JATIMPOS.CO//TRENGGALEK- Setelah sukses menggelar Reyog Obyok di Anjungan Cerdas Trenggalek, Sabtu (17/10/2026), Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jatim di tempat yang sama pada Sabtu (24/10/2026) menggelar Jaranan Turonggo Yaksa.
Pembukaan dua kegiatan itu dilakukan Kadisbudpar Jatim Evy Afianasari, ST,M.MT dengan pemotongan tumpeng (17/10/2026). “Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur secara aktif melakukan pembinaan dan pelestarian terhadap kesenian khas Kabupaten Trenggalek, yaitu Jaranan Turonggo Yaksa,” ujarnya.
Warga masyarakat Trenggalek dan sekitarnya khususnya wilayah Anjungan Cerdas tampak antusias menyaksikan “Jaranan Turonggo Yaksa”. Sebab menghadirkan Sekar Mayang (Penyaji Terbaik Festival Jaranan Turonggo Yaksa 2026) yang merupakan Kharisma Event Nusantara (KEN).
Selain itu, Jaranan Turonggo Yaksa merupakaan kesenian asal Trenggalek. Awalnya sekitar dari adaptasi ritual bersih desa atau upacara Baritan di Kecamatan Dongko, Trenggalek. Kesenian ini diciptakan tahun 1970-an sebagai bentuk pelestarian adat yang dikemas menjadi hiburan rakyat yang dinamis dan sarat makna simbolis pengusiran kekuatan jahat.
Kesenian ini terus tumbuh dan berkembang. Pemprov Jatim melalui Disbudpar Jatim melakukan pembinaan dan pelestarian. Langkah strategis pembinaan ini diwujudkan melalui dukungan penuh terhadap perhelatan budaya berskala besar serta ruang ekspresi bagi para seniman lintas generasi.
Salahsatu bentuk pembinaan adalah fasilitasi pergelaran dan promosi khusus seperti pergelaran “Jaranan Turonggo Yaksa” dengan penampilan dari Sanggar Sekar Mayang (Penyaji Terbaik FJTT 2026) di Anjungan Cerdas, Trenggalek kali ini.
Upaya lainnya adalah dengan masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN). Berkat konsistensi pembinaan, festival yang menonjolkan identitas Turonggo Yaksa ini berhasil masuk ke dalam kalender event nasional Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026 dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Untuk regenerasi, Disbudpar Jatim melakukan pembinaan difokuskan pada keberlanjutan tradisi dengan membuka kategori perlombaan khusus, mulai dari Turonggo Yakso Bocah, Remaja, hingga tingkat SMA–Umum Nasional untuk memberikan wadah edukasi bagi generasi penerus.
Sekar Mayang Penyaji Terbaik
Sekar Mayang yang tampil di Anjungan Cerdas ini merupakan Penyaji Terbaik Festival Jaranan Turonggo Yaksa 2026. yang merupakan Kharisma Event Nusantara (KEN).

Sekar Mayang (Sanggar Tari Sekar Mayang) berhasil meraih predikat sebagai salah satu Penyaji Terbaik dalam Festival Jaranan Trenggalek Terbuka (FJTT) Ke-30 Tahun 2026.
Gelaran budaya tahunan yang diselenggarakan di Alun-Alun Trenggalek pada 20–26 September 2026 ini mencatatkan sejarah baru karena untuk pertama kalinya resmi masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN) 2026.
Kharisma Event Nusantara (KEN) adalah program strategis nasional dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia yang bertujuan untuk mempromosikan destinasi wisata melalui penyelenggaraan berbagai event daerah yang berkualitas.
Fungsi dan tujuannya adalah mendorong pertumbuhan UMKM, menyerap tenaga kerja lokal, dan menggerakkan roda ekonomi daerah, menampilkan dan merayakan kekayaan seni, tradisi, musik, kuliner, hingga karnaval dari berbagai provinsi di Indonesia. Selain itu untuk peningkatan kunjungan wisata, menjadi magnet untuk menarik pergerakan wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara.
Asal-usul Jaranan Turonggo Yaksa
Tari Turonggo Yakso adalah kesenian tradisional khas dari Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Lahir dari kolaborasi seniman lokal Dongko dan Tulungagung, termasuk inisiator Mbah Puguh (Puguh Daroini), koreografer Pamrihanto/Pamrih, dan komposer Muan pada tahun 70-an.
Kecamatan Dongko, merupakan daerah pegunungan yang berjarak sekitar 30 kilometer di selatan pusat kota. Tarian ini berakar dari upacara adat Baritan, tradisi yang telah diwariskan turun-temurun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat.
Upacara adat Baritan sendiri diselenggarakan setiap tahun pada bulan Suro (Muharam) dengan hari dan tanggal yang ditentukan oleh sesepuh atau pawang, yakni tokoh yang dianggap memahami dan memiliki wewenang dalam tradisi tersebut.
Dalam ritual ini, masyarakat berkumpul untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil pertanian dan keberkahan yang mereka terima.
“Turonggo” berarti kuda, sedangkan “Yakso” berarti raksasa atau buto. Properti kuda dalam tarian ini memiliki kepala raksasa bertanduk dengan rambut lebat, yang terbuat dari kulit sapi atau kerbau.
Kesenian ini lahir dari upacara adat Baritan (kepanjangan dari “bar ngarit tanduran”, yaitu tradisi setelah selesai mencari rumput dan mulai masa menanam kembali).
Dalam pelaksanaan upacara adat Baritan, para petani yang memiliki rojo koyo (hewan ternak) berkumpul dengan membawa perlengkapan sesaji berupa ambeng (nasi tumpeng) dan longkong (sesajen lain). Mereka juga membawa tali yang terbuat dari bambu yang disebut dadung. Ritual ini merupakan simbol harapan akan keberkahan dan keselamatan bagi seluruh masyarakat.
Awalnya digunakan sebagai sarana ritual tolak bala dan ungkapan syukur kepada Tuhan, namun kini juga ditampilkan sebagai seni pertunjukan dan hiburan.(ard/rl)