JATIMPOS.CO/SURABAYA - Perawakannya  tinggi alias jangkung,warna kulitnya hitam legam, itulah Domson Mukwato seorang anggota delegasi Prepcom 3 ketika  mengunjungi Kampung Ketandan Surabaya bersama  anggota  Delegasi lainnya  sebanyak 1 bus.


 

Domsom Mukwato, berasal dari Zambia Afrika. Pria jangkung berkulit hitam  tersebut disela-sela peresmian  Pendopo Cak Markeso sempat dijamu  “makan siang  gratis “ oleh Ibu-Ibu PKK setempat.

Menu makan siang  menurut Ibu Sri aktivis  PKK setempat dinamakan  “ Nasi Osik “. Nasi osik adalah makanan khas warga Surabaya yang dilestarikan  oleh warga kampung Ketandan.

Menu “Nasi Osik” sederhana seperti  menu nasi lainnya yang biasa disantap oleh warga kota Surabaya. Menurut Ibu Sri yang siang itu sibuk melayani tamu terhormat  anggota delegasi peserta Prepcom 3UN Habitat III,”Nasi Osik” sangat terkenal pada zaman perang kemerdekaan 10 Nopember 1945,71 tahun lalu.

Kala itu kata Bu Sri “Nasi Osik” dimasak oleh Ibu-Ibu pejuang  di dapur umum yang ada dikampung-kampung  kota Surabaya termasuk di kampung Ketandan Surabaya. Kampung Ketandan memang terletak ditengah-tengah kota alias di pusat Kota Surabaya,tepatnya disebelah barat Jl.Tunjungan Surabaya.

Letak kampung Ketandan tidak jauh dari Hotel Mojopahit yang dahulu dizaman perang kemerdekaan dikenal sebagai Hotel Oranye. Dalam peribahasa disebut jaraknya hanya selemparan batu saja alias tidak jauh yaitu diseberang jalan saja hanya agak menyerong kekanan dari letak Hotel Mojopahit.

Berkat sarapan alias makan pagi “Nasi Osik” yang dimasak oleh Ibu-Ibu pejuang didapur umum dikampung KetandanArek-Arek Suroboyo dengan semangat “Banteng Ketaton” memanjat Hotel Oranye dan menurunkan serta menyobek Bendera penjajah Belanda Merah Putih Biru menjadi hanya berwarna Merah Putih kemudian mengibarkan kembali diatas Hotel Oranye dengan diiringi teriakan Merdeka! Merdeka! Merdeka! serta Takbir Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!

“Nasi Osik” terdiri dari nasi putih sebanyak 2-3 entong ditaruh di selebar daun pisang sebagai pincuk atau piringnya dengan lauk kikil sapi yang dimasak dengan bumbu semacam orem-orem lengkap dengan 2-3 biji cabai alias Lombok serta irisan tahu dan kuah campuran santan kelapa muda. Meskipun sudah ada cabainya,namun “Nasi Osik” belumlah lengkap bila belum ada sambel cobek yang ada terasinya.

Itulah menu pejuang 45 Arek-Arek Surabaya yang dimasak oleh Ibu-Ibu pejuang di dapur Umum pada 71 tahun silam yaitu pada zaman perang kemerdekaan 10 Nopember 1945. Akhir Juli lalu “Dapur Umum” dibuka lagi oleh Ibu-Ibu PKK Kampung Ketandan untuk menyambut para  delegasi yang mengikuti Prepcom 3UN Habitat III di kota Pahlawan Surabaya.

Selain disuguhi “Nasi Osik”,para tamu terhormat tersebut juga disuguhi polo pendem seperti kacang rebus,pisang rebus,serta aneka ragam umbi-umbian rebus seperti suwek dan lain sebagainyatermasuk  ketela rebus. Paduan sajian “Nasi Osik” dan “Polo Pendem” sangat pas dan cocok untuk menyambut para tamu terhormat dari anggota delegasi peserta Prepcom 3UN Habitat III di Surabaya.

Domsom Mukwato merupakan salah satu tamu terhormat peserta Prepcom 3UN Habitat III yang berhasil menikmati “Nasi Osik” dari Ibu-Ibu PKK Kampung Ketandan. “Wah enak sekali, very nice ! saya suka sekali” komentarnya kepada Jatim Pos.

“Ibu-Ibu di Surabayapandai memasak,masakannya enak-enak,” puji Domsom Mukwato sambil melahap hidangan lewat pincukan “Nasi Osik”.Dalam waktu singkat tidak lebih dari 15 menit Domsom Mukwato melahap habis satu pincuk “Nasi Osik” buatan Ibu-Ibu PKK Kampung Ketandan Surabaya. [Gatot Soedjono/JatimPos]