JATIMPOS.CO/KOTA MADIUN - Pagi baru saja membuka lembarannya ketika puluhan pesepeda mulai bergerak perlahan dari pusat Kota Madiun, Jum'at (5/12/2025). Udara terasa lebih sejuk dari biasanya. Sinarnya menimpa ruas-ruas jalan yang masih lengang. Di barisan paling depan, Wali Kota Madiun Dr. Maidi tampak mengayuh dengan ritme mantap, seolah membawa semangat baru di peringatan HUT KORPRI ke-54.

Namun perjalanan pagi itu bukan semata agenda seremonial. Ada pesan simbolik yang ingin diwujudkan: bahwa penghormatan kepada para penjaga kebersihan kota layak ditunjukkan tidak hanya lewat kata-kata, tetapi lewat kehadiran dan perhatian yang tulus.

Rombongan pertama berhenti di Taman Lalu Lintas Bantaran Kali Madiun. Cahaya matahari yang menembus celah pepohonan menciptakan kilau keemasan di permukaan taman. Anak-anak biasanya belajar tertib lalu lintas di sini, tetapi pagi itu para pejabat daerah yang justru berkumpul menerima arahan.

“Kami cek fasilitas umum. Ini Taman Lalu Lintas Bantaran Kali Madiun menjadi objek keramaian kegiatan masyarakat,” ujar Dr. Maidi, sambil memandang jalur edukasi yang terbentang tak jauh dari tepian sungai.

Ia tidak sekadar menunjuk fasilitas mana yang perlu dibenahi. Ia ingin ruang publik menjadi wajah keramahan kota, ruang yang bersih, aman, dan menyenangkan. Dan semua itu, di baliknya, berdiri para penjaga kebersihan yang mungkin tidak pernah tersorot kamera.

Wali Kota Madiun, Dr Maidi membagikan sembako kepada petugas kebersihan di TPA Winongo Kota Madiun.

Selepas peninjauan, rombongan kembali mengayuh hingga memasuki area TPA Winongo. Tempat yang bagi sebagian besar orang identik dengan bau tidak sedap dan tumpukan sampah, mendadak menjadi arena temu hangat. Puluhan relawan kebersihan berkumpul sambil menanti kedatangan wali kota.

Tidak ada kerut jijik di wajah mereka. Justru yang terlihat adalah ekspresi bangga dan lega, seolah hari itu panggilan mereka sebagai penjaga kebersihan benar-benar dihargai.

Ketika Dr. Maidi menyerahkan paket sembako, ia menyampaikan pesan sederhana namun kuat: “Di hari peringatan saya minta semua KORPRI ikut memberikan perhatian dan membantu relawan kebersihan. Relawan-relawan ini sangat saya hargai dan hormati.”

Bagi banyak orang, sarapan bersama di TPA mungkin terdengar aneh. Tetapi justru itulah inti pesannya. Bahwa perubahan besar bisa dimulai dari keberanian mengubah cara pandang.

Sarapan itu bukan seremoni. Ia adalah perayaan atas keberhasilan panjang yang jarang diberitakan.

TPA Winongo kini berbeda. Tanah yang dulu membukit penuh sampah kini telah direkonstruksi menjadi struktur pasif yang tertutup rapi. Tak ada bau menyengat yang biasanya menyergap begitu orang memasuki kawasan TPA.

“Orang beranggapan TPA itu kotor dan bau. Di TPA Winongo tidak seperti itu,” kata Maidi dengan nada bangga.

Perubahan itu bukan kerja sehari. Ia lahir dari serangkaian rehabilitasi, rekonturing tanah, serta metode pengolahan sampah terukur yang direkomendasikan tim ahli Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Sampah yang datang tidak dibiarkan menumpuk terlalu lama. Lindi dialirkan ke kolam penampungan dan disaring. Gunungan sampah pasif ditutup tanah lalu ditanami.

“Ini teori dan penelitian saya selama berbulan-bulan di sini,” ujarnya, sambil menunjukkan bahwa TPA Winongo bukan hanya lokasi kerja, tetapi juga laboratorium lapangan yang ia teliti langsung.

Hasilnya? TPA yang tadinya ingin dihindari kini bahkan mulai dipertimbangkan sebagai ruang publik alternatif.

Jika dulu orang menutup hidung saat mendengar kata “TPA”, kini Pemkot Madiun membuka gerbang untuk kemungkinan yang lebih segar: menggelar acara di sana. Bahkan hajatan pernikahan.

Bukan lelucon. Gedungnya sudah disiapkan. Uji coba makan di TPA juga sudah dilakukan. Dan, benar saja, tidak ada bau.

“Ke depan TPA ini jadi tempat wisata, acara pernikahan atau pesta. Sudah kita uji coba. Makan tidak bau. Maka semua relawan kebersihan saya ajak sarapan bersama di sini,” kata Maidi.

Perubahan ini bukan hanya tentang TPA yang menjadi bersih. Ini soal mengembalikan kepercayaan publik, bahwa ruang yang dianggap “tempat sampah” pun bisa menjadi lokasi yang menyenangkan, asal dikelola dengan ilmu dan ketekunan.

Di sepanjang kegiatan, satu pesan konsisten diucapkan wali kota: bahwa kerja relawan kebersihan tidak boleh dipandang sebelah mata.

“Kota Madiun tanpa relawan, sehebat apa pun, jika sampah tidak dikendalikan pasti merepotkan,” ujarnya.

Mereka adalah orang pertama yang datang saat kota masih terlelap dan orang terakhir yang pulang setelah memastikan setiap sudut bersih. Dan pada pagi yang sederhana itu, di tengah sarapan yang hangat, penghargaan itu benar-benar terasa.

Gowes pagi, peninjauan fasum, hingga sarapan di TPA Winongo bukan sekadar rangkaian perayaan. Ia adalah narasi tentang kota yang ingin berubah, dan tentang pemimpin yang memilih cara berbeda untuk mengapresiasi warganya: bukan dengan panggung megah, tetapi dengan duduk bersama di ruang yang selama ini dianggap kumuh.

Dan pada akhirnya, sebuah pesan muncul dari balik cerita ini: Bahwa kota yang bersih bukan hanya soal teknologi atau kebijakan. Ia adalah tentang manusia. Tentang mereka yang setiap hari bekerja tanpa nama, tetapi memberi wajah lebih indah bagi kota. (Adv/jum).