JATIMPOS.CO//SURABAYA – Surabaya ISOPLUS Marathon 2026 yang digelar di Balai Kota Surabaya, Minggu (4/10/2026), tidak berjalan sepenuhnya sesuai rencana. Lomba lari yang mengusung tema “Unlock Your Greatness” tersebut terpaksa dihentikan setelah kondisi suhu dan Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) menunjukkan angka ekstrem yang dinilai membahayakan keselamatan pelari dan petugas.
Race Director ISOPLUS Marathon 2026, Safrita Aryana, mengungkapkan kondisi cuaca mulai menjadi perhatian serius sejak pagi. Berdasarkan alat ukur WBGT yang dipasang di sekitar tenda medik dan weather fire, suhu yang semula berada pada kisaran 33 hingga 36 derajat Celsius meningkat tajam.
“Pada pukul 08.25, kami mempunyai alat ukur yang dinamakan WBGT yang kami pasang di sekitar tenda medik. Global Temperature menunjukkan suhu mulai pukul 08.00 sudah naik antara 33 hingga 36 derajat Celsius,” kata Safrita.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi pertimbangan serius karena regulasi World Athletics menetapkan batas tertentu untuk pelaksanaan lomba lari. Meski terdapat toleransi untuk kondisi iklim tropis, suhu kemudian melonjak hingga 42–44 derajat Celsius dan bahkan sempat mencapai 48 derajat Celsius.
“Sehingga saya berkoordinasi dengan running doctor, Taufan Rizki Sudjarwadi, dan medical coordinator kami, Dokter Lita. Kami mempertimbangkan untuk menghentikan lomba. Dari alasan medis, kami putuskan lomba dihentikan,” ujarnya.
Keputusan tersebut, lanjut Safrita, diambil setelah berkoordinasi dengan pihak terkait demi keselamatan seluruh peserta. Panitia kemudian melakukan evakuasi terhadap pelari. Namun, water station tetap dibuka bagi peserta yang masih berada di jalur dan memilih menyelesaikan perjalanan dengan berjalan kaki.
Safrita menegaskan peserta yang tetap mencapai garis finis tetap dihormati sebagai finisher karena penghentian lomba bukan disebabkan kesalahan pelari, melainkan kondisi cuaca ekstrem. Panitia juga memasang bendera hitam sebagai penanda status ekstrem dan keputusan penghentian lomba.
Meski akhirnya dihentikan, ISOPLUS Marathon 2026 memberikan dampak ekonomi cukup besar bagi Kota Surabaya. Head of Ready to Drink WINGS Group Indonesia, Joshua Gunawan, menyebut peserta mencapai sekitar 11.000 orang. Sekitar 39 persen peserta berasal dari luar Surabaya.
“Jadi rupanya banyak yang tertarik. Walaupun dekat-dekat, dari Sidoarjo, Jogja, Malang, banyak yang bukan Surabaya ikut juga,” kata Joshua.
Penelitian Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR) menunjukkan kegiatan tersebut menghasilkan perputaran aktivitas ekonomi sebesar Rp74,78 miliar selama tiga hari.
Lektor Kepala Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat FEB UNAIR, Atik Purmiyati, mengatakan dampak tersebut berasal dari berbagai sektor, antara lain perdagangan, jasa, pariwisata, dan UMKM.
“Dari hasil olahan, kegiatan Surabaya ISOPLUS Marathon berdampak pada beberapa sektor ekonomi, misalnya sektor perdagangan, jasa-jasa, pariwisata, termasuk UMKM,” jelas Atik.
Ia menyebut estimasi kontribusi ekonomi yang diperoleh mencapai Rp41,42 miliar. Pengeluaran peserta dan pengunjung antara lain mencakup penginapan, makanan, belanja, oleh-oleh, hingga transportasi. Rata-rata pengeluaran hotel tercatat sekitar Rp772 ribu per hari.
Kepala Disbudporapar Kota Surabaya, Herry Purwadi, menilai event olahraga seperti ISOPLUS Marathon dapat menjadi penggerak ekonomi sekaligus promosi wisata kota.
“Siapa pun yang menyelenggarakan event di Kota Surabaya wajib hukumnya melibatkan UMKM. ISOPLUS memberikan tempat untuk UMKM yang ada di Kota Surabaya,” katanya.
Menurut Herry, event tersebut juga memperkenalkan berbagai destinasi dan ikon Surabaya kepada peserta dari luar daerah. Pemkot Surabaya berharap ISOPLUS Marathon dapat menjadi agenda tahunan sekaligus memperkuat konsep sport tourism.
Namun, di balik besarnya dampak ekonomi tersebut, penyelenggara menempatkan keselamatan sebagai prioritas. Penghentian lomba menjadi bukti bahwa capaian jumlah peserta dan manfaat ekonomi tidak boleh mengesampingkan faktor cuaca dan keselamatan manusia. (fred)