JATIMPOS.CO//SURABAYA – Disaat kota-kota lain ekonominya sedang menurun, perekonomian kota Surabaya tetap stabil bahkan cenderung naik dan jadi incaran investor. Demikian pernyataan Wali kota Surabaya Tri Rismaharini dalam acara serah terima bantuan CSR dari BNI 1946 berupa satu unit truck skyline walker di balai kota, Senin (28/1/2019).




Ia menceritakan bahwa dirinya sempat ditraining oleh dosen-dosen ekonomi dari Unair Surabaya pada awal-awal menjabat sebagai Wali kota, diajar bagaimana cara membaca data-data tentang grafik pertumbuhan ekonomi. “Saya tidak malu walaupun sudah jadi Wali kota”, jelas Risma yang kemudian enggan menerapkan ilmu tersebut karena dirinya tidak tertarik untuk membaca data statistic.

Wali kota terbaik no.3 di dunia ini lebih tertarik untuk menumbuh-kembangkan ekonomi kaum bawah lalu berinovasi dengan unik melalui program pahlawan ekonomi. “Akhirnya saya menciptakan ilmu sendiri,” tambah Risma yang bertujuan agar ilmu terapannya nantinya akan membuat ekonomi bertumbuh sekaligus menyeimbangkan kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin.

Statistik menunjukkan bahwa di tahun 2010 daya beli masyarakat yang rendah sekitar 34 persen, tahun 2016 daya beli masyarakat rendahnya berkurang drastic menjadi 8 persen, dan survey BPS di tahun 2017 tinggal 5 persen. “Daya beli menengah awalnya 54 persen di tahun 2010, tetapi kemudian 2017 semua melompat ke kelas daya beli atas, ternyata daya beli masyarakat yang rendah tadi langsung meloncat menembus daya beli tinggi,” terang Risma yang percaya bahwa pertumbuhan ekonomi suatu kota harus linear dengan pertumbuhan daya beli masyarakatnya, jika tidak demikian, sebesar apaun uang yang berputar tidak pernah mensejahterakan masyarakat kota tersebut.

Pergerakan ekonomi sebuah kota tidak akan bisa mandiri jika hanya ditunjang oleh dana-dana asing, seperti kota-kota besar di dunia. Tetapi kota tersebut harus bisa menghidupi dirinya sendiri dengan sumber dayanya sendiri. Dengan demikian saat ekonomi dunia bergejolak, daya beli masyarakatnya tidak ikut ambruk. Melainkan tetap terjaga bahkan bisa menarik investor asing. “Saya kerap kali dihubungi bank-bank asing, yang akan berniat membuka cabang baru di Surabaya,” kata Risma yang terus berupaya agar ekonomi kota pahlawan ini tetap melaju walaupun Bank Dunia memprediksi indeks perekonomian akan turun. (fred)