JATIMPOS.CO//SURABAYA - Dukungan terhadap penguatan program Kampung Pancasila di Kota Surabaya terus mengalir. Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur menilai program yang digagas Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi ini memiliki potensi besar tidak hanya sebagai simbol kebersamaan, tetapi juga sebagai sistem perlindungan nyata bagi anak-anak.

Pengurus LPA Jatim, Isa Ansori, menegaskan bahwa Kampung Pancasila harus berkembang menjadi sistem sosial yang hidup dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

“Kampung adalah ruang hidup anak yang sesungguhnya. Di sanalah mereka tumbuh, berinteraksi, dan membentuk masa depan. Namun, agar Kampung Pancasila tidak berhenti sebagai semangat, ia membutuhkan orkestrasi yang jelas,” ujar Isa, Kamis (26/3/2026).

Ia menambahkan, perlindungan anak tidak cukup jika hanya bertumpu pada kebijakan pemerintah semata. Keterlibatan warga menjadi kunci penting agar program tersebut benar-benar menyentuh realitas di lapangan.

Sebagai langkah strategis, Isa mengusulkan pembentukan gugus tugas perlindungan anak di tingkat rukun tetangga (RT) yang disebut Sistem Perlindungan Anak Tingkat RT atau SPARTA.

“Gugus tugas ini bukan sekadar forum. Mereka harus menjadi mata dan telinga pemerintah di level paling dekat dengan kehidupan anak. Berbasis kampung, mereka bekerja dengan pendekatan sederhana namun berdampak, mendeteksi persoalan anak secara dini, memetakan kondisi keluarga dan lingkungan, serta menghubungkan persoalan dengan solusi melalui perangkat daerah,” paparnya.

Menurutnya, pendekatan tersebut mampu menjembatani kesenjangan antara kebijakan dan kondisi nyata di masyarakat, sekaligus memastikan setiap anak mendapatkan perlindungan yang setara.

Diketahui, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa Kampung Pancasila menjadi program prioritas pasca Idulfitri 1447 Hijriah.

“InsyaAllah program prioritas adalah Kampung Pancasila. Program ini meneruskan semangat di bulan Ramadan dan meningkatkan silaturahmi di bulan Syawal,” kata Eri usai halal bihalal di lingkungan Pemkot Surabaya (25/3/2026).

 “Kami akan turun maksimal kepada seluruh warga untuk saling menguatkan dan mengingatkan. Nilai-nilai Ramadan dan Syawal, seperti saling memaafkan dan mempererat persaudaraan, harus nyata di lingkungan RW dan kampung,” ujarnya.

Sebagai langkah awal, Pemkot Surabaya menyiapkan dua wilayah percontohan, yakni Kecamatan Genteng dan Wonokromo. Model tersebut akan menjadi acuan sebelum diterapkan secara luas.

“InsyaAllah, kami mulai dengan dua contoh di Kecamatan Genteng dan Wonokromo. Harapannya, dalam satu hingga dua minggu, seluruh RW di Surabaya sudah mulai menjalankan konsep Kampung Pancasila,” pungkasnya.(fred)