JATIMPOS.CO/SURABAYA - Menjelang peringatan Hari Anti Narkoba Internasional yang jatuh pada 26 Juni mendatang, BNN RI bekerjasama dengan Pemkot Surabaya me-launching kurikulum anti narkoba untuk pertama kalinya di Indonesia pada Selasa (9/6) di JX Internasional Convension Exibition Jalan Ahmad Yani Surabaya.



Sekitar 10.000 pelajar berbagai SMP dan SMA se-Surabaya menghadiri launching kurikulum baru tersebut yang bertema “Surabaya Resik Narkoba”. Hadir di acara itu, Kepala BNN RI Komjen Dr Anang Iskandar SH,MH, Walikota Surabaya Dr (HC) Ir Tri Rismaharini, MT, Kadis Pendidikan kota Surabaya Dr Ikhsan S.Psi, MM, Kepala Kantor Kementrian Agama Provinsi Jatim, Forpimda, para kepala sekolah, guru-guru, ketua OSIS se-Surabaya, serta pelopor pelajar perubahan kota Surabaya.

Kadis Pendidikan Kota Surabaya Ikhsan menuturkan, dengan program ini akan semakin melengkapi program yang telah diluncurkan sebelumnya yang melibatkan Surabaya dalam rangka melindungi dan mendampingi anak-anak di kota Surabaya. “Ibu Walikota sudah meluncurkan program bernama konselor sebaya yang sudah berjalan di seluruh sekolah di Surabaya, program ini dikembangkan lagi dengan program kampunge arek Suroboyo, sehingga anak-anak Surabaya terjaga mulai di sekolah sampai di lingkungan luar sekolah,” terang Ikhsan.

Modul dari kurikulum ini sudah direview oleh BP dan siap disosilisasikan kepada guru-guru SMP dan SMA sehingga mulai tahun ajaran baru kedepan ini bisa diterapkan di seluruh sekolah-sekolah di Surabaya.

Kepala BNN RI Anang Iskandar memberikan apresiasi kepada Walikota Surabaya yang memiliki kepedulian tinggi terhadap perkembangan masa depan anak-anak bangsa dan mampu mewujudkan dengan tindakan nyata dengan me-launching kurikulum anti narkoba yang pertama kali di Surabaya, sekaligus menjadi pilot project. “Kurikulum ini adalah amanat UU narkotika yang mengamanatkan bahwa pelajaran anti narkotika masuk dalam kurikulum pendidikan mulai SD,SMP,SMA,” papar Anang.

Anang menyatakan kurikulum ini menjadi relevan, karena di tingkat ASEAN, prevelansi pengguna narkoba di Indonesia paling besar, dan kesadaran untuk sembuh paling kecil. “Mulai dari terkena/kecanduan narkoba mulai remaja, tidak tersembuhkan sampai akhir hayatnya. Dengan diluncurkannya kurikulum anti narkoba ini akan dapat membentengi para pelajar di Surabaya untuk bisa yakin bahwa narkoba itu berbahaya,” tegas Anang.

Sementara itu Walikota Surabaya Tri Rismaharini memberi wejangan kepada ribuan pelajar SMP, SMA yang hadir untuk dapat menangkal bahaya narkoba, sedini mungkin menghindari yang namanya narkoba. “Betapa dahsyat dampak narkoba, kalau itu sampai terjadi, betapa kecewanya orang tua kalian, guru-guru kalian. Negara dan bangsa ini menunggu prestasi kalian. Kalian dapat meraih prestasi di bidang apapun yang kalian inginkan tanpa butuh (harus pakai) narkoba, kalau kalian sudah menggunakan, pasti prestasi kalian akan terganggu.” Kata Risma mengingatkan. (fred)