JATIMPOS.CO/KOTA MADIUN – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pemuda Kelas IIA Madiun meresmikan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) bidang peternakan ayam petelur, Rabu (12/8/2026). Sarana tersebut menjadi bagian dari program pembinaan untuk membekali warga binaan dengan keterampilan sekaligus mendukung kemandirian pangan.

Peresmian SAE dilakukan setelah kegiatan doa dan istighosah bersama untuk negeri dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan tersebut diikuti warga binaan bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Madiun, mitra kerja, serta Korwil Madiun Raya.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kanwil Ditjenpas) Jawa Timur, Kusnali, mengatakan SAE Lapas Pemuda Madiun tidak hanya dikembangkan untuk peternakan ayam petelur, tetapi juga perikanan, pertanian dan peternakan kambing.

“Peternakan ayam petelur sekitar 1.000 ekor. Kita sudah panen perdana, meskipun telurnya masih kecil-kecil karena baru mulai bertelur,” ujar Kusnali.

Menurut dia, dari sekitar 1.000 ayam tersebut, tingkat produksi nantinya ditargetkan mencapai 900 hingga 950 ekor ayam yang aktif bertelur. Saat ini, produksi masih berada pada tahap awal karena baru sekitar 5 persen ayam yang mulai bertelur.

Selain ayam petelur, SAE Lapas Pemuda Madiun memiliki 15 kolam bioflok dengan kapasitas masing-masing sekitar 1.000 ekor ikan lele. Di lokasi yang sama juga terdapat sekitar 30 ekor kambing.

Kusnali mengatakan hasil peternakan dan perikanan tersebut memiliki pasar yang jelas karena dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan warga binaan.

“Untuk kebutuhan telur saja, di Jawa Timur dalam satu bulan kita membutuhkan sekitar 23 ton. Sementara lapas dan rutan baru mampu sekitar 9 ton per bulan. Artinya masih banyak kekurangan,” katanya.

Doa dan istighosah bersama untuk negeri dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Lapas Pemuda Kelas IIA Madiun, Rabu (12/8/2026).

Karena itu, Kusnali mendorong seluruh unit pelaksana teknis (UPT) pemasyarakatan yang memiliki lahan agar mengoptimalkannya untuk mendukung program kemandirian pangan. Pengembangannya disesuaikan dengan kondisi dan potensi masing-masing daerah, baik pertanian, peternakan maupun perikanan.

“Ini sekaligus bagian dari implementasi 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan serta delapan program prioritas Presiden,” ujarnya.

Program SAE tersebut juga melibatkan warga binaan sebagai tenaga pengelola. Selain memperoleh keterampilan kerja, warga binaan yang terlibat juga mendapatkan premi.

Kusnali menjelaskan, sebagian premi tersebut diberikan kepada warga binaan untuk kebutuhan mereka, sedangkan sebagian lainnya diwajibkan ditabung sebagai bekal ketika mereka bebas.

“Kalau dalam satu bulan mendapatkan Rp 500.000, Rp 250.000 diberikan kepada mereka dan Rp 250.000 wajib ditabung. Nanti diberikan ketika yang bersangkutan bebas,” katanya.

Ia berharap program tersebut memberikan bekal ganda bagi warga binaan, yakni keterampilan dan modal awal sehingga mereka memiliki peluang untuk membuka usaha setelah kembali ke masyarakat.

Sementara itu, rangkaian kegiatan diawali dengan istighosah dan doa bersama untuk keselamatan serta kemajuan bangsa. Kepala Lapas Pemuda Kelas IIA Madiun, Rudi Kristiawan, mengatakan kegiatan tersebut diikuti seluruh warga binaan sebagai bagian dari peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Setelah doa bersama, kegiatan dilanjutkan dengan makan siang bersama warga binaan. Momen tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kebersamaan antara jajaran pemasyarakatan, tamu undangan, dan warga binaan. (jum).