JATIMPOS.CO//SURABAYA – Di tengah sederet capaian pembangunan yang dipamerkan dalam peringatan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733, muncul satu pesan penting yang mengemuka dari jajaran legislatif.
Kemajuan Kota Pahlawan dinilai tidak cukup diukur dari megahnya infrastruktur dan tingginya gedung-gedung yang berdiri, melainkan dari seberapa besar manfaat pembangunan dirasakan langsung oleh masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Ketua DPRD Surabaya, Syaifuddin Zuhri, usai mengikuti upacara HJKS di Balai Kota Surabaya, Minggu (31/5/2026). Pernyataannya menjadi sorotan di tengah laporan keberhasilan Pemkot Surabaya yang mencatat pertumbuhan ekonomi mencapai 5,87 persen pada 2025 dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar Rp 830,54 triliun.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Surabaya juga melaporkan capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar 85,60, tertinggi di Jawa Timur. Angka kemiskinan pun turun menjadi 3,56 persen dari sebelumnya 3,96 persen pada 2024.
Namun, di balik sederet indikator makro yang menunjukkan tren positif tersebut, DPRD mengingatkan masih adanya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Akses pendidikan berkualitas, layanan kesehatan yang merata, serta penyediaan hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah dinilai tetap menjadi tantangan yang memerlukan perhatian serius.
“Jangan sampai pembangunan hanya terlihat megah dari luar, tetapi masih ada warga yang kesulitan mengakses layanan dasar. Pembangunan harus menghadirkan manfaat yang nyata dan dirasakan oleh semua lapisan masyarakat,” tegas Syaifuddin Zuhri yang juga disapa Ipuk.
Pernyataan itu sejalan dengan pidato Pelaksana Harian Wali Kota Surabaya. Dalam sambutannya, Armuji menegaskan bahwa keberhasilan Surabaya lahir dari kerja kolektif seluruh elemen masyarakat, mulai dari tingkat kampung hingga pusat pelayanan publik.
Pemkot memaparkan berbagai program yang diklaim menjadi penopang peningkatan kualitas hidup warga. Di bidang kesehatan, program Satu RW Satu Nakes, penguatan layanan puskesmas dan rumah sakit daerah, hingga penurunan angka stunting menjadi 0,59 persen disebut sebagai fondasi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Sementara di sektor pendidikan, ribuan pelajar dan mahasiswa menerima Beasiswa Pemuda Tangguh, disertai penguatan pendidikan inklusif bagi penyandang disabilitas.
Memasuki usia ke-733 tahun, Surabaya tidak hanya dituntut menjadi kota yang maju secara fisik, tetapi juga humanis, inklusif, dan berkeadilan. Di tengah pertumbuhan ekonomi dan modernisasi kota, tantangan terbesar Surabaya justru terletak pada memastikan seluruh warga menikmati hasil pembangunan secara setara. (fred)