JATIMPOS.CO/TRENGGALEK – Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mensosialisasikan visi–misi pembangunan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Trenggalek Tahun 2025–2029 di Gedung Serbaguna Desa Sumberbening, Kecamatan Dongko, Selasa (18/11/2025).

Dalam dokumen peraturan daerah, visi RPJMD Kabupaten Trenggalek 2025–2029 dirumuskan sebagai “Terwujudnya Kabupaten Trenggalek yang Adil dan Makmur”.

Dalam penjelasannya, Bupati yang akrab disapa Mas Ipin itu menyebut, pada 2030 pemerintah daerah menargetkan Trenggalek telah benar-benar menjadi daerah yang adil dan makmur. Menurutnya, istilah “adil dan makmur” bukan sekadar jargon.

“Mungkin banyak orang beranggapan adil dan makmur ini terminologi biasa. Menurut saya ini fundamental. Yang harus adil itu pemerintahnya dan yang makmur itu adalah masyarakatnya,” ujar Wakil Ketua APKASI tersebut.

Mas Ipin menjelaskan, fokus utama Pemkab Trenggalek adalah pembangunan berkelanjutan (sustainable city), khususnya pembangunan hijau dan net zero carbon. Pembangunan berkelanjutan dan hijau yang dimaksud adalah pembangunan yang “baik dengan alam”, berjalan selaras tanpa merusak lingkungan.

Ia merujuk pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-11, yakni menjadikan kota dan permukiman manusia inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan. Tujuan ini mengakui peran sentral kota dan daerah dalam pembangunan global.

Bagi Mas Ipin, berkelanjutan berarti “lumintu”: rezeki yang mengalir terus, alam yang baik menjaga kebaikannya secara berkelanjutan. Pemerintah mempersilakan warga mencari penghasilan, namun dengan catatan jangan merusak alam.

“Di tahun 2030 nanti kita berada di puncak komitmen dunia, Indonesia pun sama, membangun negaranya secara berkelanjutan. Jadi adil dan makmur yang saya maksudkan itu sejalan dengan komitmen dunia: menciptakan kota dan komunitas yang berkelanjutan. Yang adil itu kotanya, yang makmur itu masyarakatnya,” lanjutnya.

Mas Ipin menegaskan, pembangunan harus benar-benar terasa sebagai milik masyarakat. Ia tidak menginginkan lagi ada proyek yang muncul tanpa pernah diusulkan warga, apalagi kebijakan yang justru merugikan ruang hidup masyarakat.

“Bupati tidak mau lagi masyarakat tidak merasa mengusulkan namun tiba-tiba ada pembangunan yang mereka tidak usulkan. Saya juga tidak ingin masyarakat tidak menginginkan, tapi tahu-tahu gunungnya mau dikeruk untuk ditambang,” tegasnya.

Terkait rencana tambang emas di Trenggalek, Mas Ipin menjelaskan alasannya menolak. Luas konsesi mencapai sekitar 12.000 hektare dan berdampak pada 9 kecamatan.

“Kalau bicara adil, saya meyakini tidak bisa berlaku adil terhadap sekitar 200 ribu warga yang terdampak langsung dan 300 sampai 400 ribu warga yang terdampak tidak langsung. Tidak mungkin semua warga yang terdampak ini bisa adil mendapatkan pekerjaan dari aktivitas tambang,” ungkapnya.

Baginya, menerima tambang emas bukan satu-satunya bentuk syukur atas potensi alam.

“Wujud syukur itu bisa dengan menjaga, memperbesar apa yang kita punya tanpa dirusak. Saya percaya ke depan yang jadi bupati bukan hanya saya. Kasihan kalau mereka nanti kebagian rusaknya, kebagian kesulitan mencari air bersih karena alamnya rusak,” jelasnya.

Ia menegaskan, setiap kebijakan harus diuji dengan prinsip keadilan dan kemakmuran.

“Cita-citanya adil dan makmur. Maka bila ada kebijakan, itu harus dijawab: bisa adil atau tidak. Kalau tidak bisa adil, jangan dijalani. Bisa adil tapi tidak bisa makmur, kita cari caranya bagaimana bisa membawa kemakmuran,” tandas Mas Ipin.

Ia mengakui, Trenggalek kerap dipandang sebagai daerah miskin. Namun justru karena itu, kekayaan alam yang indah harus dirawat, bukan dieksploitasi.

“Kalau kita dipandang miskin, ya sudah. Tapi kita punya warisan alam yang indah, maka perlu kita rawat alam ini supaya memberi penghasilan kepada kita. Jangan malah kita eksploitasi hingga rusak dan akhirnya kita sendiri tidak nyaman tinggal di tempat kita,” katanya.

Mas Ipin menjelaskan, salah satu pondasi menuju visi tersebut adalah membangun kesadaran ekologis masyarakat.

“Makanya kita punya program Adipura Desa. Itu sebenarnya mengharapkan seluruh masyarakat desa punya kepedulian lebih terhadap lingkungan,” ujarnya.

Ia optimistis, suatu saat Trenggalek akan menjadi tujuan kunjungan karena alamnya terjaga.

“Nanti akan ada masanya Trenggalek ini jadi tujuan kunjungan karena alamnya terjaga. Di kota orang sudah bosan dengan kemacetan, udaranya tidak segar, alamnya tercemar,” imbuhnya.

Karena itu, ia mengajak masyarakat dan pamong desa bersama-sama menguatkan kesadaran lingkungan.

“Ramainya Trenggalek nanti karena orang melihat kota tanpa sampah, alamnya terjaga meskipun itu di Jawa,” tegasnya.

Di hadapan warga Sumberbening, Mas Ipin memaparkan bahwa semua upaya pembangunan berkelanjutan ini bukan hanya untuk generasi saat ini, tetapi juga untuk anak cucu di masa mendatang.

“Dengan hidup berdampingan dengan alam, menjaga alam, maka alam akan menjaga keberlangsungan kita ke depan,” pungkasnya. (Ard)