JATIMPOS.CO/SUMENEP - Keberhasilan mengembangkan usaha bisa datang dari kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat. Hal inilah yang dibuktikan oleh Anas Transfer, salah satu Agen BRILink asal Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, yang kini memiliki delapan outlet aktif di berbagai desa.
Didirikan oleh Hoirunnas Nuriyadi pada tahun 2017, bisnis yang berawal dari satu gerai sederhana di Desa Paberasan, Kecamatan Kota Sumenep, ini kini telah tumbuh menjadi jaringan layanan transaksi keuangan yang tersebar hingga ke Gapura, Baban, Parsanga, Pamolokan, Marengan, Kalianget Barat, dan Batuan.
“Waktu itu di Paberasan belum ada layanan transfer uang, padahal masyarakat sangat membutuhkan kemudahan transaksi tanpa harus ke kota. Dari situ saya terpikir membuka jasa transfer dengan menggandeng BRILink,” tutur Hoirunnas, yang akrab disapa Anas, Rabu (29/10/2025).
Melalui bisnis ini, Anas tidak hanya memudahkan masyarakat dalam melakukan transaksi keuangan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru bagi warga di sekitar outlet miliknya. Setiap cabang kini mempekerjakan tenaga lokal yang melayani transaksi harian seperti transfer antarbank, pembayaran digital, hingga pembelian produk daring.
Menurut Anas, keberhasilan ekspansi bisnisnya menjadi bukti bahwa layanan keuangan mikro yang dekat dengan masyarakat masih memiliki potensi besar, terutama di wilayah kepulauan seperti Sumenep.
“Motivasi utama saya bukan hanya mencari keuntungan, tapi bagaimana usaha ini bisa memberi manfaat. Walaupun gaji karyawan masih kami sesuaikan dengan kemampuan, saya ingin terus membuka peluang kerja dan memperbaiki sistem agar lebih baik,” ujarnya.
Setiap bulan, Anas menerima laporan omzet dan jumlah transaksi dari masing-masing outlet. Data tersebut menunjukkan peningkatan aktivitas ekonomi warga, seiring semakin terbiasanya masyarakat memanfaatkan layanan keuangan digital.
Meski demikian, perjalanan usaha ini bukan tanpa kendala. Ia mengakui bahwa bisnis transfer memiliki risiko tinggi, mulai dari potensi penipuan, kesalahan nominal, hingga masalah kejujuran karyawan.
“Tantangan terbesar adalah menjaga kepercayaan. Bisnis ini mudah ditiru, jadi integritas menjadi modal utama. Kami menerapkan sistem pengawasan dan pelatihan untuk meminimalisir risiko,” jelasnya.
Kerja sama dengan BRILink, lanjut Anas, menjadi kunci utama kepercayaan pelanggan. Melalui jaringan tersebut, masyarakat dapat melakukan berbagai transaksi tanpa harus mengantre di ATM atau kantor bank.
“BRILink memberi kemudahan nyata. Pelaku usaha kecil, pedagang pasar, dan warga desa bisa bertransaksi dengan cepat di agen terdekat. Ini benar-benar membantu perekonomian masyarakat,” ujarnya.
Selain memperluas akses layanan, BRILink juga berperan dalam mendorong inklusi keuangan di pedesaan. Bagi masyarakat yang belum terbiasa menggunakan layanan digital atau merasa khawatir salah bertransaksi di mesin ATM, keberadaan teller lokal memberikan solusi yang lebih aman dan ramah.
Meski tumbuh secara mandiri, Anas berharap adanya dukungan lebih besar dari pihak perbankan maupun pemerintah daerah. Ia menilai, regulasi yang berpihak pada pelaku usaha kecil dan peningkatan fasilitas perbankan akan mempercepat pemerataan layanan keuangan.
“Kami berharap ada dukungan lebih kuat dari bank maupun pemerintah, terutama soal kemudahan operasional dan ketersediaan mesin EDC yang selalu siap digunakan,” kata Anas.
Menurutnya, mesin EDC yang andal merupakan tulang punggung transaksi harian. Ia juga mendorong adanya pelatihan dan pendampingan rutin bagi para agen kecil agar lebih profesional dalam melayani masyarakat dan mengelola keuangan.
Anas berharap usahanya dapat menjadi bagian dari gerakan bersama membangun kemandirian ekonomi desa. Ia meyakini, ketika pelaku usaha kecil diberi ruang dan dukungan yang cukup, maka dampaknya akan langsung terasa pada pengurangan pengangguran serta meningkatnya perputaran ekonomi lokal.
“Semua ini untuk kebermanfaatan bersama. Kami ingin tumbuh, tapi juga ingin masyarakat sekitar ikut tumbuh. Itulah semangat kami di Anas Transfer,” pungkasnya. (Dam).