JATIMPOS.CO/SUMENEP - Pedagang pasar anom mengeluhkan penurunan omzet yang dialami sejak pandemi Covid-19. Menurunya pendapatan karena sepinya pasar dari para pembeli terlebih pada masa PPKM darurat.
Salah seorang pengepul bawang merah yang memasok barang dagangannya ke Pasar Anom mengatakan sejak pandemi ada, barang dagangan miliknya alami penurunan penjualan. Namun ia mengaku masih sanggup bertahan.
"Dampak yang paling terasa saat ini sejak petugas Covid-19 mengumumkan bahwa dari tanggal 11 sampai 20 Juli 2021, akan ada petugas yang melakukan sweeping tes swab dan vaksinasi di pasar," ujar Mohammad Novel, Rabu (14/07/20211).
Menurutnya, upaya pemerintah dalam hal menekan penyebaran Covid-19 demi keselamatan masyarakat tidak menjadi masalah. Namun dengan adanya kegiatan tersebut di pasar tidak menutup kemungkinan pembeli bisa sedikit bahkan tidak ada.
"Hari ini adalah hari pertama dari pengumuman itu. Kondisi pasar sekarang sepi. Otomatis pendapatan saya menurun 80 persen, ditambah lagi rugi jika dagangan saya menyusut," ungkapnya.
Belum lagi, kata Novel, dirinya harus tetap bertahan supaya bisa terus berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidup anak dan istrinya. Belum lagi beban angsuran bulanan yang harus dibayar.
"Saya rasa ini berdampak juga pada pedagang lain bukan saya saja. Kami harap pemerintah segera mempercepat kegiatan tes swab atau vaksinasi di pasar. Kalau tetap berlarut maka pembeli semakin tidak ada yang mau ke pasar," pintanya
Hal yang sama juga dialami oleh salah satu pedagang di Pasar Anom, bahwa dagangannya nyaris tidak laku akibat pembeli tidak ada yang datang ke pasar.
"Sejak tadi pagi saya di pasar tapi tidak ada pembeli yang datang," ujar pedagang rempah-rempah yang enggan disebutkan namanya.
Lanjut, biasanya pukul 05.00 WIB pagi ia sudah menyiapkan lapak untuk memulai jualannya. Karena pasar sepi pengunjung maka ia lebih memilih tutup lapak lebih awal.
"Tadi saya tutup pukul 09.00 WIB. Percuma juga kalau bertahan disana kalau tidak ada pembeli," Tandasnya. (dam)