JATIMPOS.CO/KOTA MADIUN — Pemerintah Kota Madiun terus memperkuat komitmennya dalam pelestarian budaya lokal melalui pagelaran wayang kulit yang digelar di Panggung Aspirasi depan DPRD Kota Madiun, Minggu (28/6/2026) malam. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Jadi ke-108 Kota Madiun.

Acara itu dihadiri jajaran Forkopimda, kepala perangkat daerah, camat, lurah, serta masyarakat umum, termasuk penyandang disabilitas. Pagelaran juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Pemerintah Kota Madiun.

Selain menjadi hiburan rakyat, kegiatan tersebut juga menjadi ruang ekspresi seni bagi generasi muda. Sebanyak 18 dalang cilik dan kelompok karawitan tingkat SD hingga SMP se-Kota Madiun tampil dalam event budaya yang dibina oleh Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Madiun.

Malam puncak pagelaran menghadirkan empat dalang muda berprestasi asal Kota Madiun, yakni Danang Danardono, Muhammad Satria Putra Widono Vanda, Nabil Ekri Rasfadila Erlambang, dan Aditya Krisna, S.Sn., dengan membawakan lakon Gatotkaca Prawirayuda. Acara juga dimeriahkan penampilan bintang tamu Cak Pentul dan Cak Senton.

Kelompok karawitan tingkat SD hingga SMP se-Kota Madiun tampil dalam event budaya pagelaran wayang kulit yang digelar di Panggung Aspirasi depan DPRD Kota Madiun, Minggu (28/6/2026) malam.

Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Madiun, F Bagus Panuntun, menegaskan bahwa pemerintah kota akan terus mendukung kegiatan seni budaya sebagai bagian dari pembangunan kota wisata berbasis budaya.

“Pemerintah Kota Madiun saat ini serius mengembangkan kegiatan-kegiatan lokal, salah satunya seni budaya. Tahun 2027 nanti di setiap kelurahan akan banyak kegiatan budaya karena anggarannya sudah kami siapkan,” ujar Bagus Panuntun.

Ia menyebut Panggung Aspirasi nantinya akan disiapkan lebih optimal sebagai ruang pertunjukan budaya, khususnya untuk wilayah Kecamatan Taman, sekaligus bisa dimanfaatkan kecamatan lain.

Menurutnya, keberadaan seni budaya memiliki peran penting dalam menopang sektor ekonomi kreatif dan pariwisata, terutama di tingkat kelurahan.

Bagus Panuntun juga mengapresiasi keterlibatan anak-anak dalam pelestarian budaya tradisional, terutama seni pedalangan dan karawitan.

“Anak-anak seperti ini sekarang semakin jarang. Karena itu kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang terus menjaga budaya Madiun,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Bagus Panuntun juga mengingatkan para pedagang kaki lima (PKL) untuk menjaga kebersihan area acara. Ia meminta seluruh pihak ikut bertanggung jawab terhadap kebersihan setelah kegiatan selesai.

Sebagai simbol dimulainya pagelaran, Plt Wali Kota bersama jajaran Forkopimda menyerahkan gunungan kepada empat dalang muda yang tampil malam itu.

Pagelaran wayang kulit tersebut menjadi salah satu upaya Pemkot Madiun dalam menjaga keberlangsungan budaya adiluhung bangsa sekaligus memperkuat semangat kebersamaan menuju Kota Madiun yang “guyup rukun, toto tentrem raharjo”, sejalan dengan tema pembangunan kota yang terus berkarya, berbudaya, dan mendunia di usia ke-108 tahun. (Adv/jum).