JATIMPOS.CO/KOTA MADIUN - Pagi di Kota Madiun, Selasa (25/8/2026), terasa berbeda. Dari kawasan Masjid Kuno Taman, suasana Grebeg Maulud Nabi Muhammad SAW kembali hidup setelah sekitar satu dekade terhenti. Kirab Gunungan Jaler Estri perlahan bergerak menuju pusat kota, membawa kembali tradisi yang selama bertahun-tahun hanya tinggal dalam ingatan masyarakat.
Kirab tersebut menjadi bagian dari rangkaian Peringatan Grebeg Maulud Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah/2026 Masehi. Prosesi dimulai dari Masjid Kuno Taman, Kecamatan Taman, kemudian menyusuri sejumlah ruas jalan hingga berakhir di kawasan tengah Alun-Alun Kota Madiun.
Rute kirab melewati Jalan Kemiri, Jalan Wuni, Jalan Kenari, Jalan Panglima Sudirman, Jalan Dr. Soetomo, Jalan Jawa, hingga Jalan Pahlawan. Rombongan kemudian transit di Balai Kota Madiun sebelum melanjutkan perjalanan melalui Jalan Semeru dan Jalan Alun-Alun Barat menuju Alun-Alun Kota Madiun.
Bagi masyarakat yang menyaksikan, kembalinya Kirab Gunungan Jaler Estri bukan sekadar parade budaya. Tradisi tersebut menjadi penanda bahwa sebuah warisan budaya yang sempat vakum kembali diberi ruang untuk hadir di tengah kehidupan masyarakat Kota Madiun.
Di tengah rangkaian kegiatan itu, nuansa keagamaan dan budaya berjalan beriringan. Gamelan Sekaten dikumandangkan untuk menyemarakkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Denting gamelan berpadu dengan rangkaian tradisi Grebeg Maulud yang telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.
Selain kirab, masyarakat juga dapat menikmati sejumlah rangkaian kegiatan dan hiburan, seperti Gembrung, Bedug Rampak, Gamelan Sekaten, pembagian Buceng Pelindung, Udhik-Udhik, paket sembako, serta Gunungan Jaler Estri yang diperuntukkan bagi masyarakat.
Plt Wali Kota Madiun F Bagus Panuntun mengatakan, pelaksanaan Grebeg Maulud tahun ini diharapkan tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan bagi masyarakat. Menurut dia, peringatan Maulid Nabi menjadi momentum untuk meningkatkan keteladanan terhadap Rasulullah SAW sekaligus menghadirkan kegiatan budaya yang dapat dinikmati seluruh elemen masyarakat.
“Pemerintah Kota berharap kegiatan Grebeg Maulud Nabi tahun ini menjadi momentum untuk meningkatkan keteladanan kita terhadap Rasulullah SAW, serta menjadi tuntunan dan tontonan yang menarik,” ujar Bagus Panuntun dalam sambutannya.
Bagus juga melihat Grebeg Maulud sebagai kesempatan untuk memperkuat hubungan antara kebudayaan lokal dan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah Kota Madiun, kata dia, ingin menjadikan tradisi tersebut sebagai salah satu ikon pariwisata dan budaya daerah.
Harapan itu tidak lepas dari upaya menjaga tradisi agar tidak terputus di tengah perubahan zaman. Menurut Bagus, berkembangnya budaya lokal sebagai hasil akulturasi menjadi bagian penting dalam memperkuat jati diri masyarakat sekaligus mendukung perkembangan budaya nasional.
“Dengan berkembangnya budaya lokal ini, kita harapkan dapat membangun jati diri masyarakat kita sehingga budaya tradisi dapat berkembang dan lestari, guna mencetak generasi muda masa kini untuk bangkit mencintai budayanya sendiri,” katanya.
Kembalinya Grebeg Maulud tahun ini juga memiliki cerita tersendiri. Bagus menyebut kegiatan tersebut telah vakum kurang lebih 10 tahun. Karena itu, penyelenggaraan kembali tradisi ini tidak terlepas dari dorongan para tokoh agama yang mengingatkan pemerintah agar Grebeg Maulud kembali digelar.
“Alhamdulillah tahun ini Grebeg Maulud tahun 2026 bisa kita selenggarakan,” ujar Bagus Panuntun.
Ia menyadari pelaksanaan kembali setelah jeda panjang tentu membutuhkan evaluasi. Karena itu, Pemerintah Kota Madiun berencana melakukan koordinasi dan pembenahan agar pelaksanaan Grebeg Maulud pada tahun-tahun berikutnya dapat semakin baik.
Bagus berharap Grebeg Maulud nantinya bukan hanya menjadi agenda tahunan, tetapi berkembang menjadi salah satu ikon budaya Kota Madiun yang mampu menarik wisatawan. Dengan begitu, pelestarian tradisi dapat berjalan beriringan dengan pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat.
Setelah sambutan dan pembukaan dilakukan dengan bacaan Bismillahirrahmanirrahim, Gamelan Sekaten pun mulai dikumandangkan sembari menunggu kedatangan Kirab Gunungan Jaler Estri dari Masjid Kuno Taman.
Suara gamelan menjadi penanda dimulainya kembali sebuah tradisi yang sempat sunyi selama bertahun-tahun. Dari Masjid Kuno Taman menuju Alun-Alun Kota Madiun, kirab itu bukan hanya membawa gunungan, tetapi juga membawa harapan agar Grebeg Maulud kembali tumbuh sebagai tradisi yang dikenal, dirawat, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Setelah 10 tahun vakum, Grebeg Maulud akhirnya kembali menjadi bagian dari denyut budaya Kota Madiun. Bagi masyarakat, kembalinya Kirab Gunungan Jaler Estri menjadi kesempatan untuk menyaksikan kembali tradisi lama sekaligus menjaga agar warisan budaya tidak berhenti sebagai cerita dari masa lalu.(jum).