JATIMPOS.CO/MALANG – Kebakaran yang melanda Instalasi Gizi RSUD Dr. Saiful Anwar (RSSA) Malang membuat penyediaan makanan bagi pasien untuk sementara dialihkan kepada pihak katering. Kondisi tersebut mendapat perhatian Wakil Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Hikmah Bafaqih, terutama terkait pemenuhan standar gizi dan kesehatan pasien.
Hikmah meminta manajemen RSSA memastikan makanan yang disediakan pihak ketiga tetap memenuhi standar makanan bagi pasien rumah sakit selama dapur gizi belum dapat difungsikan kembali.
"Karena memakai katering dari pihak ketiga, harus sangat hati-hati. Standar makanan rumah sakit dan luar rumah sakit itu berbeda, misalnya pada kandungan sodium. Selain itu, dari aspek harga juga harus disesuaikan dengan coverage BPJS," tegas Hikmah di Gedung DPRD Jatim, Kamis (10/9/2026).
Menurut Hikmah, terganggunya fungsi Instalasi Gizi menjadi salah satu dampak penting dari kebakaran tersebut. Pasalnya, kebutuhan makanan merupakan bagian dari pelayanan dasar bagi pasien yang sedang menjalani perawatan.
"Dampak yang paling terasa memang aspek permakanan, sehingga terpaksa sebagian besar dikateringkan sambil menunggu dapur difungsikan kembali sebagaimana mestinya. Ada ruang rawat anak yang sempat terdampak, tetapi segera dialihkan. Yang paling urgent saat ini adalah dapur, karena Instalasi Gizi menyangkut kebutuhan dasar pasien," terangnya.
Berdasarkan keterangan resmi manajemen RSSA, kebakaran di Dapur Gizi pertama kali terdeteksi sekitar pukul 14.50 WIB. Rumah sakit kemudian mengaktifkan sistem tanggap darurat atau code red.
Sebanyak tujuh unit mobil Pemadam Kebakaran Kota Malang dikerahkan untuk menangani kebakaran. Api berhasil dipadamkan sepenuhnya sekitar pukul 15.40 WIB.
Manajemen RSSA menyatakan tidak ada korban jiwa maupun luka dalam kejadian tersebut. Area yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 300 meter persegi dengan estimasi kerugian sekitar Rp900 juta.
Kepulan asap sempat berdampak pada area ruang rawat inap khusus anak. Pasien di ruangan tersebut kemudian dipindahkan ke tempat yang lebih aman. Sementara pasien di ruang rawat inap khusus ibu atau wanita telah kembali ke ruang perawatan semula.
Selama proses pemulihan Dapur Gizi, RSSA bekerja sama dengan pihak katering untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pasien. Manajemen juga memastikan pelayanan IGD, rawat jalan dan rawat inap tetap berjalan normal.
Terkait penyebab kebakaran, Hikmah mengatakan proses investigasi masih berlangsung. Ia menyebut hasil koordinasi dengan Direktur RSSA belum menemukan penyebab pasti kebakaran.
"Sampai hari ini, hasil koordinasi kami dengan Direktur RSSA menunjukkan penyebab pastinya belum ditemukan. Namun kerusakannya berada di Instalasi Gizi, meliputi dapur dan ketersediaan barang habis pakai. Estimasi kerugian sekitar Rp900 juta. Beruntung tidak ada korban jiwa maupun luka-luka," ungkap Hikmah.
Selain persoalan pelayanan makanan pasien, Hikmah meminta evaluasi terhadap sistem keselamatan di fasilitas pelayanan publik dilakukan setelah investigasi kebakaran selesai.
"Sekalipun belum terungkap penyebabnya, patut diduga mitigasi risiko kebakaran kurang diperhatikan. Ke depan, tempat layanan publik seperti ini sangat penting untuk betul-betul menjaga dan memitigasi risiko dari bencana apa pun," tegasnya.
"Ini public space dan layanannya adalah layanan dasar kesehatan. Ada pasien di situ, jadi penanganan mitigasi risikonya memang harus ekstra," tambah legislator dari Daerah Pemilihan Malang Raya tersebut.
Untuk pengawasan terhadap kondisi RSSA, Komisi E DPRD Jatim memilih melakukan koordinasi dengan manajemen melalui sambungan telepon agar tidak mengganggu proses penanganan di lokasi.
"Kami berkoordinasi by phone dengan pihak manajemen. Yang pasti semua sudah dikoordinasikan dan dapat ditangani dengan cepat," pungkas Hikmah. (zen)