JATIMPOS.CO/SURABAYA - Terlepas dari pertunjukan yang menggelikan, sikap Haries Purowoko yang kabur saat proses pendaftaran calon Wakil Wali Kota berpasangan dengan Dhimam Abror sebagai calon Wali Kota, di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Surabaya, patut diacungi jempol demi menjaga martabat dan harga dirinya.


 

Haries mengaku terpaksa mundur dari pencalonannya sebagai Wakil Wali Kota Surabaya karena tak mau diangap sebagai calon boneka. "Saya merasa harga diri saya tidak ada karena ada yang menganggap saya calon boneka," kata Haries. 

Selain itu, Haries merasa tidak enak, karena mendengar desas-desus yang mengatakan dirinya telah menerima uang Rp 20 miliar. Haries tersinggung karena diisukan demikian. "Daripada nanti saling curiga, lebih baik saya mundur saja. Ini juga untuk kebaikan warga Surabaya," terang Haries yang menjabat Ketua Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) Jawa Timur itu. 

Meski demikian Haries menyatakan, siap untuk mencoba lagi dalam Pilwali yang akan digelar pada 2017 nanti. "Ibu saya juga menyarankan begitu," kata Haries.

Sementara itu, Abror menuturkan bahwa dirinya keluar dari KPU lantaran dipanggil oleh Gubernur jatim yang juga Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur Soekarwo. Dia mengaku sedang berkonsultasi untuk memutuskan langkah terbaik selanjutnya. "Yang jelas saya benar-benar berniat maju dalam Pilwali ini," ujarnya.

Berita mengenai menghilangnya pasangan calon Wali Kota dan calon Wakil Wali Kota Surabaya, Dhimam Abror dan Haries Purwoko, saat proses pendaftaran di KPU Surabaya, Senin (3/8/2015) sore, jadi bahan pembicaraan di masyarakat. Semula, pasangan Dhimam

Abror dan Haries Purwoko menunggu proses pendaftaran yang akan dilakukan Komisioner KPU untuk menandatangani kesiapan sebagai calon wali kota dan wakil wali kota di Pilkada Surabaya. Sesaat setelah itu, Haries mendapat telepon dan bergegas keluar ruangan.Orang mengira ia pergi ke toilet.

Setelah sekitar 10 menit, Abror bingung mencari keberadaan pasangannya yang tak kunjung muncul. Abror pun mencoba telepon dan mengirim pesan singkat ke Haries, namun tak mendapat jawaban. Setelah menunggu sekitar satu jam, Abror pun bergegas masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan kantor KPU Surabya di Jalan Adityawarman itu.

"Sebentar, saya mau cari Pak Haries, pasangan saya dulu. Saya sudah ditunggu oleh KPU untuk melengkapi administrasi," kata Abror bergegas pergi.

Dhimam Abror merupakan calon yang mendapatkan rekomendasi dari Partai Demokrat. Sedangkan Haries Purwoko merupakan calon yang diusung PAN. Keduanya partai itu sudah memenuhi porsi untuk mengusung calon wali kota dan wakil wali kota Surabaya, yakni 10 kursi di DPRD Kota Surabaya. Enam kursi dari Demokrat dan empat kursi dari PAN.

Menanggapi pendafataran yang terputus di tengah jalan itu, Komisioner KPU Surabaya Divisi Pengawasan Hukum, SDM, dan Organisasi Purnomo Satryo Pringgodigdo menuturkan, pihaknya memberikan kesempatan untuk melengkapi persyaratan hingga pukul 23.59 tengah malam. Namun sampai tiba waktunya, Abror dan Haries tak terlihat di Kantor KPU Surabaya.

Dengan kondisi tersebut, KPU Surabaya menetapkan bahwa Pilkada Surabaya dianggap hanya punya satu pasangan calon, yakni Tri Rismaharini - Whisnu Sakti Buana yang diusung PDIP. "Karena hanya ada satu pasangan calon, ya sesuai aturan, Pilwali Surabaya ditunda 2017," tegas Satriyo. (yus)