JATIMPOS.CO/TRENGGALEK – Novita Hardini membawa kesenian dan potensi Kabupaten Trenggalek dalam ajang Yeosu World Island Fair 2026 di Korea Selatan. Kegiatan internasional tersebut berlangsung 5 September hingga 4 November 2026.

Yeosu World Island Fair 2026 mengusung tema “Island, Connecting the Ocean and the Future” dan melibatkan sekitar 30 negara serta tiga organisasi internasional. Ajang tersebut menargetkan hingga tiga juta pengunjung.

Dalam keterangannya, Novita mengatakan keikutsertaan Trenggalek menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi daerah, termasuk kebudayaan dan pariwisata, kepada masyarakat internasional.

“Kalau hari ini mereka mengenal Turonggo Yakso, maka kita ingin mereka mengenal lebih potensi Trenggalek. Selain berharap mereka datang sebagai wisatawan, mereka akan datang sebagai mitra bisnis, sebagai kolaborator. Di mana sumber daya pariwisata kepulauan di Indonesia memiliki potensi luar biasa besar,” kata Novita, Sabtu (5/9/2026).

“Namun, kita masih memerlukan dukungan dan sentuhan infrastruktur teknologi yang advance untuk menjadikan daya tarik pariwisata kita tidak hanya murni indah, namun membangun pengalaman berwisata dengan bantuan teknologi. Itulah diplomasi kebudayaan yang menghasilkan nilai nyata,” sambungnya.

Novita menilai pengembangan kebudayaan di daerah kepulauan perlu diikuti dengan dukungan infrastruktur. Menurutnya, konektivitas jalan, jaringan listrik, air, dan jaringan digital menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam pengembangan wilayah.

“Saya mendorong bahwa budaya bukan hanya dinikmati sesaat, namun harus menjadi kekuatan ekonomi. Maka infrastrukturnya juga harus menjadi prioritas pembangunan,” jelas Novita.

Ia mengatakan infrastruktur pendukung kebudayaan tidak hanya berupa pusat kebudayaan, ruang kreatif, sentra kerajinan, kawasan kuliner, galeri produk lokal, studio kreatif, dan ruang pertunjukan. Menurutnya, digitalisasi produk budaya dan konektivitas destinasi wisata juga perlu diperhatikan.

Novita juga menyinggung pentingnya kerja sama dengan jejaring internasional, perlindungan wilayah kepulauan dari potensi bencana, serta pemanfaatan teknologi dalam pengembangan kebudayaan dan pariwisata.

“Jangan sampai wisatawannya datang, tetapi ekosistem pendukung tidak siap. Seperti satu data informasi, menggunakan teknologi yang memudahkan wisatawan, seperti informasi kuliner, spot destinasi wisata, spot kreatif daerah yang bisa diakses satu pintu,” ujar Novita.

“Di Korea Selatan, kita mengenal NAVER Map. Indonesia masih jauh dikatakan layak menjadi destinasi dunia jika tidak meng-upgrade ekosistem pariwisatanya berbasis digital,” tambahnya.

Menurut Novita, Kabupaten Trenggalek memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan, mulai dari budaya, sumber daya alam, kuliner, kerajinan, hingga komunitas seni.

Ia mengatakan keikutsertaan Trenggalek dalam Yeosu World Island Fair 2026 tidak hanya berkaitan dengan pertunjukan kesenian, tetapi juga kesempatan memperkenalkan potensi daerah kepada masyarakat dan jejaring internasional.

“Karena budaya yang hidup bukan hanya budaya yang dilestarikan tetapi budaya yang mampu menghidupi generasi yang mewarisinya,” tutupnya.

Untuk diketahui, dalam keikutsertaan Trenggalek pada Yeosu World Island Fair 2026, Novita Hardini memberangkatkan 15 penari terpilih untuk tampil dalam ajang tersebut. (ard)