JATIMPOS.CO, KABUPATEN JEMBER – Dampak cuaca ekstrem yang memicu banjir luapan di sejumlah titik di Kabupaten Jember membuat Bupati Jember Muhammad Fawait, secara resmi menetapkan status Tanggap Darurat Bencana untuk seluruh wilayah Kabupaten Jember.
Keputusan ini diambil melalui rapat koordinasi cepat bersama unsur Forkopimda dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyusul curah hujan dengan intensitas sangat tinggi dalam 48 jam terakhir.
Status Tanggap Darurat ini dijadwalkan berlangsung selama 14 hari, terhitung sejak 12 hingga 26 Februari 2026, dengan opsi perpanjangan melihat dinamika cuaca dan kondisi di lapangan.
Bupati Jember Gus Fawait dalam arahannya menekankan bahwa prioritas utama pemerintah saat ini adalah keselamatan nyawa warga. Seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) telah diinstruksikan untuk menghentikan kegiatan non-esensial dan memfokuskan sumber daya pada penanganan dampak banjir.
"Negara harus hadir di tengah kesulitan warga. Saya telah memerintahkan seluruh jajaran, dari tingkat kabupaten hingga perangkat desa, untuk memastikan tidak ada warga yang terisolasi tanpa bantuan. Evakuasi harus dilakukan dengan cepat, humanis, dan terukur," tegas Gus Fawait. Minggu (15/02/2026).
Menurutnya, untuk menangani krisis ini secara sistematis, Pemerintah Kabupaten Jember telah mengaktifkan protokol darurat yakni posko, Logistik dan Dapur Umum, Layanan Kesehatan Mobile.
"Aktivasi posko utama di pendopo kabupaten yang beroperasi 24 jam untuk memantau debit air dan koordinasi bantuan dan Pendirian dapur umum di titik-titik pengungsian utama dengan standar gizi yang terjaga, serta distribusi paket sembako dan perlengkapan bayi/lansia," ungkap Gus Fawait.
"Pengerahan tim medis dari Dinkes ke lokasi pengungsian guna mencegah penyebaran penyakit pasca-banjir seperti ISPA dan penyakit kulit dan Penyiagaan alat berat di area rawan longsor dan perbaikan tanggul sementara di bantaran sungai yang jebol," tambahnya.
Berdasarkan data sementara dari BPBD Kabupaten Jember, banjir kali ini dipicu oleh anomali cuaca yang menyebabkan beberapa sungai besar, termasuk Sungai Bedadung, meluap. Beberapa kecamatan seperti Rambipuji, Kaliwates, dan Tempurejo menjadi wilayah dengan dampak paling signifikan.
"BMKG memprediksi bahwa puncak cuaca ekstrem masih akan terjadi hingga 20 Februari 2026. Oleh karena itu, masyarakat yang tinggal di bantaran sungai dan daerah kemiringan curam jika cuaca buruk diminta untuk bersedia dievakuasi sementara ke posko yang telah disediakan," lengkapnya.
Gus Fawait juga mengajak masyarakat Jember untuk saling bahu-membahu dan tetap tenang di tengah situasi sulit ini. Masyarakat tetap mengikuti arahan resmi dari BPBD dan tidak termakan isu hoaks yang beredar di media sosial. (Ari)
