan unik tapi membutuhkan metode belajar yang berbeda. 

“Sebenarnya UNICEF telah bekerjasama dengan Pemkab Bondowoso sejak 2005 lewat pengembangan Program Manajemen Berbasis Sekolah ( MBS) di tingkat sekolah dasar (SD).  Kemudian pada 2015, pihaknya membantu Bondowoso untuk mengembangkan Program Sekolah Satu Atap,” katanya.

Bupati Bondowoso Drs.KH Salwa Arifin (kiri berkopiah), pada pertemuan dengan UNICEF di Ijen View.

------------------------

Sejak 2017 Sekolah Satu Atap dikembangkan ke Pendidikan Inklusif.  Dan kemudian pengembangannya banyak menggunakan dana APBD.  “Kami kembali lagi ke Bondowoso justru karena melihat komitmen yang semakin tinggi,” ujarnya. 

Arie menambahkan tim pengembang MBS Inklusif sudah dibentuk Pemkab sejak 2017. Mereka terdiri dari pengawas SD dan SMP.  “Merekalah yang selama ini menjadi mesin inovasi Pendidikan Inklusif di Bondowoso,” terang Arie. 

Dalam rangka menguatkan kapasitas sumber daya manusia di Pendidikan inklusif, berbagai pelatihan, loka karya, dan bentuk asistensi lainnya akan didukung UNICEF dengan menyasar guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah.

Pada kesempatan berdiskusi dengan Bupati dan Wakil Bupati, UNICEF mengharapkan dimaksimalkannya koordinasi dan komunikasi antar organisasi pemerintahan daerah (OPD ) dalam melancarkan implementasi Pendidikan Inklusif melalui pengaktifan kelompok kerja (pokja) Pendidikan Influsif. 

“UNICEF mengharapkan agar Pokja Pendidikan Inklusif dikomandoi langsung oleh kepala daerah karena kerja besar Bondowoso ini wajib sukses dan hanya dengan keterlibatan semua OPD. Pokja yang progresif akan diiringi dengan pelibatan lembaga non pemerintah, swasta, media. Termasuk melibatkan atau meminta para Kyai atau pemimpin agama dan tokoh masyarakat untuk berkampanye memasyarakatkan Pendidikan Inklusif,” sambungnya. “Apabila itu terjadi, akan menjadi modal besar untuk menjadi Kabupaten Inklusif yang akan menarik perhatian daerah lain di Indonesia.”

Wakil Bupati Bondowoso Irwan Bachtiar, SE, Msi mengatakan, pihaknya berkomitmen meningkatkan angka partisipasi sekolah yang kini berkisar di rata-rata 5,5 tahun. Lewat Pendidikan Inklusif, semua anak di Bondowoso harus dan dapat bersekolah. 

“Apapun keterbatasan dan kelebihannya, baik fisik maupun minat dan bakat. Justru di era industri 4.0 ini, bersama anak-anak difabel, berkemampuan khusus, semua anak-anak di sekolah dapat menemukan keahlian dan keminatan mereka yang unik dan khas,” katanya.

Ia berharap, Pendidikan Inklusif dapat memutus rantai kemiskinan yang sekarang diatas 14 persen atau diperkirakan mencapai lebih dari 160 ribu orang dari lebih dari 790 ribu penduduk Bondowoso. Dia percaya lewat Pendidikan Inklusif, Bondowoso dapat keluar dari daftar kabupaten/kota terendah dan termiskin di Jatim.(s.anam)

 

JATIMPOS.CO/KABUPATEN MOJOKERTO - Pemerintah Kabupaten Mojokerto melalui OPD Bagian Administrasi Kesejahteraan Rakyat (Kesra) melakukan pembinaan dan pelatihan Lembaga Keagamaan Kabupaten Mojokerto tahun 2019. Acara dilakuakn di Rumah Makan XOW Jalan Jayanegara, Mojokerto, Selasa (9/4).

JATIMPOS.CO/TUBAN – Deklarasi Sekolah Ramah Anak (SRA) SD Bina Anak Sholeh (BAS) pada Senin (25/03/19) mendapat apresiasi dari Bupati Tuban Fatkhul Huda. Menurutnya ini konsep baru dalam dunia pendidikan.

JATIMPOS.CO//BOJONEGORO-Mulai Tahun Ajaran Baru 2019/2020 Dinas Pendidikan Bojonegoro akan menerapkan sistem pembelajaran Sekolah Dasar (SD) Rasa Madrasah. Sistem baru itu mulai disosialisasikan kepada setiap Kepala Sekolah Dasar dan pengawas sekolah se-Kabupaten Bojonegoro.

“Mulai bulan April ini, sekolah dasar rasa Madrasah itu sudah mulai diterapkan di setiap SD-SD di masing-masing Kecamatan. Dinas Pendidikan Bojonegoro akan menunjuk SD mana terlebih dahulu yang sudah siap untuk melaksanakan SD Rasa Madrasah”, terang Hanafi Kepala Disdik Bojonegoro begitu bertemu jatimpos.co

Setelah setiap Kecamatan ada satu Sekolah Dasar Rasa Madrasah. Mulai Tahun Ajaran Baru ini pihak Disdik Bojonegoro mengharapkan semua sekolah dasar di Bojonegoro sudah bisa menerapkan sistem pembelajaran SD Rasa Madrasah.

 “Sistem pembelajaran SD Rasa Madrasah itu bisa dilakukan setelah Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) selesai. Bisa dilakukan di Mushola yang ada dilingkungan sekolah dan bisa dilakukan dengan cara di teras sekolah, yang terpenting situasi lingkungannya nyaman bagi para siswa”, jelas Hanafi.

Terpisah, Suryatmini Kepala SDN 2 Bakalan, Kecamatan Kapas menyampaikan bahwa pihak tujuan dari Disdik Bojonegoro itu sangat baik bagi para siswa. Selain siswa mendapatkan ilmu yang diajarkan sesuai Mata Pelajaran pokok di sekolah itu, siswa juga bisa dibekali oleh ilmu tentang keagamaan.

 “Pihak SDN 2 Bakalan sudah siap dengan program tersebut. Untuk pembelajaran akan kami lakukan setelah jam mata pelajaran selesai. Kami sudah mulai menerapkan Sholat Dhuhur secara berjamaah di Mushola sekolahan”, ucap Kepala SDN 2 Bakalan ini kepada media ini ketika dikonfirmasi terpisah.

Menurut Kepala SDN 2 itu, dengan adanya Mushola dilingkungan sekolahan yang dibangun dengan cara swadaya guru-guru. Ini akan menunjang program dari Disdik Bojonegoro yaitu program SD Rasa Madrasah.

 “Pada Tahun Ajaran Baru 2019/2020 pihak Kepala, Guru, Tokoh Masyarakat dan Komite Sekolah sudah siap dengan program SD ini”, pungkas Suryatmini. (met)