JATIMPOS.CO//SURABAYA - Pemkot Surabaya berencana mengoptimalisasi system layanan kesehatan yang sudah berjalan saat ini. Dinas Kesehatan Kota memiliki system aplikasi e-healt yang dipakai masyarakat mencari lokasi puskesmas terdekat, mendaftar dan mendapat nomor antrian pemeriksaan. Di tahun 2019 ini pemberitahuan informasi kepada pasien akan ditambah dengan keterangan jam periksa pasien.

Penerapan aplikasi e-healt diharapkan untuk mempermudah pelayanan. Namun ternyata, pada kenyataannya belum sepenuhnya bisa memangkas antrian yang panjang. Di sebagian puskesmas masih saja terlihat ada pasien yang menunggu lebih dari satu jam. Dalam planning pembangunan tahun 2019 ini Pemkot berkomitmen untuk meminimalisir panjang antrian pasien.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya Ery Cahyadi menyampaikan bahwa antrian yang masih panjang bukan disebabkan adanya error atau kerusakan dalam system tetapi dikarenakan jumlah dokter yang bertugas terlalu sedikit. Semakin tahun jumlah pasien yang berobat ke puskesmas juga terus bertambah. “Kita masih kekurangan jumlah dokter yang standby di puskesmas, akan kita hitung ulang berapa kebutuhannya dan segera disampaikan,” ujar Ery.

Di 63 Puskesmas di Surabaya, dokter yang terdaftar bertugas sebanyak 254 dokter aktif. Artinya hanya terdapat sekitar 5 dokter yang siaga di tiap puskesmas. Sedangkan kebutuhan ideal dokter jaga harusnya 10 dokter untuk masing-masing puskesmas.

Selain masalah kekurangan dokter jaga, mengularnya pasien yang antri di puskesmas juga disebabkan oleh jumlah pasien berobat yang membengkak di tahun-tahun terakhir. Penumpukan jumlah pasien salah satunya adalah dampak penambahan kuota Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS kesehatan yang dibebankan dari APBD Pemkot Surabaya.

Solusi yang akan diambil untuk mengantisipasi hal diatas adalah penambahan jumlah dokter jaga di setiap puskesmas dengan bekerja sama bersama perguruan tinggi. “Kalau nunggu dari seleksi CPNS, akan keteteran terus. Lalu kita coba alihkan lewat program semacam praktek lapangan. Para mahasiswa kedokteran yang baru lulus bisa langsung ditempatkan di faskes di Surabaya,”jelas Ery.

Nantinya aplikasi e-healt milik Pemkot tidak hanya digunakan untuk mendaftar dan memperoleh nomor antrian, tetapi juga berfungsi untuk mengetahui berapa jumlah dokter yang siaga di setiap puskesmas. Perlu adanya integrasi informasi yang akurat antar data jumlah dokter jaga dan data jumlah pasien. Pemberitahuan secara tertulis tidak hanya lewat aplikasi atau laman web, tetapi harus dapat dicetak langsung di kertas nomor antrian pasien.

“Ternyata sering kita temukan kalau pasien nomor urut sekian, harusnya periksa jam 9 WIB, ternyata dia sudah antri sejak pukul 7 pagi. Akibatnya pasien tersebut dikira sudah antri selama 2 jam. Nanti akan kita atur di system e-healt,” terang Ery seraya menambahkan bahwa pemberitahuan nomor antrian dan jam periksa bakal ditampilkan di layar LED di setiap ruang tunggu puskesmas dan akan tercetak di nomor antrian pasien. (fred)