JATIMPOS.CO/SURABAYA — Ketua DPRD Jawa Timur Musyafak Rouf menyampaikan pesan Hari Santri di Gedung DPRD Jatim, Kamis (16/10/2025), ia menekankan keselamatan santri dan adaptasi digital.
“Sebentar lagi kita akan ketemu dengan Hari Santri, yaitu 22 Oktober. Mudah-mudahan dengan hari santri ini menjadi titik tolak bahwa santri bukan lagi menjadi barang yang dianggap asing, tetapi bagian daripada pernik-pernik bangsa Indonesia yang sudah sejak sebelum merdeka sampai sekarang masih eksis dan terus-menerus ditempa dengan berbagai cobaan,” katanya saat ditemui di DPRD Jatim.
Musyafak mengingatkan pengelola pesantren membenahi fasilitas hunian dan keselamatan santri, merespons kabar duka di Ponpes Al-Khoziny, agar peristiwa serupa tidak terulang lagi.
“Mudah-mudahan ini juga menjadi bagian daripada peringatan kepada siapapun yang mempunyai lembaga pondok pesantren yang menampung para santri,” jelas politisi PKB itu.
“Tidak hanya memikirkan dapat santri atau ada santri yang masuk, tapi tempat yang dihuni oleh santri itu bagian daripada fasilitas untuk kesuksesan mereka di masa-masa yang datang,” lanjutnya.
Ia menekankan porsi pendidikan akhlak di pesantren lebih besar ketimbang sekolah umum, membentuk adab, kepatuhan, dan tanggung jawab melalui kedekatan santri dengan guru serta kiai.
“Santri kalau mendapat perintah dari gurunya atau kyainya itu tanpa harus ada penolakan sama sekali, bahkan mereka merasa dapat barokah ketika membantu para kyai dan ustadznya yang ada di sana. Beda dengan di sekolah-sekolah umum yang di sana seakan akan menjadi beban,” jelasnya.
“Harapan kami santri ke depan tidak hanya kita lihat dari sisi sebelah mata, tetapi merekalah rata-rata yang mempunyai uswatun hasanah di tengah masyarakat bahkan rata-rata di tokoh-tokoh keagamaan yang ada di desa-desa itu semua adalah rata-rata anak santri,” lanjut Musyafak.
Musyafak menyebut santri tak bisa lepas dari era digital; larangan ponsel di banyak pesantren telah bergeser menjadi literasi, pengawasan, dan komunikasi yang lebih proporsional sekarang.
“Sekarang ya sudah harus menyesuaikan diri bahwa digitalisasi itu adalah bagian daripada pengembangan potensi santri yang harus mengikuti dunia luar yang tidak bisa kita bendung,” katanya.
Menanggapi tudingan feodal, ia mengatakan kurikulum pesantren kini diakui, kesempatan beasiswa terbuka, sedangkan pola tradisional bergeser ke pedagogik Ki Hajar Dewantara yang lebih modern humanis.
“Kalau ada yang mengatakan begitu (feodal) masih bisa kita pahami bahwa mereka mungkin belum tahu sebenarnya seperti apa pesantren yang sekarang itu,” ungkapnya.
“Feodalisme itu hampir sekarang sudah mulai bergeser, dan sekarang mengedepankan pedagogik yang diajarkan oleh Ki Hajar dewantara, itu normal tidak lagi seperti zaman kerajaan yang di situ Sangat tradisional yang seperti hidup di kerajaan tanpa harus ada milah-milah atau melakukan Pemilihan apa yang dia harus lakukan,” lanjutnya.
Ia mencontohkan perubahan aturan: dulu membawa ponsel dilarang, bahkan memakai celana tidak diperbolehkan, kini komunikasi santri–orang tua berlangsung setiap saat.
“Dulu zaman saya, jangankan bawa HP, kita ini pakai celana saja enggak boleh. Sekarang ya sudah semua pakai celana di pondok-pondok pesantren. Bahkan semuanya sudah komunikasi per detik, kita bisa komunikasi dengan anak kita yang ada di pondok pesantren,” ucapnya.
“Saya ucapkan selamat kepada para santri, keluarga santri, dan orang tua yang memondokkan anaknya; semoga kelak menjadi anak saleh dan salihah,” pungkasnya. (zen)