JATIMPOS.CO, KABUPATEN JEMBER - Pemerintah Kabupaten Jember kembali menggulirkan Bantuan Pangan 2026 demi mengurangi inflasi usai momentum hari raya. Program ini resmi diluncurkan di Gudang Bulog Mangli pada Jumat (10/04/2026).

Program ini menjadi langkah strategis menjaga keseimbangan ekonomi masyarakat. Dan hasil sinergi antara Pemkab Jember dan Perum Bulog yang menyasar ratusan ribu warga. Berdasarkan data yang disampaikan, jumlah penerima bantuan mencapai 390.744 orang. 

Penerima bantuan beras ini mengalami penurunan dibanding periode sebelumnya, bantuan ini tetap menjadi instrumen penting dalam menjaga stabilitas harga bahan pokok. Penyaluran tahap awal difokuskan di kawasan perkotaan seperti Kecamatan Kaliwates, Patrang, dan Sumbersari guna mempercepat efek pengendalian harga di pasar dan mengurangi angka Kemiskinan di wilayah perkotaan.

“Total penerima bantuan pangan di Jember saat ini sebanyak 390.744 orang, memang sedikit menurun dari sebelumnya,” kata Ade Saputra Kepala Bulog Jember.

Ia menjelaskan bahwa prioritas wilayah kota dipilih agar intervensi harga bisa lebih cepat dirasakan masyarakat luas, terutama di pusat distribusi ekonomi.

“Kami dahulukan wilayah kota agar intervensi terhadap harga bahan pokok bisa lebih cepat dirasakan masyarakat,” jelasnya.

Untuk menopang program ini, Bulog menyiapkan sekitar 8.000 ton beras yang dialokasikan selama Februari hingga Maret, ditambah distribusi minyak goreng dalam jumlah besar. Ketersediaan ini diharapkan mampu menjaga pasokan sekaligus menekan lonjakan harga yang kerap terjadi setelah Ramadan dan Idul Fitri.

Di sisi lain, capaian penyerapan hasil panen petani juga menunjukkan tren positif. Hingga awal April 2026, Bulog telah menyerap sekitar 198.000 ton gabah kering panen. Kondisi ini turut mendorong kenaikan harga gabah di tingkat petani, dari sebelumnya sekitar Rp6.100 menjadi kisaran Rp6.700 hingga Rp8.000 per kilogram.

“Kami terbantu dengan dukungan Pemkab dalam menyerap gabah petani, sehingga harga di tingkat petani ikut meningkat,” ujar Ade.

Meski demikian, Bulog menegaskan bahwa distribusi bantuan pangan dilakukan secara bertahap dan terukur. Hal ini untuk menghindari tekanan terhadap harga gabah saat masa panen raya, sehingga keseimbangan antara kepentingan konsumen dan petani tetap terjaga.

Sementara itu, Bupati Jember Gus Fawait menilai bantuan pangan sebagai langkah konkret dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah, khususnya setelah periode konsumsi tinggi selama hari besar keagamaan.

“Inflasi biasanya meningkat setelah Ramadan dan Idul Fitri. Bantuan pangan ini menjadi salah satu langkah untuk menjaga kestabilan harga dan daya beli masyarakat,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi kolaborasi antara pemerintah pusat, Bulog, serta aparat keamanan dalam memastikan distribusi berjalan lancar. Selain itu, Pemkab Jember mulai menyiapkan langkah jangka panjang dengan memperkuat infrastruktur pertanian guna menghadapi potensi cuaca ekstrem dan ancaman El Nino.

Dengan berbagai upaya tersebut, program Bantuan Pangan 2026 diharapkan tidak hanya menjadi solusi jangka pendek, tetapi juga mengurangi angka Kemiskinan yang secara bertahap mulai turun di Kabupaten Jember. (Ari)