JATIMPOS.CO//MOJOKERTO - Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Islam (Nuris) Pungging, Kabupaten Mojokerto, berlangsung khidmat dan penuh makna. Ribuan santri mengikuti upacara yang dirangkai dengan pembacaan Resolusi Jihad, ikrar santri, serta pertunjukan drama kolosal tentang perjuangan anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser), Riyanto, yang gugur saat mengamankan perayaan Natal.
Upacara yang digelar di halaman Ponpes Nurul Islam 2, Kamis (22/10/2026), tersebut dipimpin langsung Kapolres Mojokerto AKBP Raden Erik Bangun Prakasa, S.I.K., M.H., selaku inspektur upacara.
Suasana semakin khidmat ketika pendiri sekaligus pengasuh Ponpes Nurul Islam, Dr. KH. Ahmad Siddiq, S.E., M.M., membacakan Resolusi Jihad. Sementara itu, ikrar santri dipimpin oleh Bendahara Ponpes Nurul Islam, HM Iksan.
Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran Forkopimca Pungging, Kepala KUA Pungging, Ketua dan pengurus MWCNU Pungging, Fatayat NU, Muslimat NU, GP Ansor Pungging, kepala desa setempat, tokoh masyarakat, serta ribuan santri dan santriwati.
Salah satu penampilan yang menyita perhatian adalah teatrikal kisah Riyanto, anggota Banser berusia 25 tahun yang gugur akibat ledakan bom ketika menjalankan tugas pengamanan perayaan malam Natal di Gereja Eben Haezer, Mojokerto, pada 24 Desember 2000.
Drama yang diperankan para santri tersebut tidak sekadar menjadi pertunjukan seni, tetapi juga menyampaikan pesan kuat tentang toleransi, keberanian, pengabdian, dan nilai-nilai kemanusiaan tanpa memandang perbedaan agama maupun latar belakang.
Kapolres Mojokerto AKBP Raden Erik Bangun Prakasa mengapresiasi pendidikan di Ponpes Nurul Islam yang dinilai turut menanamkan jiwa nasionalisme kepada para santri.
Menurutnya, pesantren memiliki peran penting dalam mencetak generasi penerus bangsa yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki wawasan kebangsaan dan kesiapan menghadapi perkembangan zaman.
“Alhamdulillah, di bawah asuhan Romo KH Ahmad Siddiq, para santri memiliki jiwa nasionalisme yang sangat kuat. Insyaallah, dari pola pendidikan pesantren seperti ini akan lahir calon-calon pemimpin bangsa dan negara,” ungkapnya usai menjadi Irup Upacara HSN 2026 di Ponpes Nuris.
Ia menjelaskan, Polres Mojokerto juga memiliki program pembinaan bagi kalangan santri yang dilaksanakan secara rutin setiap pekan. Materi yang diberikan antara lain wawasan kebangsaan dan nasionalisme untuk memperluas pengetahuan serta menumbuhkan kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kapolres juga berpesan agar para santri senantiasa istiqamah dalam menuntut ilmu dan terus meningkatkan kapasitas diri.
“Perkembangan dunia sangat cepat dan dinamis. Karena itu, santri dan santriwati harus memiliki pengetahuan yang luas. Harapan kami, ke depan pemimpin-pemimpin bangsa lahir dari pondok pesantren,” tegasnya.
Sementara itu, pengasuh Ponpes Nurul Islam, KH Ahmad Siddiq, menyampaikan bahwa peringatan Hari Santri Nasional menjadi momentum untuk meneguhkan kembali peran santri dalam menjaga persatuan dan keutuhan bangsa.
Ia mengatakan, sejak Hari Santri Nasional ditetapkan pada 22 Oktober 2015, Ponpes Nurul Islam secara konsisten memperingatinya sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Pada peringatan tahun ini, Ponpes Nurul Islam ( Nuris) juga bersinergi dengan Polres Mojokerto. Kehadiran Kapolres beserta jajarannya dinilai menjadi wujud nyata pentingnya membangun hubungan harmonis antara ulama dan umara.
“Alhamdulillah, tahun ini Kapolres Mojokerto beserta seluruh jajarannya bisa hadir. Ini merupakan manifestasi bahwa ulama dan umara harus senantiasa bersinergi, membangun hubungan yang kuat untuk menjaga NKRI yang merupakan warisan para ulama,” ujarnya.
KH Ahmad Siddiq menegaskan, semangat Resolusi Jihad tidak boleh berhenti sebagai catatan sejarah. Bagi santri masa kini, nilai-nilai perjuangan tersebut harus diterjemahkan melalui peningkatan kualitas ilmu, pengabdian kepada masyarakat, serta komitmen menjaga persatuan bangsa.
“Resolusi Jihad di era sekarang bagi para santri adalah membangun semangat yang lebih tinggi lagi. Ini merupakan warisan para ulama, dan santri mempunyai kewajiban untuk merawat warisan tersebut,” tuturnya.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat persatuan antara ulama, umat, dan pemerintah demi menjaga keutuhan bangsa.
Lebih lanjut, KH Ahmad Siddiq menjelaskan bahwa penampilan teatrikal kisah Riyanto sengaja dihadirkan untuk memberikan pelajaran kepada para santri mengenai pentingnya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
“Melalui kisah tersebut, para santri diajak memahami bahwa pengabdian kepada bangsa tidak selalu diwujudkan melalui perjuangan bersenjata, tetapi juga melalui sikap saling menghormati, kepedulian sosial, menjunjung tinggi nilai nilai kemanusiaan,” ujarnya.
Peringatan HSN 2026 di Ponpes Nurul Islam Pungging pun menjadi momentum untuk memperkuat komitmen pesantren dalam mencetak generasi santri yang berilmu, berakhlak, berjiwa nasionalis, serta mampu merawat toleransi di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Semangat Resolusi Jihad yang diwariskan para ulama diharapkan terus hidup dalam diri santri sebagai kekuatan untuk menjaga persatuan, memperkokoh NKRI, dan mewujudkan kehidupan masyarakat yang damai dan harmonis. (din)