JATIMPOS.CO/MOJOKERTO – Pengelolaan Pasar Raya Mojosari memasuki babak baru. Pemerintah Kabupaten Mojokerto resmi mulai menerapkan sistem digital dalam pembayaran retribusi pedagang sebagai bagian dari langkah modernisasi pelayanan publik.
Launching digitalisasi pembayaran retribusi tersebut digelar di Pasar Raya Mojosari, Senin (28/9) pagi. Kegiatan dihadiri Bupati Mojokerto Muhammad Albarraa, jajaran perangkat daerah, Wakil Direktur Bank Jatim Arief Wicaksono, pengelola pasar, serta para pedagang.
Bupati Mojokerto DR. H. Muhammad Albarraa LC MHum mengatakan, digitalisasi retribusi bukan sekadar perubahan metode pembayaran. Lebih dari itu, sistem tersebut diharapkan mampu menciptakan pengelolaan pasar yang lebih tertib, transparan, aman, dan akuntabel.
“Dengan sistem ini, proses pembayaran diharapkan menjadi lebih mudah, cepat, aman, dan tertib. Setiap transaksi juga tercatat dengan lebih baik sehingga pengelolaannya dapat dilakukan secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Bupati yang akrab disapa Gus Barra.
Menurutnya, pasar rakyat memiliki posisi penting dalam menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Aktivitas jual beli di pasar menjadi bagian dari kehidupan ekonomi sekaligus menjadi sumber penghidupan bagi ribuan pedagang.
Karena itu, pengelolaan pasar harus terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Digitalisasi pembayaran retribusi dinilai menjadi salah satu langkah untuk membangun tata kelola pasar yang lebih modern.
“Hari ini kita mulai satu perubahan dalam pengelolaan pasar melalui digitalisasi pembayaran retribusi. Langkah ini sejalan dengan elektronifikasi transaksi pemerintah daerah atau ETPD,” jelasnya.
Gus Barra menambahkan, penerapan sistem digital juga memberikan keuntungan dari sisi pengelolaan data. Seluruh transaksi yang tercatat secara elektronik dapat menjadi bahan evaluasi pemerintah untuk mengetahui tingkat kepatuhan pembayaran, potensi pendapatan, hingga menyusun kebijakan yang lebih tepat.
Namun, ia menekankan keberhasilan digitalisasi tidak cukup hanya dengan tersedianya teknologi. Sistem tersebut harus benar-benar memberikan kemudahan bagi pedagang.
“Sistem yang dibangun harus mudah digunakan, dipahami, dan benar-benar membantu para pedagang dalam melakukan pembayaran retribusi. Jangan sampai perubahan sistem justru menambah kesulitan dalam kegiatan sehari-hari,” tegasnya.
Untuk memastikan hal itu, Bupati meminta perangkat daerah terkait dan pengelola pasar memberikan sosialisasi serta pendampingan secara aktif kepada para pedagang.
Menurutnya, setiap kendala yang muncul dalam penerapan awal harus segera ditangani agar proses transisi dari pembayaran konvensional menuju digital dapat berjalan lancar.
“Jika ada kendala di lapangan, segera cari solusi dan jangan dibiarkan berlarut. Kita ingin sistem ini benar-benar memberikan kemudahan bagi para pedagang,” imbuhnya.
Gus Barra juga meminta Bank Jatim memberikan dukungan secara berkelanjutan. Tidak hanya menyediakan sistem pembayaran, tetapi juga memastikan pelayanan tetap responsif apabila pedagang maupun pengelola menghadapi kendala transaksi.
“Sinergi antara pemerintah daerah, Bank Jatim, pengelola pasar, dan para pedagang menjadi kunci agar program ini berjalan dengan baik,” katanya.
Ia berharap penerapan digitalisasi di Pasar Raya Mojosari dapat menjadi tahap awal untuk diterapkan secara bertahap di pasar-pasar lainnya di Kabupaten Mojokerto.
“Kita ingin pengelolaan pasar semakin modern, tertib, transparan, sekaligus mampu memberikan kontribusi yang optimal bagi pendapatan asli daerah,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Direktur Bank Jatim Arief Wicaksono mengatakan, digitalisasi pembayaran retribusi merupakan bagian dari pengembangan ekosistem Pasar Raya Mojosari secara lebih luas.
Menurutnya, transformasi digital di pasar tidak harus berhenti pada pembayaran retribusi. Ke depan, sistem tersebut dapat dikembangkan untuk mendukung berbagai transaksi perdagangan dan aktivitas pengelolaan pasar.
“Harapannya pembayaran retribusi ini dilakukan secara digital menggunakan aplikasi. Bank Jatim juga sudah menyediakan sarana transaksi non-tunai seperti EDC dan QRIS,” jelas Arief. (din)