JATIMPOS.CO, KABUPATEN JEMBER – Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Jember mencanangkan program masif untuk mengurangi angka pengangguran, yaitu dengan menargetkan pengiriman 1.000 tenaga kerja terampil ke luar negeri sepanjang tahun 2026. 

Langkah ini diambil sebagai strategi strategis Pemerintah Kabupaten untuk mengoptimalkan potensi angkatan kerja Jember yang telah melampaui dua juta jiwa sekaligus meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Kepala Disnaker Jember, Hadi Mulyono, menegaskan bahwa program tahun 2026 merupakan eskalasi besar-besaran dari program rintisan tahun sebelumnya. 

"Jika pada 2025 pemerintah baru melatih 20 orang untuk penempatan di Jepang dan Korea Selatan, tahun ini kuota ditingkatkan secara signifikan atas arahan langsung Bupati Jember," kata Hadi Mulyono, Rabu (04/02/2026).

Hadi Mulyono menambahkan bahwa fokus pada Sektor Profesional berbeda dengan pengiriman tenaga kerja informal, program ini memprioritaskan sektor-sektor profesional dengan standar upah tinggi.

"Diantara job yang disediakan yakni : Tenaga Medis: Perawat (nurse) dan pendamping lansia (caregiver). Industri: Tenaga ahli pengelasan (welder) untuk sektor manufaktur dan konstruksi," ulasnya.

Hadi menekankan bahwa selain kompetensi teknis, penguasaan bahasa asing—seperti bahasa Jepang, Korea, dan Inggris—menjadi syarat mutlak bagi calon pekerja agar memiliki daya saing tinggi di pasar global.

"Skema Pembiayaan dan Keamanan untuk meringankan beban calon Pekerja Migran Indonesia (PMI), Pemkab Jember menerapkan skema pembiayaan kolaboratif. 400 Peserta dibiayai penuh melalui anggaran APBD Kabupaten Jember. 600 Peserta diusulkan melalui kuota Kementerian Tenaga Kerja melalui BP3MI/BP2MI," tambahnya menjelaskan.

"Guna menjamin legalitas dan keamanan warga, Pemkab Jember juga telah menyiagakan layanan pendampingan dan verifikasi dokumen gratis di Mal Pelayanan Publik (MPP) Jember. Langkah preventif ini bertujuan untuk melindungi warga dari jeratan sindikat pengiriman tenaga kerja ilegal," lengkap Hadi Mulyono.

Melalui program ini, para PMI diharapkan tidak hanya menjadi pahlawan devisa, tetapi juga mampu membawa pulang modal serta keahlian internasional untuk membangun ekonomi di desa asal mereka. (Ari)