JATIMPOS.CO//PAMEKASAN – Sebanyak 27 pasien cuci darah (hemodialisis/HD) di Kabupaten Pamekasan menghadapi kendala serius terkait keterbatasan jadwal dan fasilitas layanan HD di RSUD Smart Pamekasan. Menanggapi hal ini, Bupati Pamekasan, KH. Kholilurrahman, menyatakan bahwa pihaknya telah mengambil langkah konkret untuk memastikan para pasien tetap mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan.
“Kami sudah mencari solusi. Di tiga kabupaten di sekitar kita, sampai saat ini layanan HD hanya sampai sif 2, belum sampai sif 3. Saya sudah berkomunikasi dengan kabupaten tetangga untuk meminta agar layanan ditingkatkan menjadi tiga sif. Harapannya, 27 pasien dari Pamekasan bisa tertampung,” terang KH. Kholilurrahman, Jumat (17/5/2025).
Bupati Kholil juga mengungkapkan bahwa ada beberapa pengusaha yang bersedia menanggung biaya cuci darah untuk pasien di luar skema BPJS Kesehatan, namun terbentur oleh aturan yang berlaku.
“Ada pengusaha yang siap menanggung biaya cuci darah secara umum, tidak melalui BPJS. Tapi aturan tidak memungkinkan. Karena itu, kami terus berupaya. Sambil berdoa, kami dari Pemerintah Kabupaten Pamekasan akan berusaha semaksimal mungkin. Kalau persoalan ini tidak segera ditangani, para pasien hanya bisa pasrah menunggu waktu. Itu sangat menyedihkan,” ujarnya.
Untuk solusi jangka panjang, KH. Kholil juga menyinggung rencana pembangunan ruang HD tambahan dan pengadaan alat baru di RSUD Smart Pamekasan. Namun, tantangan teknis menjadi kendala utama.
“Menambah sif tidak bisa lagi karena sudah mencapai sif 3. Kalau ditambah sif 4, artinya mesin harus bekerja 24 jam penuh. Itu sangat berat. Kualitas hasil cuci darah akan menurun, dan usia pakai mesin juga akan terganggu,” jelasnya.
Ia memastikan bahwa pengalaman ini akan menjadi dasar bagi Pemkab Pamekasan dalam menyusun kebijakan layanan kesehatan di masa mendatang.
“Insya Allah, tahun 2026 bisa kita anggarkan pembelian mesin baru untuk menambah kapasitas pelayanan,” pungkasnya. (did).