JATIMPOS.CO/SURABAYA — Wakil Ketua Komisi D DPRD Jawa Timur, Khusnul Arif, meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim tetap menjaga kesiapsiagaan menjelang puncak arus balik Lebaran 2026.
Ia menegaskan, keberhasilan pengelolaan arus mudik belum menjadi indikator akhir, karena tantangan utama justru berada pada fase kepulangan pemudik.
“Pekerjaan ini belum tuntas. Tantangan arus balik masih ada, dan posko harus dipastikan tetap siaga penuh sampai 31 Maret,” ujar Khusnul Arif, Rabu (25/3/2026).
Menurut legislator yang akrab disapa Mas Pipin ini, konsistensi pelaksanaan di lapangan menjadi kunci utama mengingat tingginya beban mobilitas di Jawa Timur.
Berdasarkan data, Jatim merupakan daerah tujuan terbesar kedua secara nasional dengan hampir 25 juta pemudik, sekaligus daerah asal terbesar ketiga dengan 15,61 juta orang.
“Dengan load pergerakan hampir 25 juta orang masuk ke Jatim, koordinasi lintas sektor adalah harga mati. Tinggal konsistensi eksekusi di lapangan yang harus dijaga selama arus balik,” katanya.
Ia juga menyoroti potensi kepadatan di jalur penyeberangan Ketapang–Gilimanuk yang sebelumnya sempat mengalami lonjakan kendaraan akibat beririsan dengan momentum Hari Raya Nyepi di Bali. Penutupan sementara jalur penyeberangan saat Nyepi menyebabkan akumulasi kendaraan dalam waktu bersamaan.
Untuk itu, ia mendorong Dinas Perhubungan Jatim terus memperkuat koordinasi dengan otoritas penyeberangan agar antrean kendaraan dapat segera terurai.
“Kami prihatin atas kemacetan di sana. Kepada pemudik, mohon bersabar dan manfaatkan rest area untuk relaksasi. Jangan memaksakan diri,” ujarnya.
Di sisi lain, Komisi D DPRD Jatim disebut telah melakukan pengawasan intensif melalui rapat kerja hingga inspeksi lapangan di sejumlah titik strategis. Pantauan dilakukan di Terminal Tipe B Maospati di Magetan hingga Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bina Marga di Kediri, Jember, dan Situbondo.
Pengawasan tersebut mencakup kesiapan infrastruktur, alat berat, serta personel di jalur-jalur krusial guna memastikan respons cepat terhadap potensi gangguan, termasuk bencana akibat cuaca ekstrem.
Khusnul Arif juga menyinggung sejumlah faktor pendukung kelancaran mudik, seperti implementasi program Zero Hole yang memastikan perbaikan jalan tuntas sebelum H-7 Lebaran. Selain itu, aspek keselamatan diperkuat melalui ramp check kendaraan angkutan umum serta tes urine bagi pengemudi.
Namun, ia menyampaikan apresiasi terhadap kelancaran arus mudik yang dinilai berjalan optimal berkat koordinasi lintas sektor, mulai dari Dinas Perhubungan, Dinas PU Bina Marga, hingga kepolisian.
“Kami apresiasi karena performanya memang optimal. Tapi jangan sampai kita terlena dengan kelancaran di awal,” pungkasnya. (zen)
