JATIMPOS.CO/LAMONGAN - Menanggapi pencemaran lingkungan yang mengakibatkan puluhan hektar sawah milik petani di Desa Brengkok Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan mati, diduga berasal dari pabrik baja PT Brondong Inti Perkasa (BIP). Anggota DPRD Lamongan Anshori, memberikan tanggapannya terkait pencemaran limbah tersebut. 

Sebagaiman diketahui, limbah yang diduga berasal dari pabrik PT BIP selain masuk ke sawah, limbah berwarna orange itu juga masuk ke waduk hingga petani pun enggan menggunakan air dari waduk tersebut untuk mengairi sawah. 

Anggota DPRD Kabupaten Lamongan fraksi partai Gerindra ini sangat menyayangkan terjadinya pencemaran lingkungan hingga merugikan masyarakat sekitar, untuk itu pihaknya meminta PT. BIP memberikan ganti rugi kepada petani yang terdampak. 

"Kebocoran limbah dari PT Brondong Inti Perkasa yang mencemari lahan pertanian dan waduk, tentu sangat merugikan petani. Saya minta PT. BIP memberikan ganti rugi para petani yang terdampak limbah," ujar Anshori, Jumat (18/11/2022).

Wakil Ketua DPC Partai Gerinda Lamongan itu juga meminta untuk sementara waktu PT Brondong Inti Perkasa menghentikan aktivitas dan produksi ditutup hingga mempunyai IPAL . Selain itu Politis yang merakyat meminta aparat penegak hukum dan Dinas terkait mengusut tuntas atas kebocoran limbah yang diduga berasal dari PT Brondong Inti Perkasa. 

"Saya minta PT BIP menghentikan aktivitas dan produksi (di tutup) sampai mempunyai IPAL dan ada jaminan tidak terulang lagi. serta polres dan DLH harus mengusut kebocoran limbah ini sampai tuntas," tegasnya.

Disisi lain, Siskan, salah satu petani yang sawahnya juga terdampak mengatakan, jika kejadian itu sudah berlangsung sejak 5 hari terakhir. Limbah masuk melalui saluran irigasi hingga mencemari air waduk yang digunakan petani untuk mengairi sawah mereka. "Akibatnya tanaman padi yang kita tanam mati. Persemaian wileh yang baru kita tanam pun ikutan mati. Ikan-ikannya juga mati," kata Siskan saat berada di lokasi sawahnya. 

Siskan menambahkan jika kejadian seperti itu baru pertama kali terjadi. Bahkan dirinya dan beberapa petani lainnya mengaku gagal panen.

"Terpaksa gagal panen, karena semua tanaman kami mati semua," tandasnya.

Meski demikian ia dan petani lainnya berharap tanggung jawab dari pihak perusahaan untuk mengganti kerugian yang diperkirakan hingga puluhan juta rupiah. (bis)

 

TERPOPULER

  • Minggu Ini

  • Bulan Ini

  • Semua