JATIMPOS.CO//BATU- Jawa Timur menjadi provinsi nomor satu di Indonesia yang berhasil mengatasi dan mengendalikan penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak sapi potong, sapi perah, kambing, domba, kerbau dan babi, melalui vaksinasi dengan catatan rekor 6,8 juta dosis dari target 7,3 juta sepanjang Tahun 2023.

Seperti diketahui, keberadaan virus PMK masuk Indonesia sejak 1887 melalui sapi yang didatangkan dari Belanda. Serangan virus mematikan itu sempat berhenti dan dinyatakan bebas oleh Badan Kesehatan Dunia Tahun 1990.

Namun Tahun 2022 nampaknya pagebluk hewan yang mematikan ini kembali mewabah dan cukup membuat peternak Indonesia meratap dan menangis pilu. Apalagi baru saja bangsa ini juga mendapat serangan Covid 19.

Namun berkat kesigapan dan kebersamaan Satuan Tugas (Satgas) Pengendalian, dengan leading sektor Dinas Perternakan Provinsi Jawa Timur, bersama stakeholder, aparat keamanan dan seluruh peternak di Jawa Timur, bergerak bersama mengatasi situasi. Alhasil, dalam waktu yang tidak lama berhasil menahan penyebaran virus PMK mesti telah memakan korban ribuan ternak.

Atas keberhasilan ini, Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian mengganjar penghargaan kepada Pemerintah Jawa timur sebagai daerah yang mencatatkan nihil kasus PMK di wilayahnya. Disamping itu, Pemerintah Pusat juga menurunkan status dari daerah terwabah menjadi daerah yang sudah membaik.

Provinsi Jawa Timur juga menerima penghargaan tertinggi dari Ikatan Dokter Hewan Sapi Indonesia (IDHSI), sebagai Best Local Government Support for Cattle Practitioners.

“Semua ini adalah keberhasilan kita bersama. Terutama karena dukungan dan komitmen yang kuat dari para pemimpin, Ibu Gubernur, Kepala Daerah Kabupaten/Kota, Dinas Peternakan, peternak di Jatim dan stakeholder lainnya, termasuk Koperasi SAE, bersinergi saling bau membau memberantas dan menghentikan penyebaran PMK di Jawa Timur,” tegas Kadis Peternakan Provinsi Jawa Timur, Dr. Ir. Indyah Aryani, MM, di Koperasi Sinahu Andhandani Ekonomi (SAE) Pujon, Kabupaten Malang, Senin (21/8/2023).

Dari Jawa Timur untuk Indonesia, begitu tagline yang digelorakan Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dalam bergerak untuk membangun negeri tercinta, menurut Indyah Ariyani, dengan sendirinya menuntut konsekuensi kerja keras di semua lini. “Termasuk dalam menangani pemberantasan PMK ini,” tegasnya.

Keberhasilan ini juga karena Jawa Timur berhasil menggerakkan Tim Penanggulanan PKM dengan baik, sehingga berhasil mencatatkan rekor vaksin 17.600 ekor perhari dari target Tahun 2023 sebanyak 7,3 juta dosis, lanjut wanita berhijab itu.

Dan itu bukanlah pekerjaan yang mudah karena tim ini cukup besar dan melibatkan semua pihak, baik kepala daerah, dinas teknis terkait yang menangani peternakan, akademisi, Ikatan Sarjana Peternakan, Ikatan Dokter Hewan Sapi Indonesia (IDHSI), sampai TNI dan Polri serta media yang melakukan edukasi kepada peternak dalam mengatasi PMK.

“Saya juga ikut merasakan bagaimana saat itu semua peternak kita menangis karena sulitnya mengatasi wabah PMK. Alhamdulillah sekarang kita sudah berhasil menjadi predikat daerah membaik dari Pejabat Otoritas Veteriner (POV) Nasional, dari status wabah menjadi membaik. Statusnya sudah menurun,” tegasnya.

Dinas Peternakan Jawa Timur mencatat populasi ternak mencapai 10,4 juta dan yang harus divaksin minimal 90 %, namun ditargetkan bisa tuntas 100 % sampai Desember 2023. “Vaksinisasi ini membutuhkan kerja keras karena penyelesaian wabah PMK ini baru bisa bebas vaksin diperkirakan tahun 2023-2035. Belum lagi saat ini muncul penyakit baru, LSD,” katanya.

Menurut Indyah Ariyani, untuk menjaga kesehatan ternak, saat ini Dinas Peternakan Jawa Timur juga tetap waspada dengan program kesehatan yang sudah dilakukan, yakni pengobatan, vaksin dan penambahan vitamin untuk ternak. Disamping itu lalu lintas ternak dalam pergerakan jual beli ternak juga tak luput dari pantauan. “Keluar masuk hewan inilah yang perlu mendapat penjagaan dan di Jatim sudah ada 10 cek poin, antara lain di Bulu, Banyuwangi, Ponorogo, Pandegan, Ngawi dan Mantingan.

“Kerlemahannya ada di lalu lintas lewat tol sehingga sulit untuk mendeteksi. Namun kita sudah melakukan antisipasi bekerjasama dengan polisi dan Dinas Perhubungan. Saat ini aturan dan sanksinya masih digodog,” tandasnya.

Episentrum Daging dan Susu
Dalam menghadapi wabah PMK ini, Jawa Timur harus bekerja keras karena daerah dengan 35 juta lebih penduduk ini, saat ini menjadi pemasok utama daging hewan untuk Kalimantan dan Indonesia Timur.

Begitu juga dengan sapi perah penghasil susu, juga menjadi episentrum nasional. Populasi sapi perah di Jawa Timur saat ini ada 305.000 ekor, sedang sapi potong 4,9 juta.

Menurut Kepala Bidang Peternakan dan Perikanan, Dinas Pertanian dan Pengendalian Pangan Kota Batu, Ir, Sri Nurcahyani Rahayu, kondisi wabah PMK cukup mengagetkan dan membuat panik peternak sapi. Wabah tersebut terdeteksi 5 Mei 2022, dan dalam waktu hanya satu minggu sudah memakan korban sekitar 1.000 ekor sapi mati.

Kepala Bidang Peternakan dan Perikanan, Kota Batu, Ir. Sri Nurcahyani Rahayu

---------------------------

Daerah sapi perah di Kota Batu terdapat di Dusun Brau Gungsungsari, Dusun Toyomarto, Desa Pesanggrahan, Desa Oro-oro Ombo dan Desa Beji. Tim Pengendalian wabah bekerja cepat untuk membatasi penularan dan penyebaran PMK dengan rajin memberikan arahan kepada peternak sebelum dokter datang, yakni melakukan desinfektan kandang, penggunaan masker, sapu tangan hingga melakukan lock down wilayah, untuk 19 desa dan 5 kelurahan yang ada.
“Alhamdulilah sampai 16 September 2022, kami berhasil mengatasi situasi menjadi normal dan mendapatkan penghargaan Zero Reported Case peringkat 6 nasional,” ujar alumnus Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya itu.

Untuk pencegahan penyebaran PMK, sampai saat ini Pemerintah Kota Batu masih menutup Pasar Hewan di Desa Patok Kelurahan Sisir dan melakukan pemeriksaan lalu lintas jual beli ternak dengan memanfaatkan portal-portal bekas PPKM dan melibatkan tenaga dari Satpol PP, TNI dan Polri.

“Selain itu proses penjualan dan pembelian hewan harus ada rekomendasi dan hasil pemeriksaan kesehatan dari Pejabat Otoritas Veteriner (POV) dari masing-masing kandang,” terang wanita murah senyum itu.

Situasi PMK Mencekam
Menurut pengakuan peternak di Pujon Kabupaten Malang, Hariyanto, penyebaran PMK berlangsung cukup mencekam karena penularannya begitu cepat dan korbannya juga banyak.

“Di tempat saya yang sebenarnya jauh dari kandang warga yang lain tetapi begitu satu sapi kami kena, dalam sehari lima pedet (anak sapi) langsung mati. Dampak PMK memang luar biasa sapi juga menjadi sulit bunting,” ujar pria yang juga pengurus Koperasi SAE Pujon itu.

Tanda-tanda ternak sudah terjangkit vitus PMK antara lain, mulut sapi seperti melepuh kena air panas, mulut sapi sepertimengalami sariawan dan ternak tidak mau makan. “Tanda fisik lainnya yakni bulunya njegrik (berdiri),” ujarnya.

Namun setelah mendapat vaksinasi, kondisi ternaknya kini semakin membaik meskipun hasil perasan susunya belum bisa normal. Yang biasanya ketika tidak sakit bisa sehari 15 liter susu, ketika kena PMK bahkan bisa hanya keluar 5 liter saja. “Tapi sekarang sudah membaik dapat 10 liter perhari,” akunya dengan mimik senang.

VAKSINASI – Petugas sedang melakukan vaksin terhadap sapi perah yang ada di Kandang Koperasi SAE Pujon Kabupaten Malang, Senin (28/8/2023).

-------------------------------

Lebih senang lagi karena peternak kini mendapat bantuan tambahan makanan konsentrat dari Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, selain itu dari PT Nestly, pabrik pengolahan susu di Kejayaan Pasuruan, juga memberikan bantuan dan penyuluhan bagaimana menjadi peternak yang berorientasi menjaga kesehatan ternak.

Masih Membutuhkan Sapi Perah
Provinsi Jawa Timur saat ini masih membutuhkan populasi sapi perah untuk memenuhi kebutuhan susu segar, baik oleh Industri Pengolahan Susu (IPS), maupun kebutuhan individu. Menurut catatan di Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, saat ini populasi sapi perah ada 305 ribu ekor, sedangkan sapi potong 4,9 juta.

“Pasca pendemi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), kami hanya menerima susu segar dari peternak di Jawa Timur sebanyak 350 sampai 400 Ton perhari. Sebelumnya Nestle menyerap susu segar petani 750-800 Ton perhari,” ujar Ida Royani, Head of Milk Procurement and Dairy Development Department PT Nestle Indonesia, disela acara vaksinasi sapi perah masal di Koperasi SAE Pujon, Kabupaten Malang, Senin (28/8/2023).

Ibu dua anak itu juga menyebutkan, PT Nestle Indonesia tidak hanya membeli susu dari 18.000 peternak yang ada di 16 kabupaten/kota di Jawa Timur melalui 34 koperasi, namun juga memberikan penyuluhan dan bimbingan kepada peternak agar menghasilkan susu yang berkualitas.

“Kami juga memberikan bimbingan agar peternak bisa beternak dengan sehat dan higienis sehingga menghasilkan susu yang berkualitas. Peternak konvensional kita ajak untuk menjadi lebih modern dan berorientasi kesehatan. Karena harga susu itu juga tergantung pada kualitasnya,” tandasnya.

Ida Royani, S.Pt, Head of Milk Procurement and Dairy Development Department PT Nestle Indonesia.

--------------------------
Kekurangan pasokan susu segar ini juga dilontarkan Ketua Kolompok Tani Mangomulyo, Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Beji, Munir Khan, permintaan susu segar masih banyak yang belum bisa terpenuhi sehingga harus kerjasama dengan peternak luar pulau.

“Kami berharap Pemerintah bisa mencarikan solusi untuk mengatasinya. Saat ini di Dusun Brau ini bisa memproduksi susu segar 5.000 liter, sedang permintaan mencapai 10.000 liter perhari,” ujarnya.

Munir mengharapkan Pemerintah bisa mengupayakan pengadaan sapi perah agar produksi susu segar bisa meningkat, baik untuk produksi keju dan juga mungkin bisa ekspor.

Sementara tentang kekurangan susu segar ini, Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Dr. Ir. Indyah Aryani, M.M, mengatakan, upaya untuk pengadaan sapi perah saat ini sedang diproses. Baik itu melalui cara internal, dalam arti mendatangkan sapi dari daerah lain, juga direncanakan bisa impor.

“Kami juga sedang mengupayakn dana KUR untuk peternak, terutama yang terimbas PMK kemarin, agar mendapatkan bunga 6 % dari Bank Jatim. Disamping tentunya bisa substitusi sapi dari daerah lain,” ujarnya. (joe)

TERPOPULER

  • Minggu Ini

  • Bulan Ini

  • Semua