JATIMPOS.CO/SURABAYA - Guna mengantisipasi efek insiden Tolikara Papua, umat beragama di Surabaya bersama jajaran Pemkot dan Forpimda Kota Surabaya menandatangani pernyataan sikap bersama di halaman Tugu Pahlawan Surabaya pada Jumat (24/7/2015) siang.



Turut hadir dalam acara tersebut Walikota Surabaya Tri Rismaharini, pimpinan umat beragama dan tokoh organisasi kemasyarakatan, Kapolrestabes Kota Surabaya, Danrem Baskara Jaya, Ketua DPRD kota Surabaya, Kepala Kejaksaan Negeri Kota Surabaya, Ketua FKUB Kota Surabaya, Kepala Kantor Kementrian Agama Kota Surabaya, SKPD, Camat, Muspika dan para lurah seluruh Kota Surabaya.

Dipilihnya Tugu Pahlawan Surabaya sebagai tempat penandatanganan sikap bersama dimaksudkan agar kita yang hidup dalam alam kemerdekaan dewasa ini selalu ingat akan jasa dan pengorbanan para pahlawan dalam membela dan mempertahankan kemerdekaan.

Pernyataan Sikap Bersama dalam rangka menjaga kerukunan dan keharmonisan umat beragama di Kota Surabaya berisi lima poin,  yaitu: 1. Tetap menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, 2. Bahwa Kebhinekaan masyarakat Indonesia khususnya di Surabaya merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang harus dijaga bersama, 3. Bahwa kedamaian dan kerukunan umat beragama di Surabaya yang sudah terwujud harus selalu tetap terjaga, 4. Menolak segala bentuk kekerasan dan tindakan anarkis yang mengatasnamakan agama, 5. Mengimbau kepada masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi serta tetap menjaga toleransi kehidupan umat beragama untuk saling menghargai kebebasan beribadah.

Pernyataan sikap bersama tersebut ditandatangani demi keamanan, ketertiban dan kedamaian bersama.Tokoh umat beragama yang menandatangani pernyataan sikap bersama masing-masing mewakili umat Islam, umat Kristen, umat Katolik, umat Budha, umat Hindu, umat Konghucu, MUI, Depag serta para pejabat Forpimda kota Surabaya. 

Walikota Surabaya Tri Rismaharini dalam sambutannya mengajak seluruh warga kota Surabaya untuk tetap bersama-sama menjaga Kota Surabaya agar tetap aman dan kondusif. ”Tujuh puluh tahun yang lalu para pendahulu kita memutuskan untuk menyisihkan perbedaan agama, suku, ras dan memilih untuk bersatu membela tanah air, mengorbankan nyawa dan gugur. Saat ini kita tidak perlu berjibaku melawan peluru. Kita tinggal menjaga bersama Kota Surabaya yang kita cintai ini, janganlah perbedaan yang ada kemudian dapat membuat gesekan (gejolak) di masyarakat. Mari bersama-sama kita bergandengantangan meningkatkan tali persaudaraan kita,” ujar Risma penuh harap. (tot)