JATIMPOS.CO/SURABAYA- Saat ini, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya kembali menunjukkan kepeduliannya dalam mendukung pendidikan inklusif dengan mengembangkan inovasi aplikasi Bacakanbuku sebagai upaya hadirkan teknologi pembelajaran literasi untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang diujicobakan di SLB Negeri Gedangan Sidoarjo.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat skema pemberdayaan kemitraan masyarakat. Program ini merupakan didanai oleh Kemdiktisaintek melalui Hibah Pengabdian Kepada Masyarakat Kompetitif Nasional dengan skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, 2025. Tujuan inovasi aplikasi ini adalah untuk meningkatkan keterampilan literasi siswa berkebutuhan khusus melalui media pembelajaran asistif dan adaptif.
Pemilihan SLB Negeri Gedangan karena merupakan sekolah rujukan di Jawa Timur, tetapi masih menghadapi tantangan dalam hal fasilitas dan kemampuan lulusan ke fase berikutnya maupun pendidikan tinggi. Seperti harapan Dr. Kartika Nuswantara, M.Pd. selaku ketua tim pengabdi ITS bahwa melalui aplikasi Bacakanbuku, kami ingin menjembatani kesenjangan tersebut dengan teknologi yang ramah anak berkebutuhan khusus.
Aplikasi Bacakanbuku dirancang khusus untuk mendukung pembelajaran individualized learning. Fitur-fiturnya meliputi bacaan interaktif, menyimak cerita yang dibacakan nyaring, pengayaan kosa kata, dan latihan mengasosiasikan ide cerita dan ilustrasi cerita. Aplikasi di desain untuk memberikan umpan balik langsung kepada siswa sehingga memungkinkan mereka membentuk kemandirian dalam membaca tanpa harus lagi didampingi guru atau orang tua mereka.
Dalam pelaksanaan uji coba, tim pengabdi ITS melakukan sosialisasi aplikasi tersebut kepada staf pengajar di lingkungan Sekolah Luar Biasa Negeri Gedangan, selain itu juga sosialisasi kepada ibu-ibu orang tua atau wali anak-anak SLB Negeri Gedangan sehingga anak-anak mendapatkan dorongan positif dari orang tua untuk tetap membaca saat di rumah.
Selama tiga pekan, mahasiswa ITS melakukan pendampingan intensif kepada siswa-siswi untuk memanfaatkan aplikasi ini supaya mereka dapat memanfaatkan secara optimal untuk kebutuhan meningkatkan keterampilan mereka dalam memahai bacaan.
Seperti disampaikan oleh salah satu guru SLB Negeri Gedangan, Suryawijayati, S.Pd, yang akrab dipanggil Ibu Wiwit, menyampaikan antusiasnya terhadap inovasi ini bahwa aplikasi Bacakanbuku sangat membantu dalam menyampaikan materi literasi lebih menarik dan sesuai dengan kebutuhan anak-anak. Sehingga mereka lebih semangat belajar dan bisa memahami bacaan dengan lebih baik. Seperti salah satu siswanya mengungkapkan kegembiraannya ketika menggunakan aplikasi Bacakanbuku karena bisa belajar sambil bermain, ada suara dan gambar yang bikin saya ngerti ceritanya.
Kepala SLB Negeri Gedangan, Puguh Sudarminto, M.Pd., juga menyambut baik kegiatan program ini dan sangat mengapresiasi kehadiran Tim ITS.
Diungkapkan bahwa aplikasi Bacakanbuku ini bukan hanya inovatif, tapi juga sangat relevan dengan kebutuhan anak-anak. Kami berharap kerjasama ini bisa berlanjut dan membawa dampak nyata bagi masa depan siswa-siswi SLB harapnya.
Data survei awal menunjukkan bahwa sebelum kegiatan program ini dilaksanakan:
Hanya 60% siswa yang memiliki akses terhadap laptop dengan fitur asistif.
Buku digital yang ramah anak berkebutuhan khusus baru tersedia sekitar 20% dari total materi yang digunakan.
Rata-rata waktu penggunaan media teknologi oleh siswa hanya 45 menit per hari, jauh dari target ideal minimal 1 jam.
Dengan adanya aplikasi Bacakanbuku, diharapkan angka-angka tersebut meningkat secara signifikan, baik dari segi akses teknologi, kualitas konten, maupun durasi penggunaan media pembelajaran.
Tak hanya itu, kegiatan ini juga membuka peluang kerjasama antara SLB Negeri Gedangan dan ITS untuk mengembangkan program-program yang dibutuhkan oleh sekolah dalam memberikan fasilitas pembelajaran asistif hasil dari riset-riset dosen dan mahasiswa ITS. Serta, satu hal yang menjadi harapan sekolah adalah terbukanya kesempatan untuk magang dan pelatihan kerja bagi siswa SLB tingkat SMA di ITS, agar anak-anak SLB memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.
Program ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam bidang infrastruktur, industri, dan inovasi, juga pendidikan berkualitas, dan pengurangan kesenjangan. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung indikator kinerja utama perguruan tinggi seperti peningkatan pengalaman mahasiswa dan kontribusi dosen di luar kampus, serta Asta Cita.
Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, ITS berharap kegiatan ini dapat menjadi model pemberdayaan pendidikan inklusif yang berdampak nyata bagi Masyarakat, bahwa teknologi bisa menjadi alat pemberdayaan, bukan penghalang. Dan anak-anak SLB berhak mendapatkan yang terbaik, pungkas Kartika, panggilan akrabnya, saat menutup percakapan.(zk)