JATIMPOS.CO/TRENGGALEK — Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin meluncurkan program “Sangu Sampah” dalam kegiatan sosialisasi Peraturan Daerah tentang RPJMD Kabupaten Trenggalek 2025–2029 di Balai Desa Malasan, Kecamatan Durenan, Kamis (18/12/2025).

Program tersebut menyasar siswa di seluruh jenjang pendidikan dengan mengajak mereka menabung sampah terpilah yang dalam kurun waktu sekitar tiga bulan dapat dikonversi menjadi uang saku. Program ini diharapkan dapat mengurangi beban orang tua sekaligus menumbuhkan kebiasaan memilah sampah di lingkungan keluarga.

Bupati yang akrab disapa Mas Ipin itu mengatakan, “Sangu Sampah” tidak hanya berorientasi pada nilai ekonomi, tetapi juga pembentukan karakter peduli lingkungan sejak usia sekolah.

“Memilah sampah bukan pekerjaan hina. Sampah akan bernilai jika dipilah, dan dari situ bisa menjadi sumber ekonomi,” ujar Mas Ipin.

Ia menjelaskan program ini juga menjadi bagian dari upaya Kabupaten Trenggalek menuju target Net Zero Carbon 2045. Berdasarkan pemetaan emisi, sektor sampah menyumbang sekitar 16 persen dari total emisi daerah, sehingga pengelolaan sampah dinilai sebagai langkah paling realistis dan berada dalam kendali pemerintah daerah.

“Pilihan paling mudah dan terjangkau adalah mengelola sampah. Bukan dengan teknologi mahal, tetapi menjadikan sampah sebagai bagian dari ekonomi,” katanya.

Mas Ipin menambahkan, program “Sangu Sampah” dirancang dengan tiga pendekatan utama, yakni pembentukan karakter cinta lingkungan, peningkatan literasi digital melalui aplikasi, serta inklusi keuangan dengan pengembalian nilai sampah dalam bentuk uang saku bagi siswa.

Program ini akan diterapkan di seluruh jenjang pendidikan dengan skema pengguna aplikasi yang disesuaikan. Untuk siswa SMA dan perguruan tinggi, setiap peserta menggunakan satu akun dan satu rekening. Sementara untuk siswa SD dan santri pondok pesantren, pengelolaan akun dapat dilakukan oleh wali murid, guru, atau pengurus pesantren.

Jenis sampah yang dapat dikumpulkan mencakup delapan kategori, antara lain plastik kemasan, plastik sachet, kaca, kain, logam, barang elektronik, serta minyak jelantah. Sampah yang terkumpul di sekolah akan disalurkan melalui jaringan TPS 3R, bank sampah, dan mitra pengelola untuk diproses lebih lanjut.

Ke depan, Pemkab Trenggalek juga berencana memperluas program ini ke masyarakat umum, khususnya pengelolaan sampah organik rumah tangga yang akan diolah menjadi pupuk dan media tanam guna mendukung ketahanan pangan keluarga.

“Jika program ini berhasil di lingkungan sekolah, selanjutnya akan kita dorong ke masyarakat secara luas,” pungkas Mas Ipin. (Ard)