JATIMPOS.CO/SURABAYA - Pengolahan sampah dengan metode larva ternyata mampu mengolah sampah organik hanya dalam waktu dua minggu.


 

Metode ini disebut juga dengan nama black spider fly (BSF). Dalam uji coba, metode BSF memanfaatkan 10 ribu ekor larva berusia lima hari. Bayi larva ini ternyata mempunyai kecepatan tinggi saat memakan sampah organik. 

"Dengan cara ini diharapkan penanganan sampah di Surabaya kedepan akan lebih canggih. Selain itu, pengolahn sampah dengan metode larva bisa berhemat 50 persen lebih," kata Kasie Pemanfaatan Sampah DKRTH Surabaya Khoirunisa, di Pusat Daur Ulang Jambangan, Surabaya, Rabu (15/8).
  
Dijelaskan, pada bulan Januari tahun 2019 Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Surabaya akan mulai menggunakan larva dalam penanganan sampah di Kota Surabaya.

Dengan larva, kata Khoirunisa, penanganan sampah organik di Surabaya akan lebih cepat dan lebih murah.

Sampah organik yang dihasilkan rumah tangga akan habis dalam hitungan hari tanpa sisa. Sekarang sudah diuji coba. Sampahnya didapat dari 206 rumah tangga di 2 RT, masing-masing RT 7 dan 8 RW 3 Kelurahan Jambangan. Selama satu bulan, sampah makanan yang dikumpulkan dapat mencapai bobot 2,5 ton.

"Hasilnya sangat menggembirakan. Para ibu rumah tangga menyenanginya," ujar Khoirunisa.

Menurut Nisai pada awalnya ibu-ibu jijik pada ribuan larva tersebut. Tapi sekarang sudah terbiasa menghadapi larva karena larvanya tidak berbisa dan tidak menimbulkan gatal-gatal seperti ulat.

Selain makan sampah organik, larva bisa digunakan sebagai pakan ternak ikan lele dan lain sebagainya, termasuk burung.

Larva, kata Khoirunisa, didatangkan dari Swiss atas kerja sama dengan Kementerian PUPR. Kedepan, kata Khoirunisa, dipastikan tiap TPA jumlah sampah organiknya akan berkurang sampai dengan lebih 50 persen. (tot)