JATIMPOS.CO//SURABAYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Kali ini, penghargaan diberikan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) atas komitmen kuat Surabaya dalam menjaga, melestarikan, dan mengembangkan bahasa daerah melalui dunia pendidikan dan pelibatan masyarakat.

Penghargaan Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) tersebut diterima Pemkot Surabaya dalam puncak Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FTBIN) yang berlangsung di Gedung Garuda, Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia Kemendikdasmen, Senin (25/5/2026).

Penghargaan itu menjadi bagian dari program revitalisasi bahasa daerah yang dijalankan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen. Sepanjang tahun 2025, kementerian telah melaksanakan revitalisasi terhadap 105 bahasa dan dialek di 36 provinsi di Indonesia sebagai upaya menjaga keberlangsungan bahasa ibu di tengah arus modernisasi.

Mewakili Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, menyampaikan rasa bangga atas capaian tersebut. Menurutnya, penghargaan itu menjadi motivasi bagi Pemkot Surabaya untuk terus memperkuat berbagai program pelestarian bahasa Jawa di lingkungan sekolah.

“Pemkot Surabaya bangga dengan penghargaan ini. Penghargaan ini menjadi penyemangat kami agar terus berinovasi dan mengembangkan program ke depan sehingga lebih optimal dan menjangkau lebih luas lagi,” ujar Febrina.

Ia menjelaskan, upaya pelestarian bahasa Jawa di Surabaya telah berjalan selama dua tahun terakhir dan diperkuat melalui Peraturan Wali Kota Surabaya Nomor 17 Tahun 2025 tentang Mata Pelajaran Bahasa Jawa sebagai Muatan Lokal Wajib Kurikulum Merdeka di jenjang SD/MI hingga SMP/MTS sederajat.

Regulasi tersebut menjadi dasar penting dalam memperkuat pembelajaran bahasa Jawa sekaligus menjaga keberlangsungan budaya lokal di kalangan generasi muda.

Salah satu program unggulan yang mendapat perhatian adalah “Kemis Mlipis”, yakni gerakan penggunaan bahasa Jawa di sekolah setiap hari Kamis. Program ini diterapkan dalam komunikasi sehari-hari di lingkungan sekolah dan dikemas secara kreatif melalui berbagai konten interaktif di media sosial.

“Selama satu hari penuh, semua sekolah mengimplementasikan pembiasaan bahasa Jawa dengan berbagai kreativitasnya. Kami juga rutin melakukan sharing program inovatif Kemis Mlipis melalui media sosial,” katanya.

Selain itu, Pemkot Surabaya juga rutin menggelar Festival Tunas Bahasa Ibu yang melibatkan pelajar melalui berbagai lomba berbasis budaya Jawa, seperti nembang, ndongeng, maca geguritan, karawitan, pidato, hingga menulis aksara Jawa.

Melalui berbagai program tersebut, Pemkot Surabaya berharap generasi muda semakin mencintai bahasa dan budaya daerah sebagai bagian dari identitas bangsa.(fred)