JATIMPOS.CO/KOTA MADIUN - Pemerintah Kota Madiun bersama Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Kediri menggelar kick off dan peresmian aplikasi Sekolah Peduli Inflasi (SPI) pada Rabu (23/4/2025). Tujuannya, untuk mengedukasi siswa dan menggerakkan partisipasi generasi muda dalam pengendalian inflasi.

SPI dengan tema 'Generasi Emas Peduli Inflasi' ini diselenggarakan di Gedung Diklat Kota Madiun, dengan peserta ratusan siswa-siswi SMP/MTs se-Kota Madiun.

Wali Kota Madiun, Dr Maidi menyampaikan, meskipun Kota Madiun cukup terjaga dari inflasi, berbagai upaya antisipasi tetap harus dilakukan. Salah satunya datang dari BI Kantor Perwakilan Kediri yang hadir dengan program Sekolah Peduli Inflasi.

"Terima kasih kepada BI yang sudah peduli akan inflasi di Kota Madiun. Karena, inflasi memang perlu dikenalkan kepada generasi penerus termasuk pelajar sekolah untuk mengantisipasi inflasi,’’ kata Dr Maidi.

Wali Kota Madiun, Dr Maidi (dua dari kiri) simbolia penanaman timbuhan produktif menandai dimulainya Sekolah Peduli Inflasi, Rabu (23/4/2025).

Menurutnya, inflasi terjadi karena dari masyarakat itu sendiri. Maka, agar tidak terjadi inflasi dan bagaimana mengatasi inflasi, semua elemen pun dilibatkan, termasuk siswa-siswi di sekolah, mulai dari proses penanaman, hidup hemat dan hidup sederhana, tetapi tidak mengurangi penyempurnaan hidup.

"Ini penting sekali, karena kalau alam ini semakin krisis dan alam ini nanti kritis tidak bisa produksi, itu kembalinya pada kita semuanya, barang tidak ada kita yang repot. Makanya ini tidak boleh terjadi di Kota Madiun," ungkapnya.

Melalui program SPI ini, menurut Maidi pelajar harus tahu bagaimana suatu barang itu bisa mempengaruhi inflasi. Termasuk harus tahu bagaimana menanggulanginya. Jika barang langka dan jadi mahal, maka keberadaan barang harus ditambah.

"Makanya dengan menanam sendiri seperti ini bisa ikut mengurangi permintaan pasar sehingga bisa menekan inflasi,’’ ujarnya.

Wali Kota Madiun juga berpesan agar pelajar tidak boros. Karena boros bisa meningkatkan permintaan barang di pasar. Saat permintaan tinggi dan tidak sebanding dengan stok, maka akan terjadi kelangkaan yang bermuara pada inflasi, maka pelajar dilibatkan agar bisa ikut menekan inflasi dengan mengedepankan hidup hemat.

"Termasuk boros dalam hal konsumsi, misalnya ambil makan jangan berlebihan, kemudian jika sisa dibuang. Mungkin ini sepele, tapi kalau dilakukan banyak orang maka bisa berdampak pada inflasi,’’ pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kediri, Yayat Cadarajat menyampaikan apresiasi kepada Pemkot Madiun dan seluruh mitra yang terlibat dan berkontribusi atas terwujudnya program SPI tersebut.

"Ini menjadi bukti bahwa upaya inflasi ini bukan hanya tugas pemerintah tapi juga menjadi tugas dan tanggung jawab kita bersama, dan seluruh elemen masyarakat di Kota Madiun ini," kata Yayat Cadarajat.

Menurutnya, SPI ini digelar untuk memberikan pemahaman di dunia pendidikan, terutama ke anak-anak sekolah. Karena program SPI merupakan salah satu bentuk antisipasi dalam upaya edukasi dan partisipasi generasi muda untuk pengendalian inflasi dan ketahanan pangan.

"Harapan kami melalui program ini dapat mendorong pemanfaatan lahan sekolah sebagai sarana edukasi, sekaligus sarana produksi berbasis urban farming, bagaimana siswa dapat belajar langsung mengenai siklus produksi, distribusi hingga dampaknya pada harga pasar," pungkasnya. (Adv/jum).