JATIMPOS.CO, KABUPATEN JEMBER – Setahun sudah Muhammad Fawait, yang akrab disapa Gus Fawait, menahkodai Jember sebagai Bupati Jember. 

Momentum ini menjadi titik balik bagi masyarakat untuk mengevaluasi janji-janji politik serta realisasi program kerja yang telah digulirkan selama satu tahun Gus Fawait memimpin Jember.

Mengusung visi 'Jember Baru Jember Maju', kepemimpinan Gus Fawait kini menuai beragam tanggapan dari akar rumput. Mulai dari penataan estetika kota hingga isu krusial di sektor pertanian dan pendidikan, warga Jember memberikan rapor atas kinerja sang nahkoda.

Di pusat keramaian Kecamatan Kaliwates, perubahan fisik kota menjadi poin yang paling mencolok. Abdul Basid, seorang warga Jember Kidul, mengungkapkan bahwa setahun terakhir terasa ada napas baru dalam pengelolaan ruang publik. 

"Kami merasakan penataan di Kaliwates kini lebih humanis. Trotoar lebih ramah pejalan kaki dan penerangan jalan umum (PJU) mulai menjangkau gang-gang pemukiman," ujar Abdul. 

Namun, ia juga memberikan catatan kritis terkait keberlangsungan ekonomi mikro. 

"Harapan kami, Gus Fawait tidak hanya mempercantik kota secara visual, tapi juga memastikan pasar-pasar tradisional dan PKL diberikan ruang yang layak agar perputaran uang tetap di rakyat kecil," ungkapnya.

Bergeser ke arah barat, tepatnya di Kecamatan Tanggul, perhatian masyarakat tertuju pada infrastruktur jalan yang menjadi jalur distribusi hasil bumi. Gusti Ashari, warga Tanggul Kulon, menilai bahwa perbaikan akses jalan antar-kecamatan telah mempermudah mobilitas warga. 

"Dulu jalanan menuju area persawahan dan antar-desa banyak yang lubang, sekarang sudah mulai mulus. Ini penting bagi kami di Tanggul yang mayoritas adalah petani dan pedagang," jelas Gusti. 

Ia menambahkan bahwa tantangan terbesar di tahun kedua adalah ketersediaan pupuk. 

"Infrastruktur sudah oke, sekarang kami menunggu gebrakan Gus Fawait dalam menjamin ketersediaan pupuk subsidi dan stabilitas harga gabah. Itu nyawa kami di desa," imbuhnya.

Sementara itu, di wilayah Kencong, aspek pelayanan birokrasi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi sorotan utama. Ulum, seorang warga Kencong, mengapresiasi kemudahan pengurusan dokumen kependudukan yang kini bisa diselesaikan lebih dekat dengan warga.

"Dulu apa-apa harus ke pusat kota, sekarang di kecamatan sudah jauh lebih responsif. Sebagai ibu, saya juga mengamati program beasiswa yang digulirkan. Kami berharap Gus Fawait konsisten menambah kuota beasiswa untuk anak-anak berprestasi dari keluarga kurang mampu di pelosok seperti Kencong ini," ungkap ulum penuh harap.

Satu tahun pertama kepemimpinan Gus Fawait dianggap sebagai fase "aklimatisasi" dan penataan fondasi. Meski banyak apresiasi, tantangan besar masih membentang, terutama dalam menekan angka kemiskinan ekstrem di Jember dan memperkuat sinergi dengan pemerintah pusat.

Gus Fawait dalam berbagai kesempatan menekankan bahwa dirinya bukanlah 'superman', melainkan bagian dari tim besar masyarakat Jember. Dukungan dari warga seperti Abdul, Gusti, dan Hirna menjadi pelecut semangat sekaligus pengingat agar kebijakan yang diambil selalu berpihak pada rakyat kecil. (Ari)