JATIMPOS.CO/BONDOWOSO. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kademangan, Kecamatan Bondowoso mengundang seluruh koordinator sekolah untuk menghimpun berbagai masukan terkait pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Pertemuan tersebut menjadi ruang komunikasi terbuka untuk memastikan distribusi dan kualitas menu semakin sesuai dengan kebutuhan anak-anak di sekolah.
Dalam pertemuan tersebut, koordinator sekolah jenjang TK dan PAUD menyampaikan bahwa sebagian anak masih belum terbiasa dengan cita rasa menu MBG yang diolah tanpa penambah rasa. Mereka menilai proses adaptasi ini membutuhkan waktu, terutama pada siswa usia dini.
" Sebagian anak masih kaget dengan rasanya. Mereka butuh waktu untuk terbiasa karena makanan MBG disajikan tanpa MSG," ujar salah satu koordinator sekolah PAUD yang hadir.
Kebiasaan makan sayur juga menjadi perhatian. Menurut para koordinator, anak-anak pada jenjang PAUD, TK, hingga SD kelas kecil masih perlu dibiasakan mengonsumsi sayuran dalam menu harian.
" Sayur itu tantangan tersendiri, tapi kami yakin bisa dibentuk lewat pembiasaan," tambahnya.
Merespons masukan tersebut, Koordinator Lapangan SPPG Kademangan, Firmansyah Putra Sande, memastikan pihaknya segera melakukan penyesuaian.
" Kami sudah komunikasikan ke ahli gizi agar berkoordinasi dengan juru masak untuk mencari olahan yang lebih menarik dan inovatif tanpa mengurangi nilai gizi," Katanya, kamis (20/11/2025).
Firmansyah menyebut bahwa seluruh pihak memahami bahwa perubahan kebiasaan makan pada anak tidak bisa berlangsung instan.
" Kami di dapur berupaya membuat tampilan makanan lebih menarik, sementara guru di sekolah mengedukasi anak tentang pentingnya makanan bergizi," katanya.
Ia menegaskan bahwa standar kesehatan tetap menjadi prioritas. Menu tetap tanpa MSG, dan sayur harus ada karena itu bagian dari pemenuhan gizi bagi anak-anak.
Selain membahas menu, SPPG juga menjelaskan prosedur mitigasi risiko keamanan pangan yang diterapkan di dapur produksi. Salah satunya melalui sterilisasi ompreng yang digunakan untuk distribusi makanan.
" Sterilisasi ini wajib supaya wadah tetap higienis," jelas Firmansyah.
Penggunaan filter air bersertifikasi dan pemasangan AC di ruang pemorsian juga dilakukan untuk memastikan keamanan pangan. Air harus layak dan suhu ruangan harus terkendali agar makanan tetap aman.
SPPG Kademangan juga melakukan rapid test terhadap makanan dan peralatan secara berkala. Di sisi lain, sampel makanan harian disiapkan sebagai upaya dokumentasi apabila diperlukan dalam proses investigasi. (Eko)