JATIMPOS.CO/KOTA MADIUN — Seutas tali menjulur dari lantai atas Rusunawa Hayam Wuruk, Kota Madiun, Selasa (28/4/2026). Seorang petugas perlahan turun dari ketinggian, mengevakuasi “korban” yang terjebak di gedung bertingkat. Di bawah, tim gabungan bersiaga, memastikan setiap detik proses penyelamatan berjalan presisi.

Aksi itu menjadi penutup Apel Hari Kesiapsiagaan Bencana Tahun 2026 yang mengusung tema “Bersatu dalam Siaga, Tangguh Menghadapi Bencana”. Simulasi vertical rescue atau penyelamatan vertikal tersebut bukan sekadar atraksi, melainkan cerminan kesiapan Kota Madiun menghadapi risiko kebakaran di kawasan perkotaan yang kian berkembang.

Plt Wali Kota Madiun, Bagus Panuntun, menyaksikan langsung jalannya simulasi. Baginya, latihan itu menegaskan satu hal: bencana tidak bisa dihadapi sendiri.

“Kita semuanya hari ini tahu bahwa cuaca tidak bisa diprediksi. Kejadian-kejadian yang sudah kita alami ini tidak mungkin bisa kita tangani sendirian,” ujar Bagus Panuntun.

Di tengah dinamika cuaca dan meningkatnya kejadian kebakaran, terutama di wilayah perkotaan, simulasi penyelamatan dari gedung tinggi menjadi relevan. Kota Madiun, yang kini mulai dipenuhi bangunan bertingkat seperti rusunawa, membutuhkan kesiapan berbeda dibandingkan penanganan bencana di wilayah terbuka.

Simulasi Vertical Rescue: Seorang petugas perlahan turun dari ketinggian, mengevakuasi “korban” yang terjebak di gedung bertingkat Rusunawa Hayam Wuruk, Kota Madiun, Selasa (28/4/2026).

Dalam simulasi itu, tim gabungan memperagakan evakuasi korban dari lantai atas menggunakan teknik tali, pengamanan tubuh, hingga koordinasi tim darat. Setiap gerakan tampak terukur, mulai dari pengikatan, penurunan, hingga penanganan korban di bawah.

Namun di balik kelancaran itu, Bagus Panuntun mengingatkan bahwa keberhasilan bukan hanya soal teknik, melainkan kolaborasi.

Ia menyebut keterlibatan lintas unsur, mulai dari BPBD, Satpol PP, Dinas Perhubungan, Linmas, hingga TNI-Polri dan relawan, sebagai kekuatan utama dalam penanganan bencana di Kota Madiun.

“Semuanya ikut menyelesaikan kejadian-kejadian bencana. Ini menjadi catatan penting dan apresiasi dari pemerintah kota,” katanya.

Bagus Panuntun menuturkan, koordinasi yang terbangun selama ini turut berdampak pada penanganan aduan masyarakat. Ia mengklaim seluruh laporan yang masuk dapat ditangani dengan cepat berkat sinergi antarinstansi.

“Pengaduan masyarakat saya cek sendiri setiap hari. Alhamdulillah 100 persen tertangani dengan baik,” ujarnya.

Meski secara geografis Kota Madiun tergolong memiliki risiko bencana yang relatif kecil, ia menegaskan bahwa situasi di lapangan kerap berubah dan sulit diprediksi. Karena itu, kesiapsiagaan harus terus dijaga, termasuk melalui simulasi seperti vertical rescue.

Bagi Bagus Panuntun, latihan ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Ia berharap seluruh unsur, baik pemerintah, aparat, maupun masyarakat, terus memperkuat kerja sama dalam menghadapi potensi bencana.

“Kolaborasi dan sinergitas ini yang akan menjaga keamanan dan kenyamanan warga Kota Madiun,” katanya.

Di bawah langit Madiun yang cerah pagi itu, simulasi di Rusunawa Hayam Wuruk seolah menjadi pengingat: di tengah keterbatasan prediksi, kesiapan dan kebersamaan adalah kunci utama menghadapi bencana, bahkan dari ketinggian sekalipun. (Adv/jum).