JATIMPOS.CO/KABUPATEN MADIUN – Sekitar 120 siswa dari empat sekolah di Kabupaten Madiun mengikuti pembelajaran luar ruang melalui program Master CETE (Masyarakat Terdidik, Cerdas, dan Terampil) di kawasan Wisata Alam Watu Rumpuk, Desa Mendak, Kecamatan Dagangan, Selasa (27/10/2026).
Kegiatan yang diinisiasi Pemerintah Kabupaten Madiun melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan ini tidak hanya memberikan pengalaman belajar di alam terbuka, tetapi juga menjadi upaya mengenalkan potensi wisata daerah sekaligus menggerakkan kembali perekonomian masyarakat setempat.
Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun, Rony Kurniawan, mengatakan Watu Rumpuk menjadi salah satu lokasi baru pelaksanaan Master CETE pada 2026. Pemilihan lokasi tersebut diharapkan dapat menghidupkan kembali destinasi wisata yang sempat mengalami penurunan kunjungan setelah pandemi Covid-19.
“Melalui program ini, kita berkolaborasi dengan masyarakat setempat, sekolah, kecamatan, dan instansi terkait untuk menggeliatkan kembali kegiatan wisata serta memberdayakan UMKM lokal,” kata Rony.
Menurut dia, Master CETE dirancang agar siswa tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung melalui pengamatan alam, pengenalan tanaman, kegiatan seni, serta berbagai aktivitas edukatif lainnya.
Program tersebut sekaligus diharapkan memberikan dampak ekonomi bagi warga sekitar. Kehadiran rombongan siswa pada hari biasa diharapkan dapat menambah penghasilan pelaku UMKM, termasuk pengelola usaha kuliner dan penyedia transportasi lokal.
Koordinator Master CETE Wilayah Selatan, Heny Sulistyorini, mengatakan kegiatan di Watu Rumpuk diikuti siswa dari tiga SMP dan satu SD, yakni SMPN 2 Geger, SMPN 1 Dagangan, SMPN 1 Dolopo, serta SDN Mruwak 1.
“Tujuannya mengenalkan daerah wisata di Kabupaten Madiun kepada anak-anak. Potensi wisata kita sebenarnya tidak kalah menarik dengan wisata di luar kota,” ujar Heny.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, senam Pembiasaan Anak Indonesia Hebat dan senam Kampung Pesilat. Para siswa kemudian mengikuti permainan edukatif untuk melatih konsentrasi dan kekompakan, dilanjutkan dengan pengenalan budaya lokal melalui kerajinan anyaman, edukasi perkebunan, serta praktik mengenal tanaman dan cara merawatnya.
Kegiatan juga diisi dengan pentas seni dari masing-masing sekolah untuk menampilkan bakat dan kreativitas siswa. Rangkaian acara ditutup dengan salat berjamaah bagi peserta muslim.
Heny menjelaskan, Master CETE dilaksanakan secara berkala setiap bulan di sejumlah lokasi di Kabupaten Madiun. Lokasinya bergantian di wilayah selatan, tengah, dan utara agar siswa dapat mengenal beragam potensi daerah, termasuk destinasi wisata yang belum pernah mereka kunjungi.
“Anak-anak belajar secara kontekstual. Apa yang sudah dipelajari di sekolah bisa dipraktikkan langsung di lapangan, misalnya mengamati tanaman, mengenal lingkungan, serta mempelajari cara menanam dan merawatnya,” katanya.
Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Kabupaten Madiun, Sulistyo Dwi Susanto, menilai program tersebut juga membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi wisata dan kearifan lokal.
Menurut dia, Watu Rumpuk memiliki potensi yang dapat dikembangkan kembali melalui kegiatan positif dan kunjungan edukatif. Penggunaan kendaraan milik warga setempat untuk mengangkut peserta juga memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendukung aspek keamanan karena pengemudinya memahami kondisi medan.
Pengalaman belajar di Watu Rumpuk mendapat sambutan positif dari para siswa. Ervina, siswa SMPN 1 Dagangan, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan di kawasan yang memiliki udara sejuk dan suasana tenang tersebut.
“Sejuk udaranya, tenang. Pokoknya banyak senangnya di sini,” ujar Ervina.
Hal serupa disampaikan Sekar, siswa SDN Mruwak 1, yang mengaku mendapatkan pengalaman baru saat mengikuti kegiatan di Watu Rumpuk. Selain mengikuti permainan bersama teman-temannya, ia juga belajar mengenal lingkungan dan pentingnya menjaga kebersihan.
Program Master CETE telah berjalan sejak Januari 2026 setelah sebelumnya diluncurkan pada 2025. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun menjadwalkan program tersebut berlangsung hingga November 2026, sebelum dilakukan evaluasi untuk penyempurnaan pelaksanaan pada tahun berikutnya.
Melalui kegiatan ini, pemerintah daerah berharap pembelajaran luar ruang tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan karakter siswa, tetapi juga menumbuhkan kecintaan terhadap alam serta memperkenalkan potensi wisata Kabupaten Madiun kepada generasi muda. (jum).