JATIMPOS.CO/SURABAYA - Surabaya masih menjadi magnet yang kuat bagi wisatawan asing untuk datang menikmati segala pesonanya. Kuliner, heritage, lifestyle, taman-taman kota, hingga suasana kampung yang masih terjaga kearifan lokalnya, membuat setiap orang yang berkunjung ke Surabaya selalu betah. Hal ini yang mendasari dua orang reporter asal Eropa tertarik untuk membuat film dokumenter di Surabaya. Selama tiga hari, mereka tinggal di Surabaya untuk melakukan peliputan ke objek-objek penting. Nantinya, hasil liputan itu akan ditayangkan dalam dua stasiun TV di Eropa, yakni “TV5Monde” dan “France 2” dalam episode bertajuk "pays et marches du monde”.




Country Manager France, Visit Indonesia Tourism Officer (VITO) Eka Moncarre mengatakan tujuan mereka visit ke Surabaya dalam rangka kegiatan promosi wisata Indonesia yang bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata (Kemenpar). Selama tiga hari, mereka akan tinggal di Surabaya untuk melakukan peliputan ke beberapa objek spesial di Kota Pahlawan. “Sebelumnya, kita sudah sepuluh hari shooting, mulai dari Balikpapan, Kutai Barat, Banyuwangi dan kemarin ke Bromo dan terakhir ini di Surabaya,” kata Eka, sapaan lekatnya, Rabu, (13/02/19).

Eka Moncarre mengungkapkan, Surabaya dipilih karena dinilai memiliki beberapa objek wisata spesial, seperti heritage dan kuliner. Apalagi, lanjut dia, tahun 2018 Kota Surabaya berhasil menyabet dua penghargaan, yakni Yokatta Wonderful Indonesia Tourism Awards 2018, sebagai kota terbaik di Indonesia bidang pariwisata dan Online Popular City Guangzhou International Award 2018 sebagai kota terpopuler di dunia. Hal ini menjadi dasar bahwa Kota Surabaya sangat layak untuk menjadi tujuan destinasi wisata bagi masyarakat Eropa. “Saya rasa itu timingyang sangat bagus untuk memperkenalkan Surabaya,” ujarnya.

Proses pengambilan gambar mereka dimulai dengan menyusuri Sungai Kalimas di hari pertama, Senin, (11/02). Mereka didampingi beberapa jajaran dari Pemkot Surabaya untuk meliput eksotisme Sungai Kalimas di malam hari. Selanjutnya, pada Selasa, (12/02), mereka melakukan peliputan ke beberapa objek heritage dan kuliner di Surabaya. Seperti, Hotel Majapahit, Jalan Panggung, Pasar Pabean, Tugu Pahlawan, Kawasan Kota Tua Surabaya Utara, Kampung Lawas Maspati, hingga menikmati santapan kuliner sate kelopo Ondomohen. Bahkan, diakhir kunjungannya itu, mereka juga melakukan wawancara langsung dengan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di ruang kerja Balai Kota.

Sementara itu, Wali Kota Risma mengatakan pihaknya berkomitmen membuat suatu konsep dimana Kota Surabaya berbeda dengan kota-kota lain. Walaupun Surabaya tidak mempunyai objek wisata seperti di Eropa, namun yang membuat wisatawan asing betah di Kota Pahlawan adalah kampung-kampung Surabaya yang masih tetap terjaga kearifan lokalnya. Karena itu, ia selalu mengajarkan kepada warga Surabaya agar selalu ramah terhadap wisatawan yang datang. “Saya mengajak warga Surabaya untuk menjadi tuan rumah yang baik. Saya mengajarkan seluruh warga untuk ramah terhadap setiap pendatang (wisatawan),” kata Wali Kota Risma.

Ia mengungkapkan selain membuat kota yang ramah untuk pendatang, Wali Kota Risma juga mengaku bagaimana membangun Surabaya ini agar bisa terus ramai, baik saat siang ataupun malam. Selain bertujuan untuk menggaet wisatawan, hal ini dilakukan sebagai komitmen untuk membangun Surabaya agar bisa terus sejajar dengan kota-kota besar di dunia. Salah satunya yakni, dengan membuat taman-taman kota yang bisa dikunjungi selama 24 jam. Terlebih, Tujuannya, agar masyarakat maupun wisatawan yang tinggal di Surabaya, merasa aman dan nyaman. “Saya membuat para pendatang (wisatawan) ini nyaman, sehingga wisatawan yang datang ke Surabaya ini merasa senang hati, baik saat pagi ataupun malam hari,” tuturnya. (fred)